Panji Prabowo

Lalu Bagaimana Aku yang Mau Abadi

Kereta berangkat dan angin berlalu. Timur ditinggal dan bintang tidur satu-satu. Katanya nyala juga akan gelap. Katanya tanah retak lalu menggersang. Katanya mati hanya persoalan waktu. Lalu bagaimana aku yang mau abadi?   ~11 Desember 2019~

Sisa-Sisa Sejarah

Seperti anjing, mereka menjilat hingga liurnya menetes kemana-mana. Tapi tidak seperti anjing, mereka tidak kenal loyalitas dan kata setia. Buang saja orang-orang sepert ini. Tidak malu mereka minta jatah. Tanpa peduli itu tidak absah. Ronin-ronin tanpa tuan sisa-sisa sejarah.   ~8 November 2019~

Permisif

Sebenarnya aku mencari yang ringan-ringan saja. Tidak ku menolak menunduk, hanya kujadikan tujuanku di tanah, agar menundukku ada arti. Tidak ku belok kiri, hanya ku belok kanan, dengan badanku menghadap kiri. ~16  Oktobber 2019~

Kebenaran Bukan Hasil Kebetulan

Tidak harus, tetapi boleh. Bukan karena biasa dan sering, lalu menjadi benar. Benar adalah betul yang tidak terbatas oleh lazim dan waktu. Karenanya kebenaran itu bukan hasil kebetulan.   ~7 Oktober 2019 ~

Mencari Widji Thukul

Mencari pembenaran Dalam Kamar 6×7 Meter. Mencari kebenaran dengan Peringatan. Tidakku temukan. ~23 Sep 2019~

Rak-Rak Berdebu

Adat seharusnya bukan hanya ada untuk perkara hiasan pelaminan. Seperti agama yang juga tidak hanya ada untuk urusan perkawinan dan pemakaman. Seperti buku yang juga tidak hanya ada untuk panjangan pada rak-rak berdebu. ~20 Agustus 2019~

Bintang

Malam-malam begini di Bandung. Di bosscha, bintangnya cuma di buku-buku. Di bukit bintang, bintangnya dari cahaya lampu. Di langit, bintangnya malah malu. ~14 Agustus 2019~

Biar Simple

Dalam alunan bunyi yang konstan dan teredam justru suara di kepala ini yang berisik. Dalam petuah-petuah tentang passion selalu diiringi pertanyaan “what keeps you awake at night”. Ingin kujawab saja dengan lampu atau pagar belum dikunci atau dengkur sebenarnya. Biar simple. ~2 Agustus 2019~