Panji Prabowo

Setidaknya Hari ini, Tapi Besok Barangkali

Setidaknya hari ini. Aku bukan penunggu cahaya, aku hanya pengarsip gelap. Tiap malam sibuk mencatat, apa-apa yang tak pernah selamat. Aku tak mencari jalan, aku hanya menghindari reruntuhan. Melangkah di antara puing yang tak sempat kutahan. Hari-hari seperti ini, bukan untuk dijalani, ia ada untuk ditangguhkan perlahan. Hingga tubuh menyerah, atau kehendak padam diam-diam. Mereka bilang, “Tenang, nanti akan ada terang.” Tapi aku tahu itu tak benar. Tak ada akhir bahagia, hanya akhir. ** Tapi besok barangkali. Aku tak menunggu cahaya, tapi aku menyisakan ruang untuknya datang. Gelap bukan selalu luka, kadang cuma jeda yang diam-diam menenangkan. Aku tak tahu pasti arah jalan, tapi aku menapak, perlahan, melewati reruntuhan yang pernah menyakitkan tanpa harus selalu menambal semua keretakan. Hari-hari seperti ini memang tak perlu dirayakan, tapi bukan pula untuk dilupakan. Ia hanya perlu disapa, dengan tubuh yang lelah dan kehendak yang masih menyala. Mereka bilang, “Tenang, nanti akan ada terang.” Dan kali ini, barangkali aku percaya. Bukan karena pasti, tapi karena ingin.   ~22 April 2025~

Dekorasi Inklusi

Aku dijemput dari sudut-sudut sunyi Duduk paling depan, disorot paling terang Kursiku didorong bukan untuk maju Tapi agar muat dalam bingkai story-mu Mereka bilang ini inklusi, padahal aku cuma ornamen dekorasi Senyumku direkam, tanganku disalami— katanya “inspirasi” padahal aku tak pernah berniat jadi Aku bukan cerita, aku latar Aku bukan peserta, aku pelengkap wacana yang hambar Lalu aku turun sendiri Dengan kursi yang rodanya gontai Karena panggung harus kembali steril Untuk acara berikutnya yang lebih “prinsipil” ~17 April 2025~

Tua, Semakin Tua

Tua, semakin tua Dan waktu menjadi saksi bisu Dari mimpi yang tidak jadi nyata Sementara cermin bukan lagi tempat bercermin Tapi ruang introgasi yang diam-diam menghakimi Lalu rindu jadi lebih pilu Kemudian tawa jadi lebih hampa Dan kehilangan— tak lagi perlu sebab dan alasan ~17 April 2025~

Malam di Kota Orang Bersama Mereka yang Enggan Pulang

Malam di kota orang bersama mereka yang enggan pulang di mana yang lelah hanya boleh berjalan pelan dan yang kalah hanya boleh duduk tanpa tujuan Dan kereta terakhir di 23:40 gerbong lengang tapi kepalaku penuh sedang rindu beranjak pada pemilik senyuman yang tak peduli berapa jauh selalu ikut sampai tujuan   ~18 Feb 20224~

Cerita Pendek Orang Berumur Panjang

Cerita pendek orang berumur panjang, tentang pagi yang datang dan malam yang berpulang, juga hari-hari yang terus berulang, tapi tak pernah sungguh tertuliskan. ‘write something worth reading or do something worth writing’ katanya. namun lembar-lembarnya masih kosong, hingga akhir cerita. dan hari-harinya tak sempat terisi apa-apa ‘i am neither’ sesalnya   ~16 Jan 2025~

Malam di Kota Orang Bersama Waktu yang Berulang

malam di kota orang bersama waktu yang berulang dan mimpi-mimpi yang datang kini kembali pulang meninggalkan bimbang dan sesak yang terkenang berkali mau kuakhiri saja agar tenang tapi dia melarang dan katamu dia maha penyayang katamu meski malam berulang besok toh pagi juga pasti datang   ~31 Des 2024~

Malam di Kota Orang di Mana yang Benar Boleh Sewenang-wenang

Malam di kota orang di mana yang benar boleh sewenang-wenang Sementara yang salah hanya boleh pasrah terjepit di antara bayang-bayang gedung tinggi dan suara sirene yang tak pernah peduli Dan angin sedang kencang-kencangnya menampar wajah-wajah asing yang tak dikenalnya Dan lampu-lampu pun tampak muram hanya menyinari kebenaran-kebenaran yang kelam Lalu aku mengintip dari balik jendela berusaha mengenali siapa yang benar siapa yang salah Namun tak ada nama tak ada cerita hanya gerak bisu kaki-kaki letih yang terbiasa dengan hukuman tanpa alasan Lalu diujung jeda yang panjang aku tersadar Ini masih malam masih di kota orang masih tak ada bahasan juga balasan Padahal sekadari basa-basi “apa kabar” bisa kubuat jadi diskusi panjang   ~3 Des 2024~

Apabila Bulan Telah Hilang Cahayanya

Dan apabila bulan telah hilang cahayanya Maka hilang juga kata-katanya Kemudian gelap menelan bisikan sunyi Dan hati kembali kehilangan arti Dan kita hanya bisa menunggu Di antara bayang-bayang sang waktu   ~15 Okt 2024~

Bismillahi Tawakkaltu

Ketika terbang hari ini aku tersadar bahwa betapa tidak berdayanya diri ini. Jika meledak atau jatuh tidak ada apapun yang bisa kupegang untuk bergantung Tidak status, tidak harta, tidak ego. Tapi kemudian kutertegun bukan kah setiap hari juga sebenarnya seperti itu? Tiap hari kuberjalan bersisian dengan kematian dan tak ada yang bisa kupegang untuk bergantung. Maka setiap hari adalah perjalanan yang harus kumulai dengan bismillahi tawakkaltu’alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah, dengan nama Allah aku bertawakal kepada-Nya tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.   ~4 Okt 2024~