Saparua berasal dari kata Sapanorua—dua sampan. Mungkin merujuk pada bentuk pulaunya yang mirip perahu yang tertambat di Maluku. Di sana, ia adalah saksi bisu saat Pattimura merebut Benteng Duurstede pada 1817. Sebuah pusat sejarah rempah yang lokasinya, tentu saja, dekat dengan Ambon.
Lucunya, takdir membawa nama yang sama ke Bandung.
Saparua di sini bukan benteng kolonial, melainkan sebuah GOR yang khas dengan aroma tanah merah di jogging track-nya, remaja yang bermain basket, dan sekarang juga jadi tempat komunitas sepatu roda meliuk-liuk di tengah lapangan. Lokasinya? Sebuah kebetulan yang manis, ia juga bertetangga dengan Jalan Ambon.
Namun, jika Saparua di Timur adalah saksi perjuangan melawan penjajah, Saparua di Bandung adalah rahim bagi perlawanan budaya. Konon di era 90-an, tempat ini menjadi saksi bisu lahirnya energi underground. Di sinilah band seperti Burgerkill hingga Rocket Rockers mengawali karier, mengubah distorsi menjadi sejarah.
Tapi kemarin, tanpa maksud mengkhianati sejarah, saya jalan di sini malah mendengarkan Bernadya.