Ngomongin Menulis

Dulu ketika saya kecil, usia SD, saya sangat tidak suka menulis (bahkan sampai sekarang). Sepertinya karena postur tangan saya tidak benar, maka tangan saya cepat pegal ketika menulis dan hasilnya tulisan tangan saya jelek. Sering kali saya diomeli Ibu saya karena tulisan tangan saya jelek.

Bahkan dulu itu, saya selalu berargumen kepada Ibu saya bahwa nanti menulis dengan bagus juga tidak akan lagi relevan, karena nanti semua pakai komputer. Pada waktu itu omongan saya tentunya tidak relevan karena tahun 90-an, di rumah kami tidak ada komputer, bahkan mungkin sekelurahan atau sekecamatan juga belum ada komputer. Di kantor Bapak saya saja waktu itu masih pakai mesin tik.

Tentunya sekarang sudah sangat relevan.

Permasalahannya menuju waktu sekarang dari 90-an itu saya masih harus tetap menulis tangan. Sebenarnya selepas SD hingga SMA urusan tulisan tangan saya yang jelek tidak terlalu menjadi masalah yang pelik. Pertama, karena Ibu saya tidak lagi membaca catatan sekolah saya selepas SD, sehingga saya tidak lagi diomeli; Kedua, karena orang lain tidak ada yang perlu membaca tulisan tangan saya, ujian di sekolah pun hanya pilihan ganda, cukup memberi tandan silang atau membulatkan jawaban saja cukup.

Kendala muncul saat saya kuliah (tahun 2006-2011), dimana sebagian besar ujiannya esai. Makanya saya sering sekali lama dalam mengerjakan ujian, karena saya menulisnya harus pelan-pelan atau berhenti-berhenti, agar tangan tidak pegal. Padahal yang namanya ujian itu berkejaran dengan waktu.

Kendala terakhir saya dengan menulis tangan yang saya ingat adalah dulu di kampus saya pernah ambil mata kuliah Manajemen Rekayasa Industri dari Teknik Industri, itu ujiannya banyak yang harus dijawab dengan narasi dan menulis yang panjang (dibanding Teknik Fisika yang ujiannya hanya menulis angka dan rumus).

Seingat saya Dosen Manajemen Rekayasa Industri ketika itu pun sudah sangat senior dan agak rabun. Tingkat rabutnya bisa saya gambarkan dengan situasi lucu yang sering terjadi di kelas, yaitu Sang Dosen sering bertanya kepada Ketua Kelas di mana letak kapur/spidol, padahal itu tepat ada di meja depan Sang Dosen tersebut.

Kombinasi dari hal tersebut mungkin yang membuat saya tidak lulus mata kuliah tersebut. Tahun depannya saya mengulang kelas tersebut dengan dosen yang lebih muda, baru saya lulus.

**

Kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Itu adalah definisi dari menulis. Setidaknya itu yang saya baca di halaman wikipedia. Dari definisi tersebut menulis tidak dilekatkan artinya ‘musti dengan tangan’ atau ‘dengan pena’ atau terbatas pada bentuk, metoda dan alat tertentu.

Lazim sekarang mangkanya bila seseorang berkata ia sedang menulis, maka aktifitas yang ia lakukan sebenarnya adalah sedang mengetik.

**

Beberapa bulan yang lalu saya membuat podcast ngobrol bisnis. Podcast tersebut berisi wawancara dan opini-opini saya tentang bisnis yang biasanya saya tuangkan dengan tulisan di blog ini. Salah satu argumen alasan saya dalam membuat podcast tersebut adalah saya makin malas, makin sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk menulis. Tentunya bila dibandingkan dengan podcast yang cuma tinggal ngomong.

Dan wal hasil itu benar. Blog ini tidak terisi selama lebih dari 10 bulan. Sekarang Bulan Desember, dan ini adalah tulisan saya terbaru setelah terakhir saya menulis Bulan Februari lalu di blog ini. Sedangkan di podcast, hampir tiap minggu saya rilis episode baru.

Lalu apakah dengan menulis ini saya bermaksud menyamakan menulis dengan ngomong? Seperti argumen sebelumnya pada penyamaan menulis dengan mengetik.

Bila kembali ke definisi menulis, unsur yang kurang dari ngomong bila mau dipadankan dengan menulis adalah adanya aksara. Jadi tentu saja kedua hal tersebut tidak bisa disamakan.

Meski ini berpotensi debatable, karena bisa dikatakan ngomong itu mengutarakan atau membacakan aksara. Namun jika melihat sejarah, ngomong itu sudah muncul lebih dahulu dibanding adanya aksara. Mangkanya ada istilah zaman prasejarah atau nirleka, dimana nir artinya tidak ada, leka artinya tulisan. Pada zaman prasejarah, tidak atau belum ditemukan catatan tulisan, namun bukan berarti manusia pada zaman itu tidak ngomong atau berbahasa.

**

Saya teringat cerita Harry Potter pada buku keempat yang pertama kali saya baca pada saat saya SMP tahun 2002 atau 2003 kalau tidak salah. Yang saya temukan sangat menarik pada novel tersebut adalah Pena Bulu Rita Skeeter yang dapat mengutip dengan menulis omongan Rita dengan sangat baik. Saya bilang dengan sangat baik, karena Pena Bulu tersebut bukan hanya mencatat hal harfiah yang diucapkan oleh Rita dan respondennya, namun juga memberikan konteks, latar, bahkan keindahan sastra dalam penulisannya.

Saya menduga mungkin ketika itu, ketika saya membaca tentang Pena tersebut, sepertinya saya sangat berharap itu ada, karena itu akan menjadi solusi masalah tulisan tangan saya yang jelek yang relevan pada waktu itu.

Di sisi lain teknologi Speech-to-Text sudah sangat berkembang sekarang. Beberapa perusahaan Amerika dan Cina berinvestasi besar dalam pengembangan teknologi ini secara khusus, maupun Artificial Intelligence (AI) secara lebih luas. Ya Speech Recognition dan Speech-to-Text masuk dalam pengkategorian AI sebenarnya, karena bahasa dan gaya berbahasa itu sangat rumit, maka bukan sekedar software biasanya yang bisa menerjemahkannya.

Jadi walaupun masalah tulisan jelek saya sudah tidak relevan sekarang, saya berharap Pena Bulu Rita Skeeter mungkin secara rill bisa diciptakan dengan teknologi Speech-to-Text. Karena hal itu bisa menjawab permasalahan menulis saya yaitu, malas, sulit dan memakan waktu lama.

Dan lebih jauh lagi, mungkin nanti teknologi ini bisa menjawab kekurangan dari ngomong bila mau dipadankan dengan menulis. Karena bila speech-to-text sudah benar-benar baik, apalagi bisa memberikan konteks, latar dan nuansa kesustraan pada hasil tulisannya, maka ngomong itu juga menulis.

**

NB: Bahasan tentang AI dan Speech-to-Text recognition akan lebih banyak dibahas di podcast saya bersama Bu Ayu Purwarianti (Founder Prosa.AI dan Kepala Pusat AI ITB) yang akan dirilis 23 Desember 2019 besok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *