Setidaknya hari ini.
Aku bukan penunggu cahaya,
aku hanya pengarsip gelap.
Tiap malam sibuk mencatat,
apa-apa yang tak pernah selamat.
Aku tak mencari jalan,
aku hanya menghindari reruntuhan.
Melangkah di antara puing
yang tak sempat kutahan.
Hari-hari seperti ini,
bukan untuk dijalani,
ia ada untuk ditangguhkan perlahan.
Hingga tubuh menyerah,
atau kehendak padam diam-diam.
Mereka bilang,
“Tenang, nanti akan ada terang.”
Tapi aku tahu itu tak benar.
Tak ada akhir bahagia,
hanya akhir.
**
Tapi besok barangkali.
Aku tak menunggu cahaya,
tapi aku menyisakan ruang untuknya datang.
Gelap bukan selalu luka,
kadang cuma jeda yang diam-diam menenangkan.
Aku tak tahu pasti arah jalan,
tapi aku menapak, perlahan,
melewati reruntuhan yang pernah menyakitkan
tanpa harus selalu menambal semua keretakan.
Hari-hari seperti ini memang tak perlu dirayakan,
tapi bukan pula untuk dilupakan.
Ia hanya perlu disapa,
dengan tubuh yang lelah
dan kehendak yang masih menyala.
Mereka bilang,
“Tenang, nanti akan ada terang.”
Dan kali ini, barangkali aku percaya.
Bukan karena pasti,
tapi karena ingin.
~22 April 2025~