Dagang or Bisnis. Business or Busyness.

“Mie bakso akung (lodaya) kalau bulan puasa tutup. Bihun goreng depan komplek juga tutup lagi nih. Tukang sayur juga engga keliling, mudik.” kata istri saya kemarin.

Ya sebenarnya bagi saya juga enaknya ramadhan itu memang libur. Biar fokus ibadah. Tapi kali ini ramadhan lagi tengah tahun, lagi banyak-banyaknya kerjaan. Dari meeting ke meeting, dari bales email ke bales email. Ditinggal, engga bisa. Diambil, ya memang engga ada pilihan lain.

Dan kalau saya baca literatur sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, anjuran dan aktfitas mereka kebanyakan adalah berdagang. Yang mana aktifitas itu memang sangat fleksibel, bisa jadi dalam setahun hanya 4 bulan mereka melakukan perjalanan dagang. Sisanya ya melakukan hal yang lain, makanya Nabi juga jadi punya waktu pergi ke Gua Hiro.

Dagang beda dengan Bisnis.

Saya baca tulisan-tulisan kontemporer tentang Bisnis dan Dagang itu sangat berpihak. Bisnis banyak dibilang lebih bagus. Karena kejarannya adalah jangka panjang, bukan jangka pendek. Karena sifatnya membangun korporasi, bukan sekedar pendapatan instan. Padahal kalau bicara hidup di dunia ini singkat, ya buat apa juga bisnis. Hidup kan bukan cuma buat kerja. Para sahabat yang kaya-kaya dan bisa beramal besar-besar juga tidak membangun bisnis.

Namun counter-statement-nya lagi (Nji-nji bikin pernyataan sendiri tapi dinegasikan sendiri) adalah ya bisnis kan membangun amal juga. Siapa tahu kalau usia bisnis yang dibangun lebih panjang dari usia biologis kita, bisnis itu bisa jadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Ya bolehlah asal jangan terjebak. Jalanilah business bukan busyness.

Busyness = the state of being busy with many things to do

Tulisan ini dipersembahkan untuk rasa kangen ingin berlama-lama dzikir sehabis sholat, rasa kangen ingin berlama-lama membaca quran. Semoga ramadhan ini adalah obat kangennya. Aamiin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *