Aku Baik-Baik Saja
Aku baik-baik saja, kataku. Padahal pedih sudah penuh di pelupuk mata, seperti hujan yamg mengantri turun di bulan Desember, menunggu satu alasan kecil untuk akhirnya runtuh. ~1 Jun 2026~
Rasa Sakit yang Belajar
rasa sakit yang belajar bertahan lebih lama dari jam dinding, membuat malam tidak benar-benar tidur. langkah-langkah di depan pintu, mesin-mesin yang menyala dan dinding putih dihiasi ia yang disalib di tengahnya terlalu nyata untuk mengerti takut. Walau memang tak ada yang benar-benar gagah di rumah sakit. doa jadi lebih jujur, dan manusia kembali kecil. ~26 Mei 2026~
Malam di Kota Orang yang Membuat Kita Merasa Abadi
Malam di kota orang yang membuat kita merasa abadi. Dan konsekuesn dari abadi adalah waktu tak lagi berarti. Maka sudahlah… Harusnya di jam-jam seperti ini saatnya waktu berhenti. Sebelum langkah-langkah hilang diantara trotoar yang basah. Sebelum pagi kembali mengajari cara berpisah. ~18 Mei 2026~
Para Pelari Hujan
Tidak berhenti untuk dilihat, tidak melambang untuk disapa, karena di bawah derasnya, akhirnya para peljari hujan punya alasan untuk menangis tanpa perlu menjelaskan. ~8 April 2026~
Tarawih
Tarawih dengan lampu-lampu yang padam, dan doa-doa menemukan jalannya tanpa perlu terang. ~21 Feb 2026~
Re: Indahnya Senyum Manismu
Jika senyummu datang hari ini, aku tak akan mengikatnya dengan harapan. Cukup kubiarkan ia lewat— seperti cahaya sore: indah, hangat, sebentar lalu pergi. ~7 Feb 2026~
Malam di Kota Orang Bersama Mereka yang Berada di Barisan Paling Belakang
Malam di kota orang, bersama mereka yang berada di barisan paling belakang. Mereka berdiri tanpa poster besar, tanpa kata-kata yang pandai. Tak ada mikrofon, tak ada kamera menoleh, hanya kaki yang lelah dan punggung yang terbiasa menunduk. Bayaran ditunda, janji digantung, hak dipelintir jadi prosedur. Mereka tak berteriak, karena teriak butuh tenaga yang sudah habis dipakai hidup. Suara-suara datang dari piring yang tak penuh, dari tangis anak-anak yang disuruh diam, dari doa yang tak sempat dipamerkan. Padahal suara yang lirih di lisan terdengar paling keras di hati. Dan sementara dunia sibuk mendengar yang lantang, yang paling jujur justru tenggelam— pelan, sabar, dan terus diinjak. ~3 Februari 2026~
Jim
Aku belajar benar dan salah bukan dari buku, tapi dari siapa yang duduk di sampingku meski saat dunia menyebutnya salah. ~21 Januari 2026~
Malam di Kota Orang, Kehilangan Duduk di Sebelahku
Malam di kota orang, kehilangan duduk di sebelahku, diam-diam menyesap sisa harap yang tak sempat kusembunyikan. Ia mengenyakkan duduknya, lalu berkata pelan: putus asa tak pernah diam— ia tetap berjalan, meski tak yakin ke mana tujuan. Aku menatap keluar, mengacuhkannya. Lampu jalan tak lagi menuntun, hanya memanjangkan bayang dari nama-nama yang tak pulang. Ia bicara lagi, kali ini nyaris berbisik: aku pulang membawa tangan kosong— bukan karena tak mencoba, melainkan karena tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Aku terpicu, menoleh padanya, baru hendak aku membantah, tapi kehilangan sudah pergi meninggalkan kalimatnya tertahan di kepalaku. ~15 Januari 2026~