Panji Prabowo

Idealisme Banal

Kau menulis dunia dari balkon apartemen Sambil menyeruput kopi dan memaki tanpa argumen. Katamu ingin damai, adil, bebas penindasan— Tapi tak pernah melangkah dari lingkaran kenyamanan. Di story, kutipan pejuang berserakan. Di bio tertulis: agent of change kebanggaan. Namun saat perlawanan sungguhan menjelang, Kau sibuk menyunting wajah, lalu balik pulang. Bicara revolusi dari ruang ber-AC, Mengutuk perang sambil selfie kece. Keadilan tinggal jadi caption Empati dipoles—biar cocok untuk di-mention. Sungguh idealisme yang banal: Semangat yang viral, cepat lalu ditinggal. Idealisme narsistik yang manis: Rasanya puitik, tapi tujuannya bisnis. Paling nyaring tapi tidak peduli Paling ramai tapi tidak berarti Dan idealisme— kini cuma filter agar tak tampak basi Kau bilang ingin mengubah dunia Tapi takut kehilangan citra. Kau bilang ingin bela yang tertindas Tapi kalau ada peluang langsung balas “oke gas!” Dan mungkin benar dunia bisa berubah, Tapi bukan dengan narasi murah. Sebab perjuangan bukan dekorasi, Dan empati bukan estetika pribadi. ~25 Juni 2025~

Rumah

Mau saja aku bicara tentang pelangi, atau hal-hal indah lain di bumi. Tapi semua itu cuma ilusi, yang datang setelah kutenggak penawar ini. Kendalanya memang di luar kendaliku, lakunya malah jadi sebab lukaku. Dan rasa sakit yang masih tersisa, bukan hilang—hanya membuatku terbiasa. Sampai-sampai kutakut sembuh seutuhnya, karena ini telah jadi rumah yang diam-diam kupelihara. ~15 Juni 2025~

Aku Duduk di Tengah Deras

Aku duduk di tengah deras bukan karena ingin kuat, tapi karena tak ada tempat untuk jatuh tanpa terempas. Dan di antara hati yang beku, aku tak lagi tahu mana luka, mana rindu— semuanya menyaru pilu. ~30 Mei 2025~

Ulah Pati

Kupikir aku tahu apa itu sakit Sampai nyawa ini kupaksa cabut sebelum waktunya Kupikir aku tahu apa itu akhir Sampai diri ini terpenjara 60 ribu tahun tanpa cahaya Kukira gelap akan menenangkan Bahwa luka akan reda saat kupejam Tapi kini aku berakhir di keabadian Dan hanya nyeri yang terus menjerat diam Di sini, tak ada fajar, tak ada bayang Hanya sunyi, dan gema namamu yang terbuang Aku tak ingin menyakitimu Kukira, pergiku meringankanmu Ternyata hanya melayani egoku Maafkan aku Aku ingin menjerit, tapi tak punya suara Aku ingin menebus, tapi tak punya tubuh Aku ingin kembali—namun waktuku telah runtuh Ulah pati bukan jalan pulang Melainkan sesat yang panjang Doakan aku, bila masih bisa Biar kelak, bila gelap ini telah lunas Aku akan kembali mencintai terang Meski hanya setitik bias ~27 Mei 2025~

Tetap Hidup

Aku tak tahu apa yang kurasa Hanya gelisah yang berulang Dan doa-doa yang menghilang Terpendam diam di dalam hampa Setiap pagi Aku berharap pada malam Setiap malam Aku berharap mati Namun aku tetap hidup Meski lebih sering hanyut Dalam diam yang bersambut Dan nyala yang meredup ~21 Mei 2025~

Setidaknya Hari ini, Tapi Besok Barangkali

Setidaknya hari ini. Aku bukan penunggu cahaya, aku hanya pengarsip gelap. Tiap malam sibuk mencatat, apa-apa yang tak pernah selamat. Aku tak mencari jalan, aku hanya menghindari reruntuhan. Melangkah di antara puing yang tak sempat kutahan. Hari-hari seperti ini, bukan untuk dijalani, ia ada untuk ditangguhkan perlahan. Hingga tubuh menyerah, atau kehendak padam diam-diam. Mereka bilang, “Tenang, nanti akan ada terang.” Tapi aku tahu itu tak benar. Tak ada akhir bahagia, hanya akhir. ** Tapi besok barangkali. Aku tak menunggu cahaya, tapi aku menyisakan ruang untuknya datang. Gelap bukan selalu luka, kadang cuma jeda yang diam-diam menenangkan. Aku tak tahu pasti arah jalan, tapi aku menapak, perlahan, melewati reruntuhan yang pernah menyakitkan tanpa harus selalu menambal semua keretakan. Hari-hari seperti ini memang tak perlu dirayakan, tapi bukan pula untuk dilupakan. Ia hanya perlu disapa, dengan tubuh yang lelah dan kehendak yang masih menyala. Mereka bilang, “Tenang, nanti akan ada terang.” Dan kali ini, barangkali aku percaya. Bukan karena pasti, tapi karena ingin.   ~22 April 2025~

Dekorasi Inklusi

Aku dijemput dari sudut-sudut sunyi Duduk paling depan, disorot paling terang Kursiku didorong bukan untuk maju Tapi agar muat dalam bingkai story-mu Mereka bilang ini inklusi, padahal aku cuma ornamen dekorasi Senyumku direkam, tanganku disalami— katanya “inspirasi” padahal aku tak pernah berniat jadi Aku bukan cerita, aku latar Aku bukan peserta, aku pelengkap wacana yang hambar Lalu aku turun sendiri Dengan kursi yang rodanya gontai Karena panggung harus kembali steril Untuk acara berikutnya yang lebih “prinsipil” ~17 April 2025~

Tua, Semakin Tua

Tua, semakin tua Dan waktu menjadi saksi bisu Dari mimpi yang tidak jadi nyata Sementara cermin bukan lagi tempat bercermin Tapi ruang introgasi yang diam-diam menghakimi Lalu rindu jadi lebih pilu Kemudian tawa jadi lebih hampa Dan kehilangan— tak lagi perlu sebab dan alasan ~17 April 2025~

Malam di Kota Orang Bersama Mereka yang Enggan Pulang

Malam di kota orang bersama mereka yang enggan pulang di mana yang lelah hanya boleh berjalan pelan dan yang kalah hanya boleh duduk tanpa tujuan Dan kereta terakhir di 23:40 gerbong lengang tapi kepalaku penuh sedang rindu beranjak pada pemilik senyuman yang tak peduli berapa jauh selalu ikut sampai tujuan   ~18 Feb 20224~