Wabah, Oberammergau dan Nazar

Legenda berkisah tentang sebuah desa kecil yang terisolasi di lereng pegunungan Alps di sisi Jerman. Berlokasi tidak sampai 100KM di barat daya Munchen. Tahunnya adalah 1633.⁣

Black death tengah melanda Eropa pada saat itu, tidak terkecuali Jerman. Namun berbeda pada desa kecil itu, tetap steril dan bersih dari wabah. ⁣Hingga pada 25 September 1633.⁣

Seorang bernama Kaspar Schisler yang telah bekerja berbulan-bulan jauh dari rumah dilanda kerinduan yang sangat pada keluarganya. Pulanglah ia kemudian ke desa tersebut. Cerdik ia, berhasil melewati keamanan yang seharusnya memiliki protokol karantina untuk pendatang sebelum kembali ke rumah.⁣

Beberapa hari setelahnya Kaspar dikabarkan meninggal. Dan dalam 33 hari sejak kepulangannya, 88 orang warga desa juga meninggal. Itu adalah seperempat dari populasi desa tersebut.

Semua warga desa tahu itu bisa saja baru permulaan. Dalam ketakutan dan kekalutan, satu-satunya yang mereka bisa lakukan adalah berdoa.⁣

Secara komunal mereka berjanji bahwa mereka bersama akan menyelenggarakan pementasan untuk Tuhan setiap 10 tahun sekali jika wabah ini diangkat dari desa mereka. Mungkin padanannya adalah nazar kalau di Islam.⁣

Lalu ajaibnya wabah itu berhenti. Tidak ada lagi orang meninggal akibat pes di desa tersebut. ⁣

**

Legenda mungkin tidak selalu sepenuhnya tepat. Tapi yang pasti warga desa tersebut hingga kini, selama 400 tahun terakhir tetap menepati janji leluhur mereka tersebut, hampir setiap 10 tahun sekali pementasan itu tetap dilakukan.⁣

Desa itu adalah Oberammergau. Pementasannya adalah Passion Play. Bercerita tentang kisah Yesus Kristus dari perjamuan terakhir hingga penyaliban dan kebangkitan. Lebih dari 2000 warga terlibat dalam pementasan tersebut setiap kali diselenggarakan dan sangat menarik minat turis internasional, termasuk juga saya.⁣

Sejak tahun 1680, pementasan tersebut dilakukan di tahun yang memiliki digit akhir nol. Dan tahun ini, 2020, saya berencana ke sana. Sayangnya pementasan mesti ditunda dan keberangkatan mesti batal. Ironisnya, itu akibat gara-gara wabah yang lain.

Lalu kali ini perlukah kita bernazar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *