Dialog Hari Buruh Hari Pendidikan

Setelah Hari Buruh (1 Mei), lalu Hari Pendidikan (2 Mei). Ada apa ini? Mungkin cita-citanya agar buruh itu menjadi terdidik. atau yang terdidik itu menjadi buruh.[1]

Mengenai yang kedua, ada diskusi menarik tadi siang. Seorang kawan bicara menyalahkan para sarjana-sarjana terdidik yang menjadi “buruh” perusahaan asing. Dia bilang percuma saja, ga nasionalis, mentalnya pragmatis.

Lalu saya tanya seharusnya bagaimana? Dia bilang lebih baik merintis usaha. Bisnis katanya. Buka lapangan kerja katanya.

Saya tanya, lalu apa gunanya kuliah kalau ilmunya ga dipakai? Dia bilang itu membentuk pola pikir saja.

Saya bilang pola pikir mahal ya ratusan juta bayarnya. Dia bilang ya memang, lebih baik buka kedai jus buah, lebih baik buka booth ayam goreng, dengan pola pikir yang baik jadi bisa berdikari dan bisa memperkerjakan orang.

Saya bilang, sayang ya pola pikir yang mahal cuma jadinya begitu. Dia balik tanya sayang bagaimana?

Saya bilang sayang kalau pola pikir orang terdidik bikinnya bisnis rakyat kecil. Bisa kaya tapi menyingkirkan bisnis rakyat. Ayam gorengnya laku tapi mbok-mbok ayam goreng sebelah hancur dagangannya. Lelenya laku, tapi lele pinggir jalan pada tutup semua.

__

Jadi lebih baik mana pragmatis mikirin diri sendiri apa menghancurkan mata pencaharian rakyat kecil?

**

[1] Hari Buruh Internasional ditetapkan 1 Mei semenjak abad 19 akibat dari perlawanan kelas pekerja pada masa perkembangan awal kapitalisme industri. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan 2 Mei untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *