Riuh ramainya dunia startup juga terbawa ke sampai institusi riset dan teknologi, dan membuat researcher juga ingin berbisnis. Tidak salah tentu saja.
Di satu sisi malah ini bagus, karena mendorong applied research, mendorong komersialisasi teknologi. Walau mudah-mudahan tidak sampai menganaktirikan basic research.
Tapi di sisi lain, hasrat berbisnis ini juga membuat lupa. Lupa yang pertama, lupa kalau komersialisasi teknologi jalannya bukan cuma jadi bisnis yang dijalani sendiri, bukan cuma jadi spin-off atau jadi startup. Ada licensing.
Walau ada juga yang ingat, tapi narasinya adalah “mending dijalani sendiri, daripada dibagi-bagi duitnya.”
Hei tunggu dulu..
Ini berkait dengan lupa yang kedua, yang lebih sering dilupai lagi. Yaitu berbisnis itu bukan cuma tentang membuat produk atau teknologi yang baik, ada manajemen orang, ada manajemen uang, ada manajemen pemasaran, dll.
Lebih baik bijak dalam membandingkan risk dan opportunity cost-nya. Resiko jika berbisnis bagaimana dan juga peluang jika tetap meriset dan melisensi saja bagaimana.
Ini utamanya menjadi catatan untuk saya sendiri juga sih.
**
Foto sewaktu monitoring ke inkubator bisnis di kampus Politeknik Negeri Sambas beberapa hari lalu.