Cashless society. Literally.

“Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu” – SID

Bukan, tulisan ini bukan membahas emoney dan uang atau transaksi digital. Tulisan ini adalah kegelisah saya terhadap data yang dirilis BPS tentang akan anak-anak jalanan dan masyarakat miskin yang literally cashless (benar-benar tidak punya uang).

Data bilang ekonomi tumbuh dan penduduk miskin menurun. Profil kemiskinan di Indonesia yang dirilis oleh BPS pada Januari 2018 kemarin menyebutkan jumlah penduduk miskin di Indonesia ada 26,58 juta orang (10,12%) pada bulan september 2017, menurun dari bulan maret 2017 yang jumlahnya ada 27,77 juta orang.

Sumber: https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/01/02/1413/persentase-penduduk-miskin-september-2017-mencapai-10-12-persen.html

Namun, ada banyak pertanyaan atas data tersebut sebenarnya.

Pertama, standar angka garis kemiskinan itu terlalu rendah. Range angka garis kemiskinan di Indonesia itu diantara 280-600 ribu rupiah (beda-beda tiap provinsi). Itu berarti penduduk indonesia baru dikatakan miskin bila pendapatan per kapita per bulan di bawah 200-600 ribu rupiah.

Kedua, walaupun pakai angka garis kemiskinan itu yang dipakai penduduk miskin masih terlalu banyak jumlahnya. Fokus pada 26 juta-nya, bukan pada penurunan 1,9 juta-nya.

Ketiga, selain data kemiskinan itu, ada juga yang namanya indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan (serius ini ada, googling aja). Indeks ini memberikan gambaran tentang jarak antara pengeluaran penduduk miskin dan garis kemiskinan. Indeks ini datanya semakin tinggi tahun ke tahun, artinya masalah kemiskinan semakin sulit diatasi apalagi dihilangkan.

Orang bilang lingkaran setannya begini: Miskin itu tidak punya uang. Tidak punya uang karena tidak punya kerja. Tidak punya kerja karena tidak punya skill. Tidak punya skill karena tidak berpendidikan. Tidak berpendidikan karena tidak punya uang. Dan Muter lagi.

Ini bagaimana caranya harus bisa di-intercept.

Untuk soal ini, negara dan pemerintah memang bertanggung jawab, tapi ini masalah bersama. Kalau negara tak sanggup menanggung biarlah kami bantu. Fasilitasi agar bisa bantu gimana bisa kasih pendidikan gratis, biar bisa kasih kerjaan untuk pekerjaan yang skill minim, jangan pula dipersulit. Mau usaha susah. #curcol Hahaha..

Saya tutup dengan komentar terhadap lirik langgam “Sunset di Tanah Anarki dari Superman is Dead” yang saya jadikan quote pada awal tulisan. Untuk empati saya sepakat terhadap lirik tersebut. Tapi bila untuk berubah, tidak perlu lah potong sayap, ajak terbang saja. Biar bisa sama-sama tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *