

Ada 2 nama Ludwig yang terpahat di batu nisan di Central Cemetery Vienna yang saya tahu. Satunya adalah musisi, satunya lagi physicist. Meski Beethoven lebih dulu (hampir) 100 tahun dimakamkan di sana, tapi hari ini saya mau merangkum lebih dulu sosok Boltzmann.
Agak paradoks persamaan yang menjelaskan kehidupan ditulis di sebuah batu nisan yang melambangkan kematian. Tapi yang lebih paradoks lagi mungkin adalah penghuninya, namanya yang sampai diabadikan dalam sebuah konstanta, meninggal bunuh diri di tengah liburan.
Kematian Ludwig Boltzmann di Duino pada 1906 adalah akhir dari sebuah pertempuran panjang melawan ketidakpastian. Di nisan itu, terukir gagasan terbesarnya:
𝑆=𝛋∙log𝑊
Mungkin itulah beban yang tak sanggup ia pikul. Saat dunia sains saat itu masih ragu dengan keberadaan atom, Boltzmann sudah melangkah terlalu jauh ke depan. Ia melihat dunia bukan sebagai benda padat yang pasti, melainkan sebagai tarian probabilitas yang liar. Ia menghabiskan sisa hidupnya mencoba meyakinkan rekan-rekannya tentang kebenaran yang ia temukan, hanya untuk merasa gagal dan terisolasi.
Ironisnya, hanya beberapa tahun setelah ia tiada, dunia sains akhirnya bertekuk lutut pada teorinya. Atom itu nyata, dan kekacauan adalah hukum alam yang mutlak.
Berdiri di depan nisan ini, saya menyadari satu hal. Ludwig yang musisi (Beethoven) menghabiskan hidupnya menciptakan harmoni dari suara-suara yang tak lagi bisa ia dengar. Sementara Ludwig sang fisikawan, menghabiskan hidupnya mencari keteraturan dalam hukum kekacauan, sampai akhirnya ia tak sanggup lagi mendengar suaranya sendiri di tengah hiruk-pikuk dunianya yang “berantakan”.
Mungkin, liburan itu memang seharusnya menjadi cara untuk lari dari statistik dan rumus-rumus. Namun bagi Boltzmann, nampaknya tak ada tempat untuk bersembunyi dari hukum termodinamika yang ia tulis sendiri: bahwa di alam semesta ini, segalanya—termasuk ketenangan jiwa—cenderung meluruh menuju titik nol.