‘Mardijker’, kata nenek saya yang sekolah di jaman Belanda, itu adalah istilah untuk menyebut mantan budak. Istilah itu diadopsi secara kurang tepat oleh Belanda dari Portugis yang aslinya berasal dari kata Sansekerta ‘Maharddhika’ yang artinya: kaya, sejahtera dan kuat.
Di masa perjuangan Indonesia melawan penjajah kata itu diadopsi jadi ‘Merdeka’ dan dijadikan battle cry yang mungkin lebih dekat maknanya kepada: bebas, berdiri sendiri dan independensi.
Orang-orang Moro (selatan Filipina) menggunakan kata ‘Maradeka’ untuk merujuk pada kelompok pejuang kemerdekaan di sana. Dalam bahasa Tagalog, terdapat kata ‘Maharlika’ yang memiliki akar kata Sanskerta yang sama dan memiliki makna: manusia yang bebas.
Lalu dalam perenungan 75 tahun kemerdekaan, buat saya mungkin kembali penting menjadikannya sebagai battle cry lagi biar maknanya kembali menjiwa.