Panji Prabowo

20 Tahun Munir

Hari ini sudah 20 tahun berlalu, tapi suaramu tak pernah bisu. Di setiap dinding yang tak terlihat, namamu terukir dalam sunyi yang berteriak. Kau adalah nyala yang tak padam, meski malam mencoba membungkam. Kau adalah suara yang menggema, berdiri tegak di tengah badai dusta. Kau pergi, tapi tidak hilang. Hari ini boleh kita meratapi, tapi ingat belum usai kita berjuang. ~7 Sep 2024~

Kekuatan Tak Selalu Benar, Kebenaran Tak Perlu Kasar

Setiap kata menjadi gada. Menghantam tanpa jeda. Mencederai tanpa peduli. Memaki tanpa hati. Memerangkap diri dalam badai yang dibuat sendiri. Padahal di balik topeng kuasa, tersembunyi kebutaan yang tak disadari. Bahwa kekuatan tak selalu benar. Bahwa kebenaran tak perlu kasar. ~24 Agustus 2024~

Kecuali Dia (2)

ternyata juli / ia kembali langitnya gelap / kemudian kudekap anginnya bersendalu / tangisnya silu buminya basah / air matanya bersimbah dan ternyata juli pergi / dan ia kembali menanti ~29 Jul 2024~

Kata Perpisahan untuk Jokpin

Hari ini, kata-kata meratapi kehilangan, ketika kau pergi ke pangkuan himalaya. Bagaimana kau di sana? Apakah di merah matamu senja masih berlabuh? Apakah kau masih berkata ‘kau adalah mata, dan aku airmatamu’? Kau sendiri adalah kata. Kau sendiri adalah kenangan yang sedang menyembuhkan. Doaku untukmu hanyalah selamat menunaikan ibadah puisi dalam keabadian.   ~27 Apr 2024~

Padahal Perjuangan

Melulu dalam buku-buku sejarah, dalam lagu-lagu pujian, dia diangkat tinggi dalam nuansa kekaguman. Digambarkan dengan indah sebagai simbol keberanian. Diromantisasi menjadi panggung drama perjuangan yang sakral. Tapi di balik narasi-narasi yang meriah, tersembunyi kisah-kisah yang tak selalu indah. Di balik bendera yang berkibar, terdapat kegagalan dan kepahitan yang menjalar. Di tengah sorakan massa, terperangkaplah keraguan yang menggema. Padahal perjuangan belum tentu tentang perlawanan, bisa juga kegigihan dalam mencapai impian. Tidak melulu melawan arus, tapi bisa juga memahami aliran, mencari jalan tengah, tanpa mengabaikan arah. Tidak melulu dengan keberanian yang berteriak-teriak tapi dengan kerendahan hati. Mungkin memang tidak dramatis tapi jalan lain mungkin juga perlu dirintis.   ~ 11 Feb 2024~

Rindu Rindu

Rindu rindu. Dan sajak-sajak yang tercipta darimu. Hingga waktu pun dikejar. Dan jarak pun hajar. Cerita dan cerita. Tentang penyair yang bahagia. Hingga habis tintanya. Tentang wanita dan juga manusia. ~26 Mei 2023~

Reruntuhan

Demikian bumi dipenuhi reruntuhan-reruntuhan sisa kerajaan-kerajaan yang pada masanya berjaya dan merasa akan abadi. Lalu kini apa yang membuat kita berpikir tidak juga akan demikian kedepannya? ~10 Maret 2023~

Itu Bukan Tipemu

Tidak pernah kau seperti itu. Tidak seperti syair “duduk sini nak dekat pada bapak” Tidak. Itu bukan tipemu. Kau adalah yang bila habis nangis berkelahi anakmu, besok kau ajarinya dia bela diri. – 3 Mar 2023 –