Panji Prabowo

Meskipun jarak rumah saya dengan sekolah menengah atas saya yaitu SMAN 12 Jakarta itu cuma sekitar 5-6 KM, saya dulu lebih sering naik Kereta Rel Listrik (KRL). Naiknya dari Stasiun Pondok Kopi (sekarang stasiun Klender Baru) dan turunnya di Stasiun Klender.

Dulu Transjakarta belum sampe Pulogebang, dan kalau naik Metromini bisa makan waktu 45-60 menit, karena macet. Maka KRL-lah yang jadi opsi terbaik. Abodemen 1 bulan cuma 14 ribu rupiah saja, dan waktu tempuh cuma 5-7 menit.

KRL dulu branding-nya belum jadi Commuter Line, belum ber-AC, dan pintunya belum otomatis, eh lebih tepatnya otomatis selalu terbuka dan tidak bisa ditutup, entah kenapa itu. Juga frekuensinya belum sesering sekarang, jadi penuh pasti tak terhindarkan.

Jadi ya 5-7 menit memang waktu yang singkat tapi rasanya lama sekali kalau sambil bergelantungan dengan satu tangan dan hanya berpijak dengan satu kaki di pinggir pintu kereta yang tengah melaju.

Belum lagi kalau sudah masuk daerah Kawasan, banyak ranting-ranting pohon yang menjulur mencoba menjawil-jawil liar kami yang berlantungan. Sakit tersabet tapi tangan harus tetap kuat, kalau tidak ya jatuh.

Resiko yang setimpal? Mungkin iya bagi pikiran saya dulu. Tapi ya seperti kata Sheldon Cooper apa artinya life whitout whimsy, setidaknya jadi punya bahan cerita.

Itu yang kira-kira saya ceritain di foto pertama, di sela-sela training intern business development department-nya @qiwii.official pekan lalu.

Dan foto kedua saat setelah selesai training dan makan-makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *