Beberapa hari yang lalu, takdir pekerjaan membawa saya ke Ternate. Sebuah pulau yang berabad-abad lalu menjadi episentrum perebutan rempah oleh Portugis dan Belanda. Niat awalnya murni profesional: mengisi pelatihan digitalisasi untuk Bank Indonesia Maluku Utara. Namun, begitu pesawat merendah dan mata saya menangkap siluet megah Gunung Gamalama yang dikepung lautan, sebuah pikiran impulsif mendadak muncul: Kayaknya seru kalau keliling pulau ini naik motor.
Setelah memeriksa peta, lingkar luar pulau ini ternyata tidak terlalu besar—hanya sekitar 42 hingga 52 Km. Maka di sebuah sore, memanfaatkan waktu luang yang terselip di antara jadwal kerja, tekad saya bulat. Tanpa rencana matang, hanya bermodal Google Maps dan rasa penasaran, saya meminjam motor.

Metodenya sederhana: bergerak melawan arah jarum jam (counter-clockwise), dimulai ke arah utara. Inilah 50 kilometer perjalanan impromptu saya selama 3 jam 2 menit, mengitari Pulau Ternate, tempat kaki raksasa Gamalama menjejak.
Titik Start: Hotel Gwen (16.09) Hotel tempat saya menginap berada persis di seberang Mall Jatiland, area yang cukup ramai di pusat kota. Dari sini, petualangan dimulai.
Titik 1: Benteng Tolukko (16.17) Hanya butuh 8 menit (3 Km) untuk sampai ke sini. Benteng ini dibangun oleh kapten Portugis dan awalnya dinamai Santo Lucas. Berada di atas tebing batu, posisinya sangat strategis untuk mengawasi lautan sekaligus menyimpan cengkeh. Konon, nama “Tolukko” lahir karena lidah masyarakat lokal yang kesulitan melafalkan “Santo Lucas.” Saya menghabiskan 15 menit di sini, menikmati angin laut dari dinding benteng tua yang masih kokoh.



Titik 2: Batu Angus (16.43) Berjarak 5 Km dari Tolukko, tempat ini menyajikan visual yang dramatis sekaligus ngeri: hamparan batu vulkanik hitam legam sisa letusan hebat Gunung Gamalama pada tahun 1737 dan 1907. Berada di sini memicu perasaan ganjil. Apalagi beberapa hari sebelum kedatangan saya, Gunung Dukono di Halmahera Utara, yang letaknya berseberangan pulau, baru saja meletus dan memakan korban turis. Alam di sini sangat indah, tapi ia juga tidak pernah lupa mengingatkan kita akan kekuatannya. Di sini saya menghabiskan waktu 20 menit untuk foto-foto dan juga berbincang singkat dengan beberapa turis dari Korea.



Titik 3: Laugh Tale (17.05) Hanya 3 menit dari Batu Angus, saya menemukan titik di Google Maps yang bertuliskan “Laugh Tale.” Bagi penggemar One Piece, ini jelas nama pulau terakhir tempat harta karun legendaris berada. Tentu saja, di Ternate tidak ada One Piece (sayangnya). Tapi tempat ini menjadi titik singgah yang manis karena menawarkan pemandangan langsung ke Pulau Hiri di seberang sana.


Titik 4: Pantai Jikomalamo (17.35) Bergerak 5,5 Km lagi ke barat, saya tiba di Jikomalamo. Pantai ini adalah salah satu sunset point terbaik dengan latar Pulau Hiri yang eksotis. Saat saya sampai, matahari masih butuh satu jam lagi untuk benar-benar tenggelam, tetapi gradasi warna langit senjanya sudah lebih dari cukup untuk memanjakan mata.


Titik 5: Danau Tolire Besar (17.58) Melewati Tolire Kecil yang tampak biasa dari pinggir jalan, saya langsung menuju Tolire Besar. Danau ini dipenuhi mitos. Penjual di sekitar lokasi bercerita tentang buaya putih siluman yang menjaga danau, hingga mitos paling populer: tidak ada satu pun orang yang bisa melempar batu hingga menyentuh permukaan air danau dari atas tebing. Batu itu dipercaya akan “ditelan” kekuatan gaib.

Plot twist-nya: dua hari setelah perjalanan ini, saya kembali ke sini bersama dua orang teman. Dan mitos kedua, ternyata murni masalah prespektif, bias visual, dan ekspektasi saja. Kami bisa melihat batu yang dilempar menyentuh permukaan. Tapi detail fisika di baliknya tidak akan saya bocorkan di sini. Kalau nanti kamu ke sana, ajak saya, baru akan saya ceritakan.
Titik 6: Makam Sultan Baabullah (18.35) Perjalanan terjauh adalah dari Tolire menuju sisi barat pulau (15 Km). Jalurnya berkelok-kelok sepi ditemani matahari terbenam. Satu-satunya “hambatan” di sini adalah kawanan kambing gembala yang dibiarkan bebas dan hobi menyeberang jalan mendadak.
![WhatsApp Video 2026-05-16 at 17.21.15.mp4_snapshot_00.27_[2026.05.16_17.55.13]](https://panji.prabowo.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Video-2026-05-16-at-17.21.15.mp4_snapshot_00.27_2026.05.16_17.55.13.png)
![WhatsApp Video 2026-05-16 at 17.21.15.mp4_snapshot_00.01_[2026.05.16_17.54.34]](https://panji.prabowo.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Video-2026-05-16-at-17.21.15.mp4_snapshot_00.01_2026.05.16_17.54.34.png)
Tujuan saya adalah makam Sultan Baabullah, pahlawan nasional yang berhasil mengusir Portugis pada 1575 dan membawa Ternate ke puncak kejayaan maritimnya. Sayangnya, saya tidak sampai ke titik makam. Selain karena hari sudah maghrib dan saya sungkan dengan warga desa Foramadiahi yang sedang berduyun-duyun ke masjid, tanjakan lereng Gamalama di titik ini terlalu ekstrem untuk motor matic yang saya pinjam ini. Catatan untuk masa depan: ke sini harus siang hari.
Titik 7: Pantai Fitu (18.50) Spot terakhir sebelum kembali ke kota. Pantai ini sangat terkenal karena sudut pandangnya menghadap Pulau Maitara dan Tidore—persis seperti lukisan di uang kertas Rp1.000 emisi tahun 2000. Karena saya tiba saat hari sudah gelap, pesonanya agak meredup di mata. Saya hanya mengambil beberapa foto cepat selama 5 menit.


Titik Finish: Hotel Gwen (19.11) Setelah berkendara 17 menit dari Pantai Fitu, saya kembali ke titik semula.
Tiga jam dua menit untuk mengitari sebuah pulau yang pernah mengubah sejarah dunia karena buah cengkehnya. Sebuah perjalanan dadakan yang menyenangkan. Ternate, kamu seru!