Panji Prabowo

Para Pelari Hujan

Tidak berhenti untuk dilihat, tidak melambang untuk disapa, karena di bawah derasnya, akhirnya para peljari hujan punya alasan untuk menangis tanpa perlu menjelaskan. ~8 April 2026~

Tarawih

Tarawih dengan lampu-lampu yang padam, dan doa-doa menemukan jalannya tanpa perlu terang. ~21 Feb 2026~

Re: Indahnya Senyum Manismu

Jika senyummu datang hari ini, aku tak akan mengikatnya dengan harapan. Cukup kubiarkan ia lewat— seperti cahaya sore: indah, hangat, sebentar lalu pergi. ~7 Feb 2026~

Malam di Kota Orang Bersama Mereka yang Berada di Barisan Paling Belakang

Malam di kota orang, bersama mereka yang berada di barisan paling belakang. Mereka berdiri tanpa poster besar, tanpa kata-kata yang pandai. Tak ada mikrofon, tak ada kamera menoleh, hanya kaki yang lelah dan punggung yang terbiasa menunduk. Bayaran ditunda, janji digantung, hak dipelintir jadi prosedur. Mereka tak berteriak, karena teriak butuh tenaga yang sudah habis dipakai hidup. Suara-suara datang dari piring yang tak penuh, dari tangis anak-anak yang disuruh diam, dari doa yang tak sempat dipamerkan. Padahal suara yang lirih di lisan terdengar paling keras di hati. Dan sementara dunia sibuk mendengar yang lantang, yang paling jujur justru tenggelam— pelan, sabar, dan terus diinjak. ~3 Februari 2026~

Jim

Aku belajar benar dan salah bukan dari buku, tapi dari siapa yang duduk di sampingku meski saat dunia menyebutnya salah. ~21 Januari 2026~

Malam di Kota Orang, Kehilangan Duduk di Sebelahku

Malam di kota orang, kehilangan duduk di sebelahku, diam-diam menyesap sisa harap yang tak sempat kusembunyikan. Ia mengenyakkan duduknya, lalu berkata pelan: putus asa tak pernah diam— ia tetap berjalan, meski tak yakin ke mana tujuan. Aku menatap keluar, mengacuhkannya. Lampu jalan tak lagi menuntun, hanya memanjangkan bayang dari nama-nama yang tak pulang. Ia bicara lagi, kali ini nyaris berbisik: aku pulang membawa tangan kosong— bukan karena tak mencoba, melainkan karena tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Aku terpicu, menoleh padanya, baru hendak aku membantah, tapi kehilangan sudah pergi meninggalkan kalimatnya tertahan di kepalaku. ~15 Januari 2026~

Sabtu Pergi Dengan Tergesa

Sabtu pergi dengan tergesa, padahal rindu tak tahu harus ke mana. Kota melambat, tapi jam-jam bergerak cepat, dan aku jadi ingat caramu diam. Mungkin bukan Sabtu yang cepat, mungkin aku yang tak pernah siap. Karena setiap rindu selalu datang terlambat, dan akhirnya aku pulang sendirian. ~10 Januari 2026~

Padahal Senja

Padahal senja bagiku hanyalah waktu ketika cahaya menyerah. Dan di antara jingga yang perlahan gugur, sepi menatapku lelah. ~7 November 2025~

Malam di Kota Orang, Lampu-Lampu Berkedip Seperti Kenangan

Malam di kota orang, lampu-lampu berkedip seperti kenangan. Bayanganmu kadang masih lewat di jendela, dan aku masih menatap langit yang sama— meski bintangnya tak lagi kita hitung bersama. Kau dulu bertanya, “Akankah kisahnya berakhir bahagia?” Kini aku tahu, kebahagiaan tak selalu tentang bersama. Kadang tentang menerima arah yang berbeda, tentang tahu kapan berhenti, dan merela. Terlintas juga di kepalaku, semua yang pernah kita semogakan— tak semuanya jadi nyata, tapi tak sia-sia. Karena dari kehilangan pun, kita belajar mencinta. Masih malam, masih di kota orang, tapi aku tak lagi menunggu jawaban. Hanya berharap di tempatmu ada cahaya, seperti dulu, tatapanmu sebelum kita saling melupa. ~30 Oktober 2025~