Expecto Patronum. 20 Tahun Harry Potter dan Pengaruhnya.

Expecto Patronum.

Deskripsi: Mantra yang memunculkan sebuah inkarnasi dari perasaan terdalam kastor yang positif, seperti kebahagiaan atau harapan, yang dikenal sebagai Patronus.

26 Juni 2017 kemarin adalah tepat tahun ke-20 semenjak “Harry Potter and the Philosopher’s Stone” di Inggris pertama kali diterbitkan. Orang-orang pun ikut ramai membicarakannya di media sosial dengan tagar #20YearsHarryPotter. Saya sendiri sebenarnya termasuk pembaca setia Harry Potter (HP). Setiap serinya saya baca berkali-kali. Ketika liburan sekolah saya baca. Ketika terbit yang baru saya baca ulang lagi dari seri sebelumnya. Mungkin lebih dari 5 kali, mungkin lebih dari 10 kali, pokoknya berulang-ulang saya bacanya.

Lucunya, novel HP yang pertama saya baca bukanlah novel yang pertama, bukan “Harry Potter dan Batu Bertuah” (judul versi Indonesia), melainkan seri keempatnya yaitu “Harry Potter dan Piala Api”. Cerita belinya pun engga sengaja.

Waktu itu tahun 2001 atau 2002. Saya masih SMP di SMP 138 Jakarta. Lupa persisnya kelas 1 atau kelas 2 SMP. Teman saya Lanang (nama panggilan, nama aslinya dirahasiakan), ceritanya dia ngembat novel  HP ke-4 punya sodaranya di rumah. Entah karena lagi iseng atau berantem atau lagi butuh duit. Dia ambil novel sodaranya itu dan mau dijualnya. Dia promosi bawah bahwa novel itu bagus banget, terkenal di luar negeri, dan banyak bumbu lain-nya. Waktu itu kami anak-anak SMP belum terlalu engeh, film-nya yang pertama pun belum keluar waktu itu. Kalau tidak salah beberapa bulan setelah itu baru muncul di bioskop.

Harry Potter Series

2-3 hari beruntut dia bawa novel itu ke sekolah. Kalau lagi jam kosong dikeluarin sambil pura-pura dibacanya. Saya bilang pura-pura, karena seinget saya dia bukan tipe kutu buku, bacanya pun lompat-lompat, langsung ke chapter-chapter tertentu. Kalau ada yang nanyain, dia pormosi lagi, kocak bin aneh banget dah pokoknya. Akhirnya terkena dengan beragam rayuan jualan dia, dan kasian dibawa-bawa mulu berat -karena kalau ditinggal ketauan sodaranya- jadi saya dengan baik hati menjadi penadah barang curiannya. Pembenaran saya waktu itu adalah dia ini dari keluarga kaya, jadi paling sodara-nya bisa dengan mudah beli lagi, toh statusnya saya beli dari sodaranya. Hehehe..

Saya beli dengan harga 40-ribu, saya tawar jauh lebih rendah dari harga di gramed.

Namun emang dasar nasib barang curian. Beberapa tahun setelahnya, kalau engga salah ketika novel ke-6 keluar, saya pulang ke jakarta dan saya baca ulang HP lagi, lalu kebetulan ada teman adik saya yang pinjam novel ke-4 (yang saya beli dari Lanang). Dan seperti kewajaran dalam pinjam-meminjam buku lainnya, kita mesti siap hati kalau dia ga akan kembali. Dan benar saja, entah lupa, entah dihilang, entah dihak-milik, yang pasti novel itu tidak kembali. What comes around goes around.

Setelah baca novel keempatnya, saya pun membeli novel kedua dan ketiganya. Buku kesatu waktu itu saya engga beli, karena teman saya ada yang punya, jadi bisa pinjam saja. Maklum anak SMP waktu itu jajannya cuma 4-5 ribu perak, mesti nabung lama atau nunggu lebaran kalau mau dapet duit banyakan. Semenjak itu saya jadi pembaca setia, nunggu waktu terbit, kalau bisa baca paling duluan, dan juga mengkoleksi serinya.

**

Pengaruh Harry Potter

Antrian Penggemar Harry Potter di London

Gara-gara ramai di media sosial saya jadi baca-baca tentang social impact dari novel ini. Ternyata banyak sekali yang mengulasnya. Salah satu artikel yang menarik saya baca di The Guardian (klik di sini). Disebut dalam artikel tadi adanya Harry Potter membantu seorang anak dalam menanggulangi penyakit diseleksia yang anak tersebut alami. Diseleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis pada anak.

Dalam artikel lain di New York Times yang berjudul “Can ‘Harry Potter’ Change the World?” disebutkan bahwa novel yang mengangkat masalah sosial (seperti diskriminasi, berburuk sangka, dan hirarki sosial) ini dapat meningkatkan rasa toleransi. Bahkan disebutkan juga dapat meningkatkan rasa empati dan kemampuan sosial. Luar Biasa!

Kalau bagi saya pribadi sebenarnya pengaruhnya mungkin tidak seekstrim contoh-contoh di atas, atau mungkin ada yang signifikan cuma embedded dengan nilai-nilai dari sumber yang lain, jadi susah di-track unsur pembentuk pemikiran atau sifat dari mana sumber sebenernya. Pengaruh Harry Potter secara langsungnya ke saya ada positif dan ada negatifnya juga, beberapa diantaranya :

  1. Jadi lebih rajin nabung (baca pelit), karena ngumpulin duit buat beli novel. Kalau sebelumnya paling cuma beli komik, harganya relatif murah dibanding novel.
  2. Pernah mau masuk SMA yang ada asramanya. Kepikiran masuk Taruna Nusantara, sampai survei ke Magelang. Namun akhirnya (untungnya) tidak jadi.
  3. Jadi pernah baca fanfic HP yang agak-agak porno karena engga sabar nunggu dan saya kira itu bocoran seri selanjutnya wkwkw..
  4. Jadi ngikutin novel JK Rowling yang lain.
  5. Jadi mulai berani beli dan baca novel/buku import yang berbahasa inggris. Ternyata memang lebih bagus baca bahasa aslinya daripada terjemahan.

Paling positifnya sepertinya ya tentu saja meningkatkan semangat membaca dan literasi.

Meski demikian buat saya pribadi HP bukan cuma jadi teman bacaan tapi jadi teman tumbuh besar. Hal ini juga dikarenakan dari novel ke novel karakter-karakternya juga makin dewasa. Saya baca novel ke-1-4 ketika SMP, tiga tokoh utamanya juga usia SMP-SMA. Novel ke-5 baru keluar saat SMA, tokoh novelnya juga usia SMA. Novel ke-6 dan ke-7 saya baca ketika kuliah, usia karakternya juga SMA-Kuliah.

Dihitung-hitung mungkin sekitar 10 tahun saya baca Harry Potter ini, jadi ya bagi saya “Harry Potter” adalah teman tumbuh dewasa.

1 comment / Add your comment below

  1. I love Harry Potter so much, kalo nonton filmnya sampai berkali kali di laptop, tapi sampai skrg baru punya novelnya yang nomor 2 dan 3 ((sebenarnya udah baca semua novelnya, tapi hasil pinjem teman dan perpustakaan)

Leave a Reply