Panji Prabowo

Saya sebenarnya tidak mengetahui kehebohan About a Place in the Kinki Region, baik saat masih berwujud novel maupun ketika diadaptasi menjadi film. Informasi itu baru sampai ke telinga saya lewat istri saya, yang menyebutkan bahwa ini adalah film berkonsep found footage yang disutradarai oleh Koji Shiraishi—sosok di balik Noroi: The Curse, salah satu film horor Jepang favorit saya dari era 2000-an.

Saya baru saja menontonnya di sebuah bioskop di Bandung pada pemutaran pukul 20:20. Menariknya, sore sebelum menonton film ini, saya sempat menyaksikan film Indonesia berjudul Bapak Paling Jujur. Namun, begitu keluar dari bioskop seusai Kinki, seluruh gelak tawa dan candaan komedi dari film pertama mendadak menguap tanpa sisa, berganti menjadi rasa ngeri yang dingin dan mengendap.

Hal pertama yang membuat saya terpaku di kursi penonton adalah bagaimana Shiraishi berhasil menghidupkan kembali esensi horor found footage awal tahun 2000-an yang merayap perlahan di bawah kulit, tanpa terjebak dalam jebakan repetisi jumpscare murahan.

Film ini menyeret kita ke dalam pusaran investigasi yang tampak tertutup namun berlapis-lapis. Pemicunya klasik namun efektif: hilangnya Sayama, seorang editor majalah supernatural Ultra, saat tengah merampungkan investigasi artikel misteri. Rekan kerjanya, Ozawa, terdorong melacak jejak tersebut dengan menggandeng Chihiro, seorang penulis freelance berlatar belakang riset okultisme.

Penceritaan film ini mengusung pola slow-burn yang menuntut kesabaran ekstra. Kita diajak membedah materi riset peninggalan Sayama berupa tumpukan kaset analog dan potongan rekaman video dari era 90-an hingga awal 2000-an. Pada paruh awal, potongan ini terasa acak dan terisolasi. Namun, di sinilah letak daya tariknya: film ini memaksa kita untuk tidak sekadar duduk pasif, melainkan bertindak sebagai “investigator ketiga” di samping Ozawa dan Chihiro. Mengabaikan sedikit saja detail dialog atau dokumen mikro berisiko membuat kita kehilangan benang merah, yang pada akhirnya mengikis daya hantam kejutan di penghujung cerita.

Alih-alih mempertahankan kamera bergoyang penuh yang melelahkan sepanjang durasi, Shiraishi mengeksekusi film ini melalui format hibrida yang sangat taktis. Ia menyandingkan sinematografi konvensional pada segmen investigasi dengan estetika found footage murni pada segmen rekaman arsip.

Salah satu momen paling menegangkan adalah adegan seorang streamer pencari tempat angker yang mengeksplorasi “Rumah Gantung Diri”. Perpaduan antara humor absurd—lewat teriakan sang streamer yang sompral—dan ketegangan ekstrem menciptakan dilema psikologis tersendiri bagi penonton. Ketegangannya begitu intens hingga saya sendiri refleks memicingkan mata agar visual di layar tidak terlalu jelas terlihat, saking deg-degannya.

Keunggulan mutlak film ini terletak pada penolakannya terhadap teror instan. Ketakutan dibangun melalui adegan one-shot statis yang janggal dan pembentukan suasana asing yang memaksa kita bergumam batin, “Apaan itu anjir?”, tanpa perlu mengandalkan wujud hantu klise bertabur riasan tebal.

Secara tematis, film ini melakukan rekonstruksi terhadap horor arus utama. Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki tidak bertumpu pada dendam arwah penasaran, melainkan mengeksplorasi akar etimologis teror itu sendiri: ketidakpahaman. Manusia tidak takut pada apa yang mereka lihat, melainkan pada fakta bahwa akal budi dan kognisi kita gagal memproses serta mengategorikan fenomena yang disaksikan.

Penyelesaian atau ending-nya secara tidak langsung mengingatkan saya pada film Indonesia lain—yang sama sekali berbeda—yang saya tonton beberapa minggu lalu, Empat Musim Pertiwi, khususnya pada kehadiran gagasan entitas kosmik asing, meskipun dalam Empat Musim Pertiwi konsep tersebut tidak literal ya (mungkin nanti saya perlu bahas Empat Musim Pertiwi secara khusus).

Tapi tentu saja, gaya penceritaan dengan pacing lambat serta beberapa subplot yang sengaja dibiarkan menggantung tanpa closure pasti berisiko memicu perdebatan atau rasa frustrasi bagi penonton yang terbiasa dengan kepastian instan. Namun, ruang interpretasi yang tebal inilah yang justru memberikan dorongan kuat untuk menelusuri versi novelnya—walaupun saya duga kalaupun saya beli pada akhirnya novelnya tidak akan benar-benar saya baca juga.

Kalaupun ada kekurangan dari film ini, mungkin terkait eksekusi yang terasa sedikit repetitif di beberapa titik. Namun di luar itu, Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki adalah sebuah pencapaian eksperimen horor investigatif yang sangat menyegarkan. Shiraishi berhasil menangkap kegelisahan era digital dan mengawinkannya dengan keterbatasan kognitif manusia dalam sebuah bingkai yang meresahkan. Untuk sebuah pengalaman sinematik yang menantang sekaligus membangkitkan nostalgia memori horor Jepang era 2000-an, saya memberikan skor akhir 8/10.