Panji Prabowo

Beberapa bulan lalu, saya sudah menonton The Furious di layar lebar bioskop. Namun, untuk film aksi dengan intensitas brutal seperti ini, rasanya ada yang kurang jika belum menikmatinya dalam versi uncut tanpa sensor, maka barusan saya menontonnya di layar TV rumah. Saya ingin melihat bagaimana setiap pukulan, bantingan, dan tulang yang rasanya hampir patah itu bekerja tanpa harus berimajinasi sendiri. Dan setelah menontonnya untuk kedua kali, komentar saya masih sama: gila.

Selama bertahun-tahun, kita sebagai pemuja adrenalin kolektif selalu punya pertanyaan yang sama: kapan takhta The Raid akan menemukan pewarisnya? Saya rasa pencarian itu akhirnya berlabuh di The Furious. Sepanjang durasi, saya dibuat termenung oleh keindahan teknisnya, tertawa takjub pada kreativitas koreografinya, hingga sesekali berteriak histeris menikmati kebrutalannya yang tanpa kompromi.

Keberhasilan film ini tentu tidak bisa dilepaskan dari Kenji Tanigaki. Sebagai mantan stuntman dan koordinator aksi, saya melihat Tanigaki layaknya Chad Stahelski versi Asia. Ia memahami sesuatu yang esensial namun sering dilupakan sinema aksi modern: pertarungan yang bagus harus bisa dilihat. Kebetulan, kemarin saya baru saja melakukan maraton seri Bourne untuk memperingati 17-an (eh..), dan perbedaannya terasa sangat kontras.

Jika Bourne menjadi contoh paling ekstrem dari estetika shaky cam dan editing supercepat, The Furious justru mengambil arah sebaliknya. Kamera dibiarkan lebih lebar dan relatif stabil. Ia bergerak mengikuti karakter, bukan berusaha menyembunyikan keterbatasan mereka. Cut digunakan seperlunya, menciptakan apa yang saya sebut sebagai kekeosan yang terkontrol. Tanigaki membuktikan bahwa untuk membuat aksi terasa cepat, kamera tidak perlu ikut panik. Kita diberi ruang untuk melihat kejujuran gerak yang tertangkap utuh oleh lensa, membuktikan bahwa level film aksi dinaikkan melalui kejujuran koreografi, bukan manipulasi ruang potong.

Secara premis, The Furious sebenarnya sangat sederhana. Kalau mau diperas menjadi satu kalimat, ini adalah Taken versi yang jauh lebih ugal-ugalan. Namun, di balik dentuman pukulannya, film ini menyisipkan bobot emosional yang kelam melalui isu penculikan anak dan perdagangan manusia (human trafficking). Isu ini bukan sekadar plot device; ia merepresentasikan ketakutan eksistensial bagi seorang orang tua untuk kehilangan buah hati di dalam ruang gelap industri yang tak tersentuh hukum.

Kedalaman trauma ini tercermin kuat pada sosok Wang (Xie Miao), seorang ayah tuna wicara yang memburu sindikat tersebut demi putrinya. Keputusan menjadikan Wang bisu adalah langkah jenius—dukanya tidak tersumbat dalam dialog klise, melainkan meledak melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang tajam. Kehadiran Navin (Joe Taslim) menjadi penyeimbang krusial. Selain memberikan eksposisi narasi, teknik Judo yang ia usung memberikan beban gravitasi nyata yang mengubah duka mereka menjadi bahasa kekerasan yang puitis sekaligus universal. Film ini memang tidak berambisi menjadi selebaran layanan sosial; kesederhanaan motivasi seorang ayah yang mencari anaknya justru membuat semua kebrutalan di layar terasa memiliki landasan emosional yang valid.

Hal yang paling saya sukai adalah bagaimana film ini memberi setiap karakter bahasa bertarungnya sendiri. Wang sangat taktis; palu kecilnya bisa berubah menjadi alat pembunuh yang kelewat kreatif, seperti saat ia menyusun “menara manusia” di adegan bar. Lalu ada si botak raksasa—antagonis berbobot 100 kilogram lebih yang seolah menantang hukum fisika. Ia bisa melakukan headspin ala breakdancer hingga jatuh meluncur di lantai, lalu kemudian mengayunkan palu dua tangan, dan entah bagaimana semuanya terlihat masuk akal.

Yayan Ruhian sebagai Tak tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Begitu ia muncul, tubuh kita otomatis bersiap: oh, ini pasti akan sakit. Dengan panah dan auranya yang dingin, ia tidak perlu banyak bergerak untuk membuat sebuah ruangan terasa berbahaya. Ditambah Joe Taslim dengan bantingan grappling-nya yang meaty; ada sensasi tulang retak yang seolah ikut berbunyi setiap kali seseorang dibanting olehnya.

Babak ketiganya adalah tempat saya benar-benar dibuat kagum. Jika The Raid punya pertarungan tiga arah yang legendaris, The Furious menyajikan Royal Rumble versi Asia. Lima orang bertarung sekaligus dalam ruang sempit, dan anehnya, kita masih bisa mengikuti semuanya. Kung Fu, MMA, Judo, hingga kombo ala Tekken bercampur layaknya rantai domino. Gerakan A memengaruhi C, tubuh C menjadi tameng bagi D, lalu D menciptakan ruang bagi B untuk menyerang kembali. Ini adalah bentuk sinema aksi yang paling menyenangkan: ketika kita tidak hanya melihat seseorang menang, tetapi melihat bagaimana kemenangan itu dikoreografikan dengan sempurna.

**

Tentu, tetap ada riak kecil yang harus saya catat. Persoalan teknis pertama yang lebih saya rasakan saat menonton ulang di TV adalah dubbing. Beberapa dialog terasa seperti sulih suara meski mulut aktornya tampak berbicara bahasa Inggris. Sensasinya agak jarring, mengingatkan saya pada film kung fu lawas ketika suara dan gerak bibir kadang hidup di dimensi yang berbeda.

Persoalan kedua adalah identitas geografis. Latar yang dibiarkan samar—”Somewhere in Southeast Asia”—dengan campuran bahasa Mandarin, Inggris, dan bahasa lokal yang tak teridentifikasi membuat film ini kehilangan jangkar budayanya. Namun, mengingat dialog bukanlah alasan utama saya menonton film ini, gangguan tersebut akhirnya hanya menjadi kerikil kecil di tengah lautan kekerasan yang jauh lebih memikat.

Pada akhirnya, The Furious adalah pengingat bahwa film aksi bisa menjadi bentuk seni yang sangat serius. Bukan karena ceritanya rumit, bukan pula karena dialognya filosofis, tetapi karena membuat sesosok tubuh bergerak meyakinkan di depan kamera menuntut presisi, keberanian, dan imajinasi tingkat tinggi. Selesai menonton, saya ditinggalkan oleh dua perasaan yang saling bertabrakan: takjub melihat apa yang baru saja saya tonton, sekaligus keinginan mendadak untuk belajar bela diri.

Untungnya, setelah mengingat umur dan kondisi lutut, saya memilih tetap menjadi penonton saja.

Skor Akhir: 9/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *