Panji Prabowo

Malam di kota orang,
kehilangan duduk di sebelahku,
diam-diam menyesap sisa harap
yang tak sempat kusembunyikan.

Ia mengenyakkan duduknya,
lalu berkata pelan:
putus asa tak pernah diam—
ia tetap berjalan,
meski tak yakin ke mana tujuan.

Aku menatap keluar, mengacuhkannya.
Lampu jalan tak lagi menuntun,
hanya memanjangkan bayang
dari nama-nama yang tak pulang.

Ia bicara lagi, kali ini nyaris berbisik:
aku pulang membawa tangan kosong—
bukan karena tak mencoba,
melainkan karena tak ada lagi yang bisa dipertahankan.

Aku terpicu, menoleh padanya,
baru hendak aku membantah,
tapi kehilangan sudah pergi
meninggalkan kalimatnya tertahan di kepalaku.

~15 Januari 2026~