STP, Nawacita dan Bank

Gara-gara diskusi di salah satu grup WA tentang STP (Science Techno Park) saya jadi baca-baca Nawacita (9 agenda prioritas 2014-2019) pemerintah, khususnya Nawacita ke-6. Gara-gara menarik saya jadi baca semua Nawacita-nya.

Nawacita ke-6

Ternyata tersebut beberapa Bank yang akan dibangun, seperti Bank Petani dan UMKM (Nawacita 7), dan Bank Pembangunan dan Infrastruktur (Nawacita 6).

Jadi inget, beberapa tahun yang lalu saya sempat ke Beijing. Di jalan sempat lihat beberapa nama bank yang unik seperti Bank Agriculture, Bank Infrastructure, dsb. Saya bilang unik karena spesifik positioning-nya, dugaan saya pastilah target nasabahnya tentunya seperti yang tercantum pada namanya. Engga mungkin juga kan namanya tani tapi nasabahnya pilot.

Bayangan saya pasti petani nanti mudah ini untuk mengajukan kredit, karena industrinya memang spesifik ‘mainan’nya bank tersebut. Keren ini. Kekaguman ini saya ceritain ke kenalan saya orang lokal di sana waktu itu. Buat dia kekaguman saya aneh, karena buat dia bank-bank itu normal.

Ya mudah-mudahan pemerintah sekarang bisa beneran bangun itu bank-bank yang direncanakan. Masih ada 2-3 tahun lagi. Masih bisalah. Daripada ngurusin yang sepele, mending bikin bank, legacy-nya pasti bisa dipakai terus-menerus.

Tentang Pancasila

Bahwa Pancasila adalah overlapping consensus, sebuah janji dan perjanjian, sebuah kompromi ideologis dari para Bapak Bangsa pada sidang BPUPKI yang bersedia merelakan sebagian dari cita-cita pribadi/golongan mereka untuk menciptakan satu negara dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak boleh lupa.

Namun juga tidak boleh lupa bahwa Pancasila di bawah Orde Baru pernah jadi alat dan legitimasi untuk menghantam apapun yang mengancam monopoli kekuasaannya. Atas nama Pancasila dihantam Komunisme, “Islam politik”, serta segala usaha membendung kesewenangan Orde Baru dengan mengacu pada demokrasi dan HAM. Dengan kekecualian komunisme, tindakan itu salah.

Read More

Dialog Hari Buruh Hari Pendidikan

Setelah Hari Buruh (1 Mei), lalu Hari Pendidikan (2 Mei). Ada apa ini? Mungkin cita-citanya agar buruh itu menjadi terdidik. atau yang terdidik itu menjadi buruh.[1]

Mengenai yang kedua, ada diskusi menarik tadi siang. Seorang kawan bicara menyalahkan para sarjana-sarjana terdidik yang menjadi “buruh” perusahaan asing. Dia bilang percuma saja, ga nasionalis, mentalnya pragmatis.

Lalu saya tanya seharusnya bagaimana? Dia bilang lebih baik merintis usaha. Bisnis katanya. Buka lapangan kerja katanya.

Saya tanya, lalu apa gunanya kuliah kalau ilmunya ga dipakai? Dia bilang itu membentuk pola pikir saja.

Saya bilang pola pikir mahal ya ratusan juta bayarnya. Dia bilang ya memang, lebih baik buka kedai jus buah, lebih baik buka booth ayam goreng, dengan pola pikir yang baik jadi bisa berdikari dan bisa memperkerjakan orang.

Saya bilang, sayang ya pola pikir yang mahal cuma jadinya begitu. Dia balik tanya sayang bagaimana?

Saya bilang sayang kalau pola pikir orang terdidik bikinnya bisnis rakyat kecil. Bisa kaya tapi menyingkirkan bisnis rakyat. Ayam gorengnya laku tapi mbok-mbok ayam goreng sebelah hancur dagangannya. Lelenya laku, tapi lele pinggir jalan pada tutup semua.

__

Jadi lebih baik mana pragmatis mikirin diri sendiri apa menghancurkan mata pencaharian rakyat kecil?

**

[1] Hari Buruh Internasional ditetapkan 1 Mei semenjak abad 19 akibat dari perlawanan kelas pekerja pada masa perkembangan awal kapitalisme industri. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan 2 Mei untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara.