Malam di kota orang,
bersama mereka yang berada di barisan paling belakang.
Mereka berdiri tanpa poster besar,
tanpa kata-kata yang pandai.
Tak ada mikrofon,
tak ada kamera menoleh,
hanya kaki yang lelah
dan punggung yang terbiasa menunduk.
Bayaran ditunda, janji digantung,
hak dipelintir jadi prosedur.
Mereka tak berteriak,
karena teriak butuh tenaga
yang sudah habis dipakai hidup.
Suara-suara datang dari piring yang tak penuh,
dari tangis anak-anak yang disuruh diam,
dari doa yang tak sempat dipamerkan.
Padahal suara yang lirih di lisan
terdengar paling keras di hati.
Dan sementara dunia sibuk mendengar yang lantang,
yang paling jujur justru tenggelam—
pelan, sabar, dan terus diinjak.
~3 Februari 2026~