Bagaimana Strategi Corporate Menghadapi Startup (Era Digital)

Dalam konteks kekuasaan, incumbent selalu was-was akan pendatang baru yang akan merebut kekuasaannya. Dan sering kali tindakan yang dilakukan incumbent selalu berlebihan. Dalam fakta sejarah, Firaun-Musa adalah contohnya. Firaun khawatir terhadap ramalan akan ada seorang anak laki-laki yang lahir di Bani Israil yang akan menumbangkan kekuasaannya, maka tindakan yang dilakukannnya adalah membunuhi semua anak laki-laki yang lahir. Dalam fiksi, ada juga cerita Voldermort dan Harry Potter. Padahal dalam hikmah sejarah, legenda atau pun cerita fiksi yang namanya hegemoni selalu kalah.

Dalam konteks bisnis bagaimana? Kekhawatiran incumbent (corporate) akankah diiringi dengan usaha menumpas pendatang baru (startup)?

Opening di atas sangatlah lebay. 😂

Bicara bisnis sejatinya bicara proses mencari keuntungan. Jadi bukan bicara tentang power/kekuasaan. Perkara dampak dari banyak untung (banyak uang) jadi memiliki kekuasaan besar, itu hal lain. Orang bisnis adalah orang yang paling mudah berkompromi, karena dengan berkompromi, win-win solution lebih mudah tercipta, karena dengan berkompromi cara-cara menciptakan keuntungan lebih terbuka lebar. Lihat saja Golkar, orang bilang itu partainya pebisnis, maka dari itu mereka long-lasting, siapapun pemimpinnya golkar ada selalu di Kabinet.

Ahh sudah jangan diteruskan bicara (partai) politik. Nanti panjang.

Contoh Blue Bird dan Gojek. Pada awalnya sang incumbent begitu perkasa, menekan pendatang baru dengan koneksi dan regulasi, bahkan dilapangan juga dengan intimidasi. Tapi wal hasil hikmah sejarah, legenda dan cerita fiksi kembali terjadi. Pendatang baru penentang hegemoni lah yang menang. Maka Blue Bird mengubah strateginya. Ia berkolaborasi. Win-win terjadi.

Contoh lain. Beberapa hari yang lalu KataData merilis infografik yang bertajuk “Konglomerat Merambah Pasar Digital” seperti bisa dilihat di bawah ini.

KataData: Infografis – Konglomerat Merambah Pasar Digital

Dari infografis itu sebenarnya bisa kita lihat. Banyak sekali corporate (dan pemiliknya) melakukan investasi ke pendatang-pendatang baru (startup). Baik dalam industri sejenis: Bank investasi di Fintech, raksasa media investasi di media-online; maupun yang lintas industri.

Jadi pertanyaan “bagaimana strategi corporate menghadapi startup (era digital)?” pastinya tidak dijawab dengan konfrontasi, melainkan kolaborasi. Startup boleh jadi lean, cepat dan memiliki ide liar (tidak terkungkung regulasi), namun kelemahannya ia tidak memiliki resource, dan buta akan regulasi (padahal sangat penting nanti untuk men-drive regulasi). Corporate meski besar dan lambat, namun memiliki unlimited resource dan koneksi serta memahami regulasi. Jadi ada kebutuhan untuk saling melengkapi dan berkolaborasi.

Namun memang beberapa strategi tidak selalu dengan kolaborasi. Menurut pengamatan saya, setidaknya ada 5 strategi yang dilakukan oleh corporate untuk menghadapi startup atau era digital secara umum.

1. Membuka Peluang Partnership

Ini sudah jelas, daripada jadi bersaing lebih baik kerjasama. Blue Bird dan Gojek masuk kategori ini. Atau contoh bentuk strategi partnership yang lebih terencana adalah antara Lippo dan Grab atau juga yang dilakukan CIMB terhadap startup-startup Fintech yang memakai layanannya sebagai Hub.

2. Melakukan Investasi atau Membentuk Perusahaan Investasi untuk Startup

Bukan hanya dirangkul, tapi juga diakusisi atau dibeli sebagai kepemilikannya. Contoh Bank Mandiri membentuk Mandiri Capital yang secara khusus melakukan investasi pada startup Fintech. Atau juga Sinar Mas Group yang mendirikan SMDV (Sinar Mas Digital Venture) untuk berinvestasi pada startup-startup digital teknologi secara umum. Infografis dari KataData di atas sangat baik dalam menjelaskan strategi ini.

3. Mendirikan Inkubator dan Accelerator Bisnis

Strategi ini juga banyak dilakukan oleh corporate, bukan hanya berinvestasi secara kapital, namun corporate juga melakukan inkubasi, pembinaan dan pengembangan startup-startup baru. Hal ini dilakukan bertujuan untuk menciptakan image yang baik bagi perusahaan, dan tentunya meminimalkan resiko investasi. Resiko menjadi minim karena mereka berinvestasi pada perusahaan yang dibina atau proses perkembangannya dimonitor oleh mereka secara langsung. Contoh: Telkom membuat program Indigo, BEI (Bursa Efek Indonesia) membantuk IDX Incubator, Bukopin membentuk BNV Lab dan sebagainya.

4. Membentuk Strategic Business Unit (SBU)

Corporate membentuk startupnya sendiri. Dengan ciri startup yang lincah dan cepat, maka biasanya corporate membentuk SBU’s yang memiliki manajamen sendiri untuk menjalankan aktifitasnya. Meski dalam satu badan tubuh perusahaan yang sama, dan bertujuan untuk membesarkan perusahaan yang sama (perusahaan inti), tapi cara-caranya sangat startup sekali. Contoh paling populer adalah Jenius dari BTPN, Digibank dari DBS dan baru-baru ini Digiroin dari PT Pos.

5. Membantuk “Secret” RnD atau Innovation Lab.

Rasanya di Indonesia belum banyak yang melakukan strategi terakhir ini. Ini mirip dengan Strategi SBU pada nomer 4, namun bedanya startup yang dibentuk adalah entitas yang berbeda atau terpisah dari perusahaan inti/induk. Contohnya yang dilakukan oleh LIPPO Group. Lippo membantuk sebuah entitas “rahasia” bernama LippoX. Kenapa saya sebut rahasia, karena webnya seolah-oleh memang begitu, kita tidak tahu apa yang dilakukan didalamnya, cuma ada lowongan rekrutmen saja (Coba cek webnya di sini: http://lippox.com/). Lalu yang kita tahu, keluar sebuah aplikasi fintech dan loyalty bernama OVO.

**

Demikian itu 5 strategi secara praktikal yang saya amati yang dilakukan oleh corporate untuk menghadapi era digital. Secara konsep sebenarnya ada buku bagus yang juga bisa menjelaskan hal-hal bagaimana modern company harus bertransformasi judulnya The Startup Way yang ditulis oleh Eric Reis (juga penulis The Lean Startup), baru terbit oktober 2017 lalu. Mungkin berikutnya saya akan buat resumenya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *