Hari 20 Bulan 11 Tahun 2017

Langit biru, tanah merah.

Waktu berjalan, usia berhenti.

Mata bahas, tenggorokan mengering.

Tuhan berkuasa, aku tidak.

Berpisah, nanti juga bertemu. Insyaallah.

**

Hari ini, 20 November 2017, bapak meninggal. Yang paling berat bukan memandikannya, bukan mengangkat mayatnya, bukan menurunkannya ke liang kubur, bukan mengadzaninya. Tapi mengetahui itu adalah interaksi dan bentuk bakti terakhir yang bisa kubuat.

Mudah-mudahan aku sholeh, biar tidak terputus amalnya. Mudah-mudah nanti bisa bertemu. Mudah-mudahan di surga.

Kemenangan Indonesia

Dimana Sang Saka?
Malah warna warni yang berkibar.
Kemana persatuan?
Malah perbedaan yang diangkat.

Saling serang, saling tikam.
Padahal katanya kita semua bersaudara.
Beri janji, tanpa bukti.
Padahal katanya kerja nyata.

Ada yang sudah deadline,
Jadi bilangnya “kalau bukan sekarang kapan lagi”.
Ada yang merasa bersih,
Tapi sebenarnya hanya sok suci.

Ada yang punya televisi sinetron,
Malah pindah karena ga diajak jadi calon.
Ada juga yang merasa hebat dapat mandat,
Awas Bung.. Hati-hati kualat..

Ingat selalu kawan..
Janji melahirkan harapan.

Meski kami rakyat sudah biasa kecewa,
Meski dikhianati sakit memang,
Tapi aku rapopo..
Kami tidak mau berhenti berharap..
Kami besok tetap mau memilihmu..

Namun ingatlah kawan..
Bukan untuk kemenangan partaimu.
Bukan untuk kemenangan capresmu.
Tapi untuk kemenangan rakyat.
Kemenangan Indonesia.

***
Dini hari tadi, 8 April 2014

Arkana

Engkau yang berhati terang
Kabut sunyi engkau telanjangi sendiri
Tak murung engkau melangkah dalam sepi
Membawa asa dan narasi rindu

Di sini aku tertinggal dalam hampa
Sampai tak sempat kucegah waktu
Hingga temaram datang di ujung mata
Tak juga engkau kembali tiba

Engkau yang berhati terang
Kutunggu saja engkau di atas cahaya
Sampai akhir bertemu masa

**
Bandung dini hari, 21 Oktober 2013.