Sabtu Pergi Dengan Tergesa
Sabtu pergi dengan tergesa, padahal rindu tak tahu harus ke mana. Kota melambat, tapi jam-jam bergerak cepat, dan aku jadi ingat caramu diam. Mungkin bukan Sabtu yang cepat, mungkin aku yang tak pernah siap. Karena setiap rindu selalu datang terlambat, dan akhirnya aku pulang sendirian. ~10 Januari 2026~
Padahal Senja
Padahal senja bagiku hanyalah waktu ketika cahaya menyerah. Dan di antara jingga yang perlahan gugur, sepi menatapku lelah. ~7 November 2025~
Malam di Kota Orang, Lampu-Lampu Berkedip Seperti Kenangan
Malam di kota orang, lampu-lampu berkedip seperti kenangan. Bayanganmu kadang masih lewat di jendela, dan aku masih menatap langit yang sama— meski bintangnya tak lagi kita hitung bersama. Kau dulu bertanya, “Akankah kisahnya berakhir bahagia?” Kini aku tahu, kebahagiaan tak selalu tentang bersama. Kadang tentang menerima arah yang berbeda, tentang tahu kapan berhenti, dan merela. Terlintas juga di kepalaku, semua yang pernah kita semogakan— tak semuanya jadi nyata, tapi tak sia-sia. Karena dari kehilangan pun, kita belajar mencinta. Masih malam, masih di kota orang, tapi aku tak lagi menunggu jawaban. Hanya berharap di tempatmu ada cahaya, seperti dulu, tatapanmu sebelum kita saling melupa. ~30 Oktober 2025~
Daisuki Da Yo
Meski waktu telah melunakkan degup itu,anehnya—setiap pagi aku jatuh cinta lagi.Pada caramu menatap kopi yang belum manis,atau tawa kecilmu pada lelucon yang sudah seribu kali terulang. Kata yang dulu sulit terucap,kini jadi doa paling ringan di dada.Tak perlu bunga, tak perlu bintang jatuh—cukup keberadaanmu di sisiku,saat dunia terasa gaduh. ~7 Oktober 2025~
Post Mortem
Sirine meraung,tapi bukan pertolongan yang datang,melainkan represi. Kau sebut itu prosedur,kami bilang itu ngawur. Di tepi jalan, tubuh terbujur,bukan lagi penumpang, bukan lagi pengemudi,hanya angka di catatan negara. Aspal masih hangat, tapi hatimu dingin.Dan post mortemlebih jujur dari konferensi pers yang melempem. Pertanyaan retoris menggantung di udara:hari ini siapa yang lagi-lagi menderita? ~2 September 2025~
Hujan Semalam Sudah Kering
Hujan semalam sudah kering, tapi air mata di wajah masih basah. Pada siapa kita mesti percaya, bila penegak hukum melanggar hukum? Roda keadilan berputar sembarangan, melindas yang hanya mencari makan. Aspal jadi makam, sirine berubah ejekan, dan keadilan kabur bersama permintaan maaf. Katanya hukum untuk semua, kenapa senjata hanya terarah pada sebagian saja? Di jalan raya teriakan memekak, tapi di balik gedung dan kursi empuk—sunyi. Para pemimpin tak kekurangan janji, tapi kehilangan hati nurani. Dan celakanya, nyawa rakyat kecil kembali jatuh malam tadi. ~29 Agustus 2025~
Sore
Baru kulihat sore, tadi malam. Ia datang dari senja-hitam kelam, berduka, lalu kembali membuatnya merah merekah, bahagia. Darinya aku belajar tentang cinta dan waktu tentang cinta yang tak hilang oleh waktu, meski seratus, atau sepuluh ribu kali pun berlalu. Darinya aku belajar tentang menerima dan memaafkan tentang menerima yang bahkan tak termaafkan. Meski berat, melepaskan ternyata bisa menenangkan. Darinya aku belajar tentang pergi dan kembali tentang boleh saja pergi, asal jangan lupa kembali. Meski lelah, pulang ternyata selalu dinanti. ~12 Juli 2025~
Idealisme Banal
Kau menulis dunia dari balkon apartemen Sambil menyeruput kopi dan memaki tanpa argumen. Katamu ingin damai, adil, bebas penindasan— Tapi tak pernah melangkah dari lingkaran kenyamanan. Di story, kutipan pejuang berserakan. Di bio tertulis: agent of change kebanggaan. Namun saat perlawanan sungguhan menjelang, Kau sibuk menyunting wajah, lalu balik pulang. Bicara revolusi dari ruang ber-AC, Mengutuk perang sambil selfie kece. Keadilan tinggal jadi caption Empati dipoles—biar cocok untuk di-mention. Sungguh idealisme yang banal: Semangat yang viral, cepat lalu ditinggal. Idealisme narsistik yang manis: Rasanya puitik, tapi tujuannya bisnis. Paling nyaring tapi tidak peduli Paling ramai tapi tidak berarti Dan idealisme— kini cuma filter agar tak tampak basi Kau bilang ingin mengubah dunia Tapi takut kehilangan citra. Kau bilang ingin bela yang tertindas Tapi kalau ada peluang langsung balas “oke gas!” Dan mungkin benar dunia bisa berubah, Tapi bukan dengan narasi murah. Sebab perjuangan bukan dekorasi, Dan empati bukan estetika pribadi. ~25 Juni 2025~
Rumah
Mau saja aku bicara tentang pelangi, atau hal-hal indah lain di bumi. Tapi semua itu cuma ilusi, yang datang setelah kutenggak penawar ini. Kendalanya memang di luar kendaliku, lakunya malah jadi sebab lukaku. Dan rasa sakit yang masih tersisa, bukan hilang—hanya membuatku terbiasa. Sampai-sampai kutakut sembuh seutuhnya, karena ini telah jadi rumah yang diam-diam kupelihara. ~15 Juni 2025~