Jim
Aku belajar benar dan salah bukan dari buku, tapi dari siapa yang duduk di sampingku meski saat dunia menyebutnya salah. ~21 Januari 2026~
Malam di Kota Orang, Kehilangan Duduk di Sebelahku
Malam di kota orang, kehilangan duduk di sebelahku, diam-diam menyesap sisa harap yang tak sempat kusembunyikan. Ia mengenyakkan duduknya, lalu berkata pelan: putus asa tak pernah diam— ia tetap berjalan, meski tak yakin ke mana tujuan. Aku menatap keluar, mengacuhkannya. Lampu jalan tak lagi menuntun, hanya memanjangkan bayang dari nama-nama yang tak pulang. Ia bicara lagi, kali ini nyaris berbisik: aku pulang membawa tangan kosong— bukan karena tak mencoba, melainkan karena tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Aku terpicu, menoleh padanya, baru hendak aku membantah, tapi kehilangan sudah pergi meninggalkan kalimatnya tertahan di kepalaku. ~15 Januari 2026~
Sabtu Pergi Dengan Tergesa
Sabtu pergi dengan tergesa, padahal rindu tak tahu harus ke mana. Kota melambat, tapi jam-jam bergerak cepat, dan aku jadi ingat caramu diam. Mungkin bukan Sabtu yang cepat, mungkin aku yang tak pernah siap. Karena setiap rindu selalu datang terlambat, dan akhirnya aku pulang sendirian. ~10 Januari 2026~
Padahal Senja
Padahal senja bagiku hanyalah waktu ketika cahaya menyerah. Dan di antara jingga yang perlahan gugur, sepi menatapku lelah. ~7 November 2025~
Malam di Kota Orang, Lampu-Lampu Berkedip Seperti Kenangan
Malam di kota orang, lampu-lampu berkedip seperti kenangan. Bayanganmu kadang masih lewat di jendela, dan aku masih menatap langit yang sama— meski bintangnya tak lagi kita hitung bersama. Kau dulu bertanya, “Akankah kisahnya berakhir bahagia?” Kini aku tahu, kebahagiaan tak selalu tentang bersama. Kadang tentang menerima arah yang berbeda, tentang tahu kapan berhenti, dan merela. Terlintas juga di kepalaku, semua yang pernah kita semogakan— tak semuanya jadi nyata, tapi tak sia-sia. Karena dari kehilangan pun, kita belajar mencinta. Masih malam, masih di kota orang, tapi aku tak lagi menunggu jawaban. Hanya berharap di tempatmu ada cahaya, seperti dulu, tatapanmu sebelum kita saling melupa. ~30 Oktober 2025~
Daisuki Da Yo
Meski waktu telah melunakkan degup itu,anehnya—setiap pagi aku jatuh cinta lagi.Pada caramu menatap kopi yang belum manis,atau tawa kecilmu pada lelucon yang sudah seribu kali terulang. Kata yang dulu sulit terucap,kini jadi doa paling ringan di dada.Tak perlu bunga, tak perlu bintang jatuh—cukup keberadaanmu di sisiku,saat dunia terasa gaduh. ~7 Oktober 2025~
Post Mortem
Sirine meraung,tapi bukan pertolongan yang datang,melainkan represi. Kau sebut itu prosedur,kami bilang itu ngawur. Di tepi jalan, tubuh terbujur,bukan lagi penumpang, bukan lagi pengemudi,hanya angka di catatan negara. Aspal masih hangat, tapi hatimu dingin.Dan post mortemlebih jujur dari konferensi pers yang melempem. Pertanyaan retoris menggantung di udara:hari ini siapa yang lagi-lagi menderita? ~2 September 2025~
Hujan Semalam Sudah Kering
Hujan semalam sudah kering, tapi air mata di wajah masih basah. Pada siapa kita mesti percaya, bila penegak hukum melanggar hukum? Roda keadilan berputar sembarangan, melindas yang hanya mencari makan. Aspal jadi makam, sirine berubah ejekan, dan keadilan kabur bersama permintaan maaf. Katanya hukum untuk semua, kenapa senjata hanya terarah pada sebagian saja? Di jalan raya teriakan memekak, tapi di balik gedung dan kursi empuk—sunyi. Para pemimpin tak kekurangan janji, tapi kehilangan hati nurani. Dan celakanya, nyawa rakyat kecil kembali jatuh malam tadi. ~29 Agustus 2025~
Sore
Baru kulihat sore, tadi malam. Ia datang dari senja-hitam kelam, berduka, lalu kembali membuatnya merah merekah, bahagia. Darinya aku belajar tentang cinta dan waktu tentang cinta yang tak hilang oleh waktu, meski seratus, atau sepuluh ribu kali pun berlalu. Darinya aku belajar tentang menerima dan memaafkan tentang menerima yang bahkan tak termaafkan. Meski berat, melepaskan ternyata bisa menenangkan. Darinya aku belajar tentang pergi dan kembali tentang boleh saja pergi, asal jangan lupa kembali. Meski lelah, pulang ternyata selalu dinanti. ~12 Juli 2025~