Kadang yang membedakan reason dan excuse bukanlah kalimatnya, melainkan keberanian orang yang mengucapkannya. Dua orang bisa mengatakan hal yang sama: “Saya terlambat karena macet.” Yang satu sedang menjelaskan kenyataan. Yang lain sedang berharap kenyataan itu menghapus tanggung jawabnya.
Barangkali karena itulah, sejak Aristoteles manusia disebut animal rationale, makhluk yang mampu memberikan alasan. Kemampuan reasoning inilah yang menjadi salah satu fondasi cara kita memahami dunia. Dimana setiap pilihan yang kita ambil selalu berusaha dihubungkan dengan logika.
Sementara excuse sering kali berkaitan dengan mekanisme pertahanan (defense mechanism) atau self-serving bias. Mungkin karena ego selalu ingin tetap utuh. Ketika citra diri terasa terancam, excuse sering kali muncul bukan untuk menjelaskan kenyataan, melainkan untuk melindungi diri dari rasa bersalah.
Namun tidak semua filsuf melihatnya dengan lunak. Jean-Paul Sartre misalnya, melihat excuse secara lebih keras. Menurutnya manusia hampir selalu bebas memilih, karena itu banyak excuse sebenarnya merupakan bentuk bad faith (mauvaise foi).
Mungkin kedewasaan bukanlah ketika kita tak lagi memiliki excuse. Melainkan ketika kita mampu mengatakan, “Inilah yang terjadi,” tanpa merasa perlu bersembunyi di baliknya. Karena alasan terbaik bukanlah yang membuat kita tampak benar, melainkan yang tetap bisa kita ucapkan, bahkan ketika kita bersedia mengakui bahwa kita salah.
Karena pada akhirnya, reason mungkin menjelaskan mengapa kita sampai di sini. Tetapi tanggung jawablah yang menentukan ke mana kita akan melangkah setelahnya.
**
Perenungan di siang hari di Perpustakaan Nyi Ageng Serang – Jakarta.