Siang Hari di Perempatan Lampu Merah

Siang hari di perempatan lampu merah
Anak-anak putus sekolah berdendang sengau
Serak suara mereka
Mencari tangan-tangan baik yang mau membagi receh
Yang nyatanya harus dipilah juga untuk jatah preman dan makan siang

Sementara ayah-ayah mereka tersungkur di sudut gang pasar
Masih tercium sisa alkohol ramuan sendiri, bekas tadi malam
Atau sebagaian yang lain sedang meringkuk dalam bui
memelas kepada sipir “saya tidak bersalah pak, keadaan yang memaksa”

Sementara ibu-ibu mereka tidur siang
Kelelahan menjadi penghangat bagi dinginnya malam,
Menjadi selimut bagi pejabat-pejabat busuk tak bermoral

Sementara pejabat busuk tak bermoral itu
Sedang ceramah di sebuah hotel mewah
Ceramah kepada orang-orang kaya negeri ini
Berbicara lancar tentang kemiskinan dan pendidikan
“wajib belajar bagi seluruh anak negeri ini” teriaknya lantang
Kemudian memohon dengan senyum munafik
“untuk itu kami butuh bantuan dari bapak-bapak sekalian”

Meraka menjadi termarjinalkan
Meraka menjadi terasing
Mereka menjadi wajar ada di negeri ini
Mereka menjadi wajib ada di negeri ini
karena siapa, salah siapa..
**
Masih siang
Masih di perempatan lampu merah
Masih dengan anak-anak yang bernyanyi sengau
Jakarta 29 agustus 2009

#9

Satu langkah
dalam keheningan
terdengar keras tapi penuh keraguan
seakan nyata namun sekedar imaji
meninggalkan jejak yang bahkan tak dapat diindra

Satu langkah
dalam kebimbangan
tanpa arah tanpa tujuan
apakah berhenti ataukah berbelok
menerobos masuk atau malah meninggalkan keramaian

Satu langkah
dalam kelelahan
terseok di bukit pasir
bertumpu hanya pada gontai
ingin berdiri malah jatuh menunggu mati

Aku hanyalah satu langkah
Satu langkah yang lelah, bimbang lagi sendiri

Satu langkah…
yang teredam dalam barisan asma-Nya
yang tenggelam dalam samudra nikmat-Nya
tak berkesan…
tak berarti…
tak bermakna…

namun…
juga dengan satu langkah…
satu langkah yang tegap
yang merindukan-Nya dalam satu pertemuan yang agung
satu langkah dalam pengharapan dengan kepastian
menunggu hikmat purnama ke sembilan

**
Bandung. Menjelang ramadadhan 1429 H.