Saya agak telat sebenarnya mengetahui kehebohan internet saat Kane Parsons, pemuda yang belum genap berusia 20 tahun, merilis seri found footage Backrooms di YouTube 2019 silam. Saya baru mengetahuinya 2-3 tahun lalu saat kehebohan itu telah berubah menjadi mitologi. Dan kini mitologi ini bertransformasi menjadi fenomena sinematik di bawah bendera A24.
Lonjakan karier Parsons dari content creator menjadi sutradara film panjang adalah cerita sukses yang luar biasa; dengan budget hanya $10 juta (sangat minim untuk ukuran blockbuster Hollywood), film ini meraup pendapatan luar biasa sebesar $110 juta. Menariknya, Parsons berhasil mengolah lore yang awalnya bersifat crowd-sourced world building (hasil kolektif imajinasi netizen) menjadi sebuah visi tunggal yang tetap menghormati akar digitalnya.
Saya baru menontonnya kemarin malam di CGV Kings Bandung, dan hal pertama yang membuat Saya terpaku di kursi bioskop adalah bagaimana Parsons menerjemahkan estetika liminal space ke layar lebar dengan presisi yang menghipnotis. Visualnya dipenuhi koridor kuning tak berujung, kolam air ganjil, dan arsitektur mustahil yang menciptakan sensasi vertigo serta klaustrofobia.
Alih-alih mengandalkan CGI berlebihan, penggunaan set praktis dengan lensa fisheye dan sudut pandang lebar membuat ruang transisi ini terasa sangat nyata. Salah satu momen yang paling membekas buat saya adalah adegan pohon Natal; sebuah visual yang seharusnya hangat namun di sini justru memicu kepanikan luar biasa, membuktikan bahwa Parsons sangat mahir memelintir simbol kenyamanan menjadi teror yang ganjil.
Kengerian visual tersebut didukung oleh desain suara yang menurut saya sangat jenius sekaligus menyiksa telinga. Sepanjang durasi, kita dihajar oleh dengung lampu fluoresen yang membuat saraf terus menegang. Skor ambiennya yang berdenyut seolah menekan dada penonton tanpa henti. Detail audio yang paling mengejutkan adalah sisipan rekaman suara yang dikirim astronot ke luar angkasa, berisi sapaan dalam berbagai bahasa. Dan mendadak mendengar sapaan dalam Bahasa Indonesia di tengah kesunyian labirin kuning tersebut memberikan efek uncanny yang luar biasa bagi saya sendiri; rasanya seperti menemukan jejak kemanusiaan yang sudah lama membusuk di ruang hampa.
Namun, film ini tidak membiarkan dirinya menjadi sekadar parade estetika kosong. Performa Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, pemilik toko furnitur bernama Cap’n Clark’s Ottoman Empire, memberikan landasan emosional yang sangat pahit. Clark digambarkan bukan sebagai pahlawan, melainkan pria yang hancur oleh alkoholisme, kegagalan bisnis, dan kebencian mendalam terhadap istrinya sendiri. Hubungannya dengan sang terapis, Mary (Renate Reinsve), mengubah arah narasi menjadi eksplorasi trauma yang sangat privat. Akting mereka membuat kita menyadari bahwa Backrooms di sini bukan sekadar labirin fisik, melainkan wadah bagi jiwa-jiwa yang terisolasi untuk berhadapan dengan kehancuran mental mereka.
Saya melihat Backrooms sebagai metafora cerdas mengenai kondisi pikiran yang retak akibat trauma. Ruangan-ruangan kosong yang miring secara curam mencerminkan kegagalan pikiran manusia dalam melakukan sintesis terhadap rekaman pengalaman masa lalu untuk membentuk pemahaman yang koheren. Koridor kuning ini adalah representasi dari memori yang terdistorsi, di mana setiap perabot yang cacat bentuk adalah hasil konkret dari malfungsi imajinasi produktif manusia. Ini adalah horor psikologis dalam bentuk paling murni; sebuah pengingat bahwa saat kita mencoba mengisi kekosongan jiwa dengan ingatan yang salah, kita justru menciptakan narasi yang menyeramkan bagi diri kita sendiri.
Jika dibedah lebih dalam, film ini adalah contoh murni dari simulakra fase keempat milik Jean Baudrillard—sebuah hiperrealitas yang tidak lagi memiliki kaitan dengan realitas asli. Kita bisa melihat ini pada “Monster Kapten Clark”, maskot bajak laut dari toko furniturnya yang bermutasi menjadi entitas pembunuh; sebuah simbol komersial hampa yang kini menjadi penguasa realitas baru. Belum lagi kemunculan kembaran Mary yang membisu di ruang interogasi akhir, sebuah replika yang lahir langsung dari trauma segar. Secara kosmologis, struktur ini menyerupai konsep “Demiurge” dalam tradisi Gnostik—seorang arsitek buta spiritual yang membangun dunia material cacat dari sisa memori kolektif manusia untuk menjebak jiwa-jiwa di dalamnya.
Tentu saja, arah plot yang sangat personal ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar garis keras creepypasta. Banyak yang kecewa karena film ini lebih fokus pada breakdown psikologis karakter daripada menyajikan teror monster tradisional atau stakes nyawa yang tinggi. Kritik tajam juga tertuju pada mekanik film yang membolehkan Clark keluar-masuk Backrooms sesuka hati melalui jalan rahasia di bawah tokonya. Bagi saya pribadi, poin ini memang agak merusak esensi horor ruang liminal yang seharusnya menjebak tanpa jalan keluar. Rasa putus asa yang menjadi ciri khas lore aslinya terasa sedikit berkurang karena Clark seolah-olah memiliki “pintu darurat” menuju dunia nyata.
Kelemahan paling terasa ada pada babak ketiga yang berfungsi sebagai bagian pengungkapan. Setelah dua babak pertama yang sangat memikat secara atmosferik, bagian akhir film ini justru terasa agak hollow atau tidak tuntas. Ada perasaan tidak puas saat cerita mencoba memberikan konklusi yang terlalu ambigu bagi penonton mainstream. Meskipun konsep dimensi kopian realitas ini sangat menarik untuk didiskusikan, eksekusinya di bagian akhir terasa sedikit janggal dan meninggalkan lubang narasi yang membuat rasa penasaran yang sudah dibangun sejak awal tidak terbayar dengan kepuasan maksimal.
Terlepas dari kekurangannya, Backrooms tetaplah sebuah karya yang sangat menyegarkan di tengah gempuran horor jump-scare murahan. Bagi saya, film ini adalah seni atmosferik yang berani, sebuah slow-burn horor yang berhasil menangkap kegelisahan zaman digital melalui lensa trauma manusia yang universal. Kane Parsons telah membuktikan dirinya mampu membawa estetika internet yang abstrak ke dalam bentuk narasi yang memiliki bobot filosofis. Sebagai sebuah debut film panjang, ini adalah pencapaian yang sangat impresif dan ambisius. Untuk pengalaman sinematik yang unik, menghipnotis, dan penuh dengan kengerian eksistensial ini, Saya memberikan skor akhir 7,5/10.