Panji Prabowo

Di Amerika, tiket IMAX untuk film ini kabarnya sempat diperjualbelikan reseller hingga ratusan dolar. Sementara saya? Saya bisa duduk manis di IMAX Summarecon Bandung dengan modal Rp40.000 saja, sebuah momen sederhana yang membuat saya bersyukur hidup di Indonesia.

Namun, tiga jam kemudian, saya melangkah keluar dari studio dengan perasaan ganjil yang menolak luruh. Ada sensasi asing yang mendadak menyergap saat melihat orang-orang berjalan bubar menuju parkiran. Rasanya seolah-olah saya baru saja ditarik paksa dari sebuah dimensi lain yang belum selesai saya selami. Karena itu sepulang dari sana, sebelum rasa itu menguap ditelan malam, saya langsung menyalakan laptop untuk menulis review ini. Untungnya, perjalanan pulang saya tadi tidak perlu memakan waktu sepuluh tahun seperti Odysseus.

**

Christopher Nolan tampaknya memang tidak sedang mendesain sebuah tontonan musim panas yang renyah. Ia sedang mengajak kita tersesat dalam dinginnya pengembaraan Odysseus yang makin lama makin pilu. Pertama melalui gema skor elektro-orkestra yang tidak terdengar seperti musik latar konvensional; ia adalah simfoni yang merambat pelan melalui tulang rusuk, membuat dada terasa sesak. Ditambah lagi dengan sinematografi yang dipenuhi warna-warna pucat sekaligus terbakar, membuat setiap lanskap Mediterania tampak seperti dunia yang perlahan kehilangan kehangatannya. Bahkan saat lampu bioskop sudah menyala terang, retina saya seolah masih membawa sisa warna-warna dingin tersebut. Film ini tidak sekadar ditonton; ia menetap dan menginfeksi kesadaran.

Nolan yang Akhirnya Pulang ke Troya

Ada kelindan takdir yang puitis di balik layar proyek ini. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Christopher Nolan hampir menyutradarai Troy pada tahun 2004 silam sebelum proyek itu akhirnya jatuh ke tangan Wolfgang Petersen. Dua puluh dua tahun kemudian, Nolan justru “pulang” ke mitologi Yunani yang sama lewat The Odyssey.

Sulit rasanya melihat ini sebagai sebuah kebetulan belaka. Film ini terasa seperti percakapan eksistensial yang tertunda selama dua dekade, sebuah jawaban atas pertanyaan yang dulu tidak sempat ia ajukan. Jika Troy (2004) adalah glorifikasi tentang bagaimana seorang manusia mengejar keabadian nama melalui kematian (diwakili oleh ambisi mutlak Akhilles), maka The Odyssey adalah antitesisnya yang sunyi. Yang ingin ditanyakan Nolan justru jauh lebih sunyi: apakah kepulangan masih memiliki makna setelah perang meremukkan kemanusiaan di dalam diri kita?

Akhilles menukar usia demi reputasi emas dan kemenangan gemilang. Odysseus (Matt Damon) hanya ingin pulang demi kerutan di wajah istrinya dengan kondisi psikologis yang remuk. Dan Nolan, jelas jauh lebih tertarik membedah jiwa manusia yang kedua.

Labirin Temporal dan Ilusi Kedamaian

Nolan melakukan apa yang paling ia kuasai: membongkar struktur epik klasik ini menjadi sebuah “puzzle temporal” yang menuntut atensi penuh. Tiga lini waktu -kengerian Perang Troya, masa-masa isolasi yang melumpuhkan di Pulau Kalipso, dan kekacauan domestik di Itaka- bertabrakan tanpa tanda peringatan.

Awalnya, saya mengira ini hanyalah gaya pamer Nolan yang memang gemar mempermainkan waktu. Namun lambat laun, saya menyadari bahwa struktur non-linear ini adalah representasi visual dari kondisi psikologis Odysseus sendiri. Ia bukan lagi pahlawan cerdik yang penuh trik dalam mitologi klasik. Di sini, ia adalah veteran perang yang menderita PTSD akut. Pikirannya mengalami malfungsi; ia tidak lagi mampu membedakan dengan koheren antara trauma masa lalu, delusi pulau Kalipso, dan kenyataan pahit di Itaka. Perjalanan pulang bukan lagi persoalan navigasi geografis, melainkan sebuah perjuangan mental untuk mengenali kembali identitas diri yang telah terkikis habis.

Simfoni Karakter dalam Dekadensi dan Kehilangan

Jennifer Lame sebagai editor di film ini memang dengan sangat impresif berhasil menjahit kekacauan temporal ini menjadi satu kesatuan emosional yang solid, yang didukung penuh oleh departemen aktingnya:

  • Matt Damon: Memberikan penampilan yang sangat rapuh. Saya sempat bercanda sebelum menonton bahwa Damon memang aktor spesialis “pria hilang yang butuh dijemput”—dari Saving Private Ryan, The Martian, hingga tersesat di dimensi lain dalam Interstellar. Namun di film ini, lelucon itu menguap. Rasa lelah yang ia pancarkan begitu organik; setelah melihat apa yang ia lalui, kita benar-benar merasa bahwa pria ini sudah teramat layak untuk pulang.
  • Anne Hathaway & Tom Holland: Hathaway membawakan sosok Penelope yang luar biasa stoic namun menyimpan getar kecemasan yang hebat di balik matanya. Sementara Holland memberikan kontras yang mentah sebagai Telemachus, seorang anak yang tumbuh besar hanya dengan memeluk bayang-bayang kebesaran sang ayah yang tak pernah ia kenal.
  • Samantha Morton (Circe): Morton menghadirkan visual horor paling mengganggu di sepanjang film. Sihirnya didekonstruksi menjadi body horror yang mengerikan—adegan saat tubuh para awak kapal dicetak menjadi babi terasa sangat Goya-esque, sebuah metafora visual yang brilian tentang bagaimana perang merenggut martabat dan kemanusiaan seseorang.

Namun, di antara semua adegan megah tersebut, momen yang paling lama tinggal di kepala saya justru sangat sederhana: ketika anjing tua bernama Argos mengenali Odysseus di tengah penyamarannya. Argos adalah satu-satunya makhluk yang mampu melihat sisa-sisa “manusia” di balik lapisan debu, luka, dan trauma yang menutupi Odysseus. Kadang, pengakuan paling jujur memang datang dari tempat yang paling sunyi. Momen ini begitu hangat sekaligus puitis, sampai-sampai sepulang menonton saya langsung bilang ke istri saya untuk mengganti nama kucing kami di rumah menjadi Argos.

Nostos, Algos dan Hukum Zeus

Secara filosofis, The Odyssey adalah bedah anatomi atas etimologi kata “Nostalgia”—gabungan dari kata Yunani Nostos (kepulangan) dan Algos (rasa sakit). Nolan menunjukkan bahwa kepulangan tidak pernah datang gratis; ia selalu ditagih dengan rasa sakit yang setara.

Bahkan Kuda Troya pun didekonstruksi dari simbol kemenangan menjadi sebuah ruang sempit yang mencekam dan klaustrofobik. Kuda kayu itu tidak memiliki roda; ia ditarik paksa dengan kasar, menciptakan ketegangan yang menyesakkan bagi mereka yang bersembunyi di dalamnya. Ini adalah simbol dari pengkhianatan terhadap hukum Zeus -relasi saling memuliakan antara tamu, tuan rumah dan orang asing- sebuah dosa moral yang akhirnya membusuk dari dalam dan ikut “berlayar” pulang bersama Odysseus.

Hal ini memuncak pada babak ketiga yang menyajikan payoff luar biasa memuaskan. Kematian para pelamar, terutama Antinous (Robert Pattinson yang sejak awal tampil begitu menyebalkan, angkuh, dan penuh dekadensi), dieksekusi dengan tensi tinggi yang membuat penonton bernapas lega di kursi bioskop. Nolan memberikan kepuasan yang sangat kita butuhkan setelah dibuat geram sepanjang film oleh kelakuan para parasit tersebut. Odysseus berhasil pulang kepelukan istrinya.

Epilog: Berlayar Menyongsong Matahari Tenggelam

Namun, Nolan tidak membiarkan film ini selesai sebagai sekadar kisah balas dendam biasa. Alih-alih membiarkan Odysseus menetap di atas takhta Itaka yang kini bersimbah darah, film ini ditutup dengan sebuah konklusi yang luar biasa puitis dan melankolis.

Setelah akhirnya bersatu kembali dengan Penelope, Odysseus tidak memilih untuk menua di singgasananya. Demi memenuhi janji sucinya untuk menghargai arwah para pasukannya yang telah gugur selama perjalanan panjang mereka, ia memutuskan untuk kembali pergi. Namun kali ini, ia tidak lagi pergi dalam kutukan kesendirian. Odysseus melangkah pergi ke arah barat, berlayar bersama Penelope menyongsong matahari tenggelam—sebuah simbol perjalanan spiritual untuk berdamai dengan masa lalu dan hantu-hantu perang mereka. Sementara itu, takhta Itaka ia wariskan kepada Telemachus (Tom Holland) yang tinggal di sana untuk memulai era baru sebagai raja yang bijaksana.

The Odyssey (2026) pada akhirnya bukanlah sekadar film tentang mitologi Yunani kuno. Ia adalah dokumen psikologis tentang pencarian identitas yang sering kali hancur dalam perjalanan hidup. Keputusan Odysseus untuk kembali melaut ke arah barat menunjukkan bahwa “pulang” kadang bukan berarti berhenti berjalan, melainkan menemukan seseorang yang bersedia menemani kita mendayung hingga ke ujung horizon.

Nolan mengingatkan kita bahwa meskipun kita tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang yang sama sebelum “perang” kita dimulai, kita harus tetap melangkah. Sebab rumah, pada akhirnya, bukan lagi sebuah titik koordinat geografis di atas peta. Rumah adalah kebersamaan untuk berlayar menghadapi sisa hari, tempat di mana luka-luka kita akhirnya berhenti merasa asing.

Skor Akhir: 9/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *