Expecto Patronum. 20 Tahun Harry Potter dan Pengaruhnya.

Expecto Patronum.

Deskripsi: Mantra yang memunculkan sebuah inkarnasi dari perasaan terdalam kastor yang positif, seperti kebahagiaan atau harapan, yang dikenal sebagai Patronus.

26 Juni 2017 kemarin adalah tepat tahun ke-20 semenjak “Harry Potter and the Philosopher’s Stone” di Inggris pertama kali diterbitkan. Orang-orang pun ikut ramai membicarakannya di media sosial dengan tagar #20YearsHarryPotter. Saya sendiri sebenarnya termasuk pembaca setia Harry Potter (HP). Setiap serinya saya baca berkali-kali. Ketika liburan sekolah saya baca. Ketika terbit yang baru saya baca ulang lagi dari seri sebelumnya. Mungkin lebih dari 5 kali, mungkin lebih dari 10 kali, pokoknya berulang-ulang saya bacanya.

Lucunya, novel HP yang pertama saya baca bukanlah novel yang pertama, bukan “Harry Potter dan Batu Bertuah” (judul versi Indonesia), melainkan seri keempatnya yaitu “Harry Potter dan Piala Api”. Cerita belinya pun engga sengaja.

Waktu itu tahun 2001 atau 2002. Saya masih SMP di SMP 138 Jakarta. Lupa persisnya kelas 1 atau kelas 2 SMP. Teman saya Lanang (nama panggilan, nama aslinya dirahasiakan), Read More

Tentang Pancasila

Bahwa Pancasila adalah overlapping consensus, sebuah janji dan perjanjian, sebuah kompromi ideologis dari para Bapak Bangsa pada sidang BPUPKI yang bersedia merelakan sebagian dari cita-cita pribadi/golongan mereka untuk menciptakan satu negara dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak boleh lupa.

Namun juga tidak boleh lupa bahwa Pancasila di bawah Orde Baru pernah jadi alat dan legitimasi untuk menghantam apapun yang mengancam monopoli kekuasaannya. Atas nama Pancasila dihantam Komunisme, “Islam politik”, serta segala usaha membendung kesewenangan Orde Baru dengan mengacu pada demokrasi dan HAM. Dengan kekecualian komunisme, tindakan itu salah.

Read More

The Startup Game

Ceritanya pertengahan maret dua bulan yang lalu saya pergi ke Sydney. Sebagai representasi Nuesto Tech, saya ikut short-course yang diselenggarakan oleh Australia Awards dan Queensland University of Technology yang mengulas tentang per-startup-an. Course-nya sendiri sebenarnya di tiga kota: Sydney, Adelaide dan Brisbane. Hanya untuk kepentingan cerita ini saya cerita Sidney-nya saja, karena memang bukan mau cerita tentang Course-nya. Maybe next time cerita tentang course-nya.

Sydney & Board Game.

Sebelum berangkat saya tahu dari beberapa kawan bahwa Sydney itu surganya Tabletop Game (istilah untuk permainan yang dimainkan di atas meja, seperti board game, card game, dice game, dsb). Cafe-cafe board game di sana hidup dan ramai. Katanya juga industri game publisher juga bersemi di sana, dan banyak game-game baru yang mungkin sulit dicari ada di sana. Jadilah ada juga teman yang nitip beliin. Inginnya buka jasa titip sih, tapi apa daya koper terbatas. Read More

The Third Wave: An Entrepreneur’s Vision of the Future

Ceritanya seminggu yang lalu saya baru saja “membaca” (via Blinkist)  buku Steve Case yang berjudul The Third Wave: An Entrepreneur’s Vision of the Future. Bagi yang belum tahu, Steve Case adalah seorang Web dan Internet Pionir, dia salah seorang arsitek gelombang internet pertama. Dia mendirikan AOL tahun 80-an. Dia juga adalah CEO dari Revolution, sebuah perusahaan investasi di Amerika Serikat.

Buku ini menurut saya sangat menarik.  Steve memprediksi saat ini kita tengah memasuki satu babak baru dari sebuah revolusi teknologi informasi. Babak baru yang dia sebut sebagai gelombang ketiga (third wave).

Gelombang pertama terjadi pada periode tahun 1985-1999. Pada masa itu perusahaan-perusahaan seperti IBM, Microsoft, Apple dan AOL membuat pondasi dan infrastruktur untuk pengguna internet. Mereka membuat hardware, software dan networks sehingga internet bisa tersedia dalam kehidupan sehari-hari. Read More