Kami dipertemukan oleh sebuah eksperimen biro jodoh bernama Svara. Mereka terkenal dengan algoritma kecocokannya yang mengklaim tingkat keberhasilan hingga 92%. Tapi bukan itu yang kami ikuti. Ini sesuatu yang berbeda.
Svara berangkat dari premis sederhana namun radikal: alih-alih menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk basa-basi di aplikasi pesan singkat, mereka memasang chip uji coba bernama Pulse-5 di area mastoid, tepat di belakang daun telinga kanan kami. Solusi yang terdengar sangat menjanjikan untuk orang-orang canggung secara sosial (socially awkward) seperti kami. Teknologi ini menjanjikan kencan pertama tanpa potensi salah paham. Tidak perlu berpura-pura menyukai film arthouse demi terlihat pintar, tidak perlu canggung memilih topik obrolan, dan yang paling penting: zero latency.
Spesifikasi teknisnya sederhana: selama kedua perangkat berada dalam radius 100 meter, sinapsis pikiran kami akan langsung terhubung secara instan.
Kami dijadwalkan bertemu di sebuah kedai kopi sepi dekat peron Stasiun MRT Blok M, pada suatu pagi di bulan April yang hawanya cukup sejuk untuk ukuran Jakarta Selatan.
Saat aku berjalan mendekati mejanya, Pulse-5 menyala dengan dengung halus yang hampir tak terdengar. Hanya butuh waktu 0,004 detik bagi sinapsis kami untuk menautkan frekuensi.
Transmisinya serta-merta tanpa jeda, namun akumulasi isi kepalanya tidak langsung tumpah secara brutal seketika. Pemrosesan ingatan itu terasa seperti keran air hangat yang mengalir perlahan namun pasti. Dalam hitungan detik, aku mulai merasakan tekstur emosinya. Dia adalah jenis orang yang menyukai notasi nada Melly Goeslaw, terutama di album Café yang didengarnya lewat pemutar kaset tua. Dia membenci bau aspal panas Jakarta tepat setelah gerimis, dan di dalam dadanya ada ruang kosong kecil berbentuk kotak musik tua yang nadanya sudah agak sumbang.
Dan dia, pada gelombang sinyal yang sama, mengetahui bahwa aku selalu lupa membawa payung lipat, menyimpan kecemasan absurd kalau-kalau kasir Circle-K tidak suka jika aku ke sana hanya untuk memakai ATM BCA, serta perasaan jujur bahwa aku tertarik padanya pada pandangan pertama.
Tidak ada rasa asing. Tidak ada basa-basi “Kerja di mana?” atau “Tinggal di daerah mana?”. Kami seperti dua saluran radio kuno yang mendadak terkunci pada satu frekuensi tunggal, tanpa jeda atau celah udara di antara suara.
Kami memutuskan untuk berpacaran dua puluh menit kemudian.
Dalam sekejap, kami menjadi success story pertama dari eksperimen Pulse-5. Keberlangsungan hubungan kami didukung dan didanai penuh oleh Svara sebagai bahan presentasi investor mereka.
Selama delapan bulan, dunia kami berjalan sangat efisien.
Kami menyewa sebuah unit apartemen kecil di lantai enam dekat Stasiun MRT Haji Nawi. Kamar kami tidak pernah bising oleh pertengkaran, karena pertengkaran membutuhkan jeda antara otak, pita suara, dan udara. Kami tidak punya jeda itu. Jika aku merasa jengkel karena dia lupa mematikan AC saat berangkat kerja, dia langsung merasakannya sebelum aku sempat menghela napas. Dia akan bergumam di dalam hatinya (yang langsung menggema di dalam kepalaku), “Maaf, aku lupa lagi,” dan kekesalanku menguap seketika.
Itu adalah surga tanpa gesekan. Sebuah utopia sinapsis.
Sampai pada suatu Selasa sore di akhir November, ketika hujan deras mengguyur Jalan Fatmawati dan kami sedang duduk berhadapan menyantap dua mangkuk ramen hangat.
Saat itu, setelah seharian menangani pekerjaan yang menguras tenaga, sebuah kilatan pikiran melintas di benakku. Itu bukan pikiran yang sengaja kubuat. Itu hanya intrusive thought, jenis sampah emosional liar yang biasa mampir di kepala manusia selama setengah detik lalu hilang diterpa angin.
Aku membayangkan, “Bagaimana jika aku tiba-tiba pergi, naik TransJakarta ke Bandara Soetta, memilih penerbangan terdekat ke mana pun aku tidak peduli, dan tidak pernah kembali lagi?”
Pikiran itu sangat mentah, tidak punya akar, dan sama sekali tidak mencerminkan betapa aku mencintainya. Di masa lalu, ketika manusia masih bergantung pada mulut dan pita suara, pikiran seperti itu akan mengendap di dasar kepala, tersaring oleh logika, lalu mati tanpa pernah menjadi gelombang suara.
Namun Pulse-5 tidak mengenal filter.
Di seberang meja, sumpit di tangannya mendadak berhenti di udara.
Matanya menatapku tajam. Dalam waktu 0,001 detik, dia menangkap pikiran mentahku. Reaksi pertamanya bukanlah sekadar kepanikan pasif, melainkan sebuah pertahanan emosional yang jernih: “Kenapa pikiran seperti itu harus muncul saat kita sedang bersama?”
Pertanyaan batinnya menyengat balik ke dalam tempurung kepalaku. Aku membalas dengan kepanikan rasional, “Bukan begitu maksudku, itu cuma melintas!” Tetapi defensifku justru terbaca olehnya sebagai konfirmasi rasa bersalah.
Terjadilah sebuah feedback loop. Seperti dua mikrofon yang didekatkan ke pengeras suara, emosi kami saling memantulkan gema yang makin lama makin keras dan menyayat. Kejengkelan sekejap berubah menjadi keraguan eksistensial, keraguan berubah menjadi ketakutan, dan ketakutan berubah menjadi ancaman nyata.
Dia tidak menangis histeris. Dia menatapku langsung, sebuah tatapan penuh keputusan sadar bahwa koneksi ini sudah mulai beracun. Dia menyambar tasnya, berdiri, dan melangkah tegas keluar dari kedai ramen, menembus tirai hujan deras di sepanjang trotoar Jalan Fatmawati menuju Stasiun MRT untuk memutus radius sinyal secara sengaja.
Aku hendak mengejarnya, tetapi langkahku tertahan di ambang pintu kedai. Pikirannya “Jangan ikuti aku!” terbaca olehku.
Di dalam kepalaku, pancaran sinyal dari otaknya perlahan melemah seiring bertambahnya jarak yang dia buat. 80 meter, 90 meter, dan tepat ketika dia menaiki eskalator stasiun, garis sambungan itu terputus total. Dengung sinapsis padam.
Sekali lagi, tempurung kepalaku menjadi sunyi yang terisolasi.
Aku berjalan kembali ke meja, duduk sendirian di hadapan mangkuk ramen yang mulai dingin. Di dalam hening yang asing itu, aku merenungi segala hal indah yang kami bangun selama delapan bulan ini, dan betapa rapuhnya semua itu hanya karena setengah detik kesalahan sistem.
Jika kau bisa membaca seluruh isi kepala orang yang kau cintai, kau tidak hanya akan menemukan cintanya, tetapi juga seluruh sampah, keraguan, kilatan dendam sekejap, dan kegelapan kecil yang sebenarnya tidak pernah ditujukan untukmu. Tanpa jeda untuk menyaringnya, kejujuran mutlak adalah racun yang paling mematikan.
Dialah yang pertama kali mengirimi pesan teks: “Kita perlu jarak.”
Selama dua minggu, kami kembali berkomunikasi lewat pesan singkat yang kaku, lambat, dan penuh kehati-hatian. Kami sepakat untuk menemui teknisi Svara di ruko uji coba kawasan Kebayoran Baru. Kami sengaja tiba terpisah berselang setengah jam agar sinapsis kami tidak mendadak terkoneksi kembali di tengah jalan.
Pria paruh baya berambut perak yang menangani kami hanya memeriksa grafik sinyal di layarnya sembari mendengarkan lagu instrumen jazz pelan dari pemutar kaset tua di meja.
“Kalian bertahan delapan bulan,” katanya singkat tanpa banyak retorika, sembari menyesuaikan instrumen pemindai di belakang telinga kami. “Enam pasangan lainnya di program uji coba ini sudah minta dilepas total dalam dua bulan pertama. Grafik transmisi kalian memang stabil, tapi beban fluktuasi emosionalnya terlalu tinggi untuk dipertahankan.”
Kami memutuskan tidak memutus implan itu secara total, melainkan meminta kecepatannya diturunkan (throttle) hingga 99,9%. Kami menurunkan fungsi Pulse-5 kembali ke mode manual yang sangat primitif.
Saat proses penyetelan ulang selesai dan sisa-sisa gelombang otomatisnya dipadamkan, rasanya seperti seseorang baru saja mematikan radio bising yang menyala di latar belakang pikiran kami. Ada rasa sepi yang ngilu, tetapi tempurung kepalaku terasa ringan kembali.
Kami berjalan keluar dari ruko menuju Stasiun MRT Blok M. Hujan mulai mereda. Udara sore Jakarta Selatan terasa agak lembap, berbau tanah basah dan asap kendaraan.
Kami berdiri di peron stasiun, menunggu kereta jalur selatan.
Aku menatap perempuan di sampingku. Aku tidak lagi tahu apa yang sedang ia pikirkan. Aku tidak tahu apakah ia sedang memikirkan pekerjaannya besok, memikirkan tagihan apartemen, atau sedang merasa ragu apakah ia harus tetap bersamaku. Dia kembali menjadi sebuah misteri yang utuh.
Namun, di dalam ketidaktahuan itu, ada sesuatu yang hangat perlahan muncul kembali. Sesuatu yang disebut keberanian untuk mencoba.
Aku menarik napas panjang. Aku membiarkan pikiran di kepalaku mengalir turun ke tenggorokan, melewati pita suara, diprosesi oleh bibir dan lidah, lalu terlempar pelan ke udara sebagai gelombang suara yang lambat dan berisiko salah tafsir.
“Mau ngopi di sana?” tanyaku, sambil menunjuk kafe yang terlihat tidak jauh dari stasiun.
Dia menoleh padaku. Ada jeda sekitar dua detik, dua detik yang sangat berharga di mana dia memproses suaraku, menyaring emosinya sendiri, dan memilih respons terbaiknya.
Dia tersenyum tipis, lalu menjawab dengan suaranya yang halus, “Boleh. Tapi kamu yang bayar.”
Kereta MRT masuk ke stasiun dengan suara desisan mesin yang melambat. Kami berbalik melangkah menjauhi peron bersama-sama, dua orang manusia yang kembali belajar cara saling mencintai lewat kata-kata yang lambat dan penuh dengan jeda.