Di sebuah ruang tunggu rumah sakit imajiner dalam kepala saya, saya mendapati diri saya menyaksikan dua adegan yang terjadi secara bersamaan.
Di sudut kiri yang temaram, seorang bapak dengan wajah lelah dan kesal berkata lirih kepada petugas administrasi: “Apa karena saya pasien BPJS?” Kalimat itu menggantung, berat, penuh nada kecewa yang ditahan setengah mati.
Lalu di sudut kanan yang terang, seorang wanita berpenampilan modis menyilangkan tangan di dada. Ia menatap lawan bicaranya dengan pandangan tajam, lalu melontarkan kalimat yang begitu nyaring: “Kamu ga tau siapa saya?”
Dua peristiwa yang bertolak belakang. Dua manusia dari kelas sosial yang berseberangan. Namun, saat membayangkan adegan imajiner itu di kepala saya, ada satu hal yang terus mengusik: mengapa dua kalimat dari ujung dunia yang berbeda ini terasa sama?
Jika ditelisik lebih dalam, sepertinya kedua kalimat itu sebenarnya bersumber dari luka yang identik: ancaman terhadap eksistensi dan harga diri.
Pada dasarnya manusia punya kebutuhan untuk diakui (need for recognition) dan merasa memiliki kendali atas situasi yang dihadapinya. Ketika sebuah interaksi sosial membuat seseorang merasa diabaikan, mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) akan langsung mengambil alih setir.
Bapak berwajah lelah itu merasa identitasnya diperkecil hanya menjadi status premi murah. Ia merasa ditelanjangi hingga menjadi sekadar “nomor antrian”. Pertanyaan yang ia lontarkan adalah bentuk pertahanan diri defensif, sebuah gugatan moral untuk memaksa lawan bicaranya melihat bahwa di balik status ekonominya, ada seorang manusia yang butuh dipulihkan.
Di sisi lain, wanita berpenampilan modis itu sedang mengalami krisis ego. Ketika ekspektasinya akan perlakuan istimewa mendadak patah, rasa amannya terancam. Kalimat “Kamu ga tau siapa saya?” bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan projection of power, upaya mengintimidasi agar lawan bicara kembali tunduk pada hierarki yang memanjakannya.
Yang satu menjerit karena merasa ditindas oleh sistem, yang satu lagi memekik karena sistem yang biasanya menguntungkannya mendadak gagal bekerja. Tapi keduanya sama-sama terancam oleh satu ketakutan: rasa tidak dianggap.
Fenomena ini agaknya mengingatkan saya pada gagasan Friedrich Nietzsche tentang Will to Power, hasrat dasar manusia untuk menegaskan keberadaannya di tengah dunia.
Dalam relasi sosial, tidak ada orang yang benar-benar nyaman menjadi “nirnama” (anonymous). Kita semua takut menjadi jasad sosial yang kasat mata.
Orang “atas” menegaskan keberadaannya melalui akumulasi modal dan status sosial. Mereka membangun benteng identitas dari posisi dan kekayaan, lalu menuntut dunia untuk terus memvalidasinya. Sementara orang “bawah”, yang kerap dirampas modal sosialnya oleh struktur yang kaku, menegaskan keberadaannya melalui seruan keadilan moral.
Jadi kedua kalimat tadi, pada hakekatnya, adalah bentuk pencarian validasi eksistensial. Sebuah teriakan yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa yang paling murni akan berbunyi: “Saya ada, dan tolong perhatikan keberadaan saya!”
Tapi setelah mencoba memahami itu, di kepala saya jadi bergaung pertanyaan: bagaimana dengan orang “tengah”?
Mereka ini adalah kelompok yang berada di antara himpitan dua kutub tersebut. Mengingat mereka, saya jadi teringat masa-masa kuliah dulu. Saya berada di posisi yang serba nanggung: keluarga tidak bisa dibilang miskin (alhamdulillah) untuk mengajukan beasiswa kurang mampu, tapi ya saya tidak cukup berprestasi juga untuk menembus beasiswa prestasi. Tapi ya padahal butuh juga sebenarnya. Dan rasanya, sebagian besar dari kita terjebak di kategori “yang penting lewat” ini.
Orang tengah tidak bisa menuntut keistimewaan seperti orang atas, tapi juga tidak punya cukup ‘penderitaan yang terabsahkan’ untuk memohon keadilan seperti orang bawah. Mereka hidup dalam kecemasan moderat yang laten. Maka, jika di ruang tunggu rumah sakit itu ada orang tengah yang sudah antri berjam-jam, kalimat yang keluar dari mulutnya mungkin akan berbunyi:
“Mbak, sesuai nomor urut aja kan ya? Yang penting urusan saya beres hari ini, deh.”
Kalimat orang tengah adalah gambaran dari kepasrahan yang pragmatis. Tidak ada gertakan status, tidak ada gugatan moral yang puitis. Hanya sebuah harapan kecil agar sistem bekerja sebagaimana mestinya, supaya mereka bisa cepat pulang dan melanjutkan hidup tanpa perlu menyita perhatian siapa pun.
Melihat ketiga adegan itu berseliweran di dalam kepala, saya menyadari betapa mudahnya kita terperangkap dalam peran-peran tersebut. Kita atau saya kerap lupa bahwa cara orang lain merespon, baik dengan nada memohon, menggertak, atau pasrah, bisa jadi hanyalah cermin dari seberapa aman perasaan mereka saat berhadapan dengan kita.
Mungkin pada akhirnya, kita hanya perlu sedikit lebih peka membaca rasa takut di balik kalimat-kalimat itu. Sebab sering kali, di balik benteng jabatan yang kokoh maupun keluhan yang paling lirih, ada manusia yang hanya sedang berusaha memastikan bahwa dirinya tidak sepenuhnya tak terlihat.