Panji Prabowo

Malam di Kota Orang di Mana yang Benar Boleh Sewenang-wenang

Malam di kota orang di mana yang benar boleh sewenang-wenang Sementara yang salah hanya boleh pasrah terjepit di antara bayang-bayang gedung tinggi dan suara sirene yang tak pernah peduli Dan angin sedang kencang-kencangnya menampar wajah-wajah asing yang tak dikenalnya Dan lampu-lampu pun tampak muram hanya menyinari kebenaran-kebenaran yang kelam Lalu aku mengintip dari balik jendela berusaha mengenali siapa yang benar siapa yang salah Namun tak ada nama tak ada cerita hanya gerak bisu kaki-kaki letih yang terbiasa dengan hukuman tanpa alasan Lalu diujung jeda yang panjang aku tersadar Ini masih malam masih di kota orang masih tak ada bahasan juga balasan Padahal sekadari basa-basi “apa kabar” bisa kubuat jadi diskusi panjang   ~3 Des 2024~

Apabila Bulan Telah Hilang Cahayanya

Dan apabila bulan telah hilang cahayanya Maka hilang juga kata-katanya Kemudian gelap menelan bisikan sunyi Dan hati kembali kehilangan arti Dan kita hanya bisa menunggu Di antara bayang-bayang sang waktu   ~15 Okt 2024~

Bismillahi Tawakkaltu

Ketika terbang hari ini aku tersadar bahwa betapa tidak berdayanya diri ini. Jika meledak atau jatuh tidak ada apapun yang bisa kupegang untuk bergantung Tidak status, tidak harta, tidak ego. Tapi kemudian kutertegun bukan kah setiap hari juga sebenarnya seperti itu? Tiap hari kuberjalan bersisian dengan kematian dan tak ada yang bisa kupegang untuk bergantung. Maka setiap hari adalah perjalanan yang harus kumulai dengan bismillahi tawakkaltu’alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah, dengan nama Allah aku bertawakal kepada-Nya tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.   ~4 Okt 2024~

20 Tahun Munir

Hari ini sudah 20 tahun berlalu, tapi suaramu tak pernah bisu. Di setiap dinding yang tak terlihat, namamu terukir dalam sunyi yang berteriak. Kau adalah nyala yang tak padam, meski malam mencoba membungkam. Kau adalah suara yang menggema, berdiri tegak di tengah badai dusta. Kau pergi, tapi tidak hilang. Hari ini boleh kita meratapi, tapi ingat belum usai kita berjuang. ~7 Sep 2024~

Kekuatan Tak Selalu Benar, Kebenaran Tak Perlu Kasar

Setiap kata menjadi gada. Menghantam tanpa jeda. Mencederai tanpa peduli. Memaki tanpa hati. Memerangkap diri dalam badai yang dibuat sendiri. Padahal di balik topeng kuasa, tersembunyi kebutaan yang tak disadari. Bahwa kekuatan tak selalu benar. Bahwa kebenaran tak perlu kasar. ~24 Agustus 2024~

Kecuali Dia (2)

ternyata juli / ia kembali langitnya gelap / kemudian kudekap anginnya bersendalu / tangisnya silu buminya basah / air matanya bersimbah dan ternyata juli pergi / dan ia kembali menanti ~29 Jul 2024~

Kata Perpisahan untuk Jokpin

Hari ini, kata-kata meratapi kehilangan, ketika kau pergi ke pangkuan himalaya. Bagaimana kau di sana? Apakah di merah matamu senja masih berlabuh? Apakah kau masih berkata ‘kau adalah mata, dan aku airmatamu’? Kau sendiri adalah kata. Kau sendiri adalah kenangan yang sedang menyembuhkan. Doaku untukmu hanyalah selamat menunaikan ibadah puisi dalam keabadian.   ~27 Apr 2024~

Padahal Perjuangan

Melulu dalam buku-buku sejarah, dalam lagu-lagu pujian, dia diangkat tinggi dalam nuansa kekaguman. Digambarkan dengan indah sebagai simbol keberanian. Diromantisasi menjadi panggung drama perjuangan yang sakral. Tapi di balik narasi-narasi yang meriah, tersembunyi kisah-kisah yang tak selalu indah. Di balik bendera yang berkibar, terdapat kegagalan dan kepahitan yang menjalar. Di tengah sorakan massa, terperangkaplah keraguan yang menggema. Padahal perjuangan belum tentu tentang perlawanan, bisa juga kegigihan dalam mencapai impian. Tidak melulu melawan arus, tapi bisa juga memahami aliran, mencari jalan tengah, tanpa mengabaikan arah. Tidak melulu dengan keberanian yang berteriak-teriak tapi dengan kerendahan hati. Mungkin memang tidak dramatis tapi jalan lain mungkin juga perlu dirintis.   ~ 11 Feb 2024~