Orate Pro Nobis

Orate Pro Nobis Bukanlah persamaan rumit yang terpahat di batu nisan seperti cerita saya tentang makam Boltzmann beberapa waktu lalu. Pun tidak perlu jauh-jauh ke Central Cemetery Zurich untuk melihatnya, cukup ke Komplek Pemakaman Umum Pandu yang ada di Bandung saja. Kalau kamu masuk Bandung melalui pintu tol pasteur, kamu akan bisa melihat komplek pemakaman ini di sebelah kanan jalan, tepat sebelum menaiki jembatan Pasopati. Tapi ada rahasia di komplek pemakaman ini. Setidaknya rahasia buat saya, yang baru saja terungkap pada penjelajahan saya kemarin. Bahwa di dalam komplek pemakaman umum ini ada area khusus makam kehormatan milik Kerajaan Belanda yang dinamakan Ereveld. Di sana banyak dimakamkan korban-korban perang dunia ke-2, baik warga negara Belanda maupun pribumi yang merupakan bagian dari Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Bahwa di dalam komplek ini ada makam CP Wolff Schoemaker, yang merancang banyak bangunan yang menjadi landmark di Bandung, seperti Sociëteit Concordia yang sekarang dikenal dengan Gedung Merdeka atau Museum Konferensi Asia Afrika di Braga. Beliau yang juga rektor ke-7 Technische Hoogeschool te Bandoeng, juga merancang Gereja Katedral Bandung & Masjid Besar Cipaganti. Bahwa di dalam komplek ini ada makam Keluarga Ursone. Keluarga Itali yang membangun Lembangsche Melkerij, perusahaan susu lembang & peternakan sapi yang menjadi cikal-bakal peternakan sapi holstein yang ada di Bandung saat ini. Keluarga ini juga pernah menghibahkan tanah peternakannya seluas 6 hektar untuk pembangunan Observatorium Bosscha. Inilah keluarga yang di mausoleumnya terdapat pahatan bahasa latin yang ada di awal tulisan ini. Bahasa latin yang artinya “Doakanlah Kami”. Untuk mendoakan, walau tidak mesti tapi menurut saya mungkin akan bisa jadi lebih khusuk kalau kita kenal & tahu siapa yang kita doakan. Mangkanya saya menulis ini, mudah-mudahan bisa lebih mengenal mereka yang membentuk sejarah kita, mengingat mereka & karya-karyanya, lalu mungkin jadi bisa mendoakan mereka dengan lebih khusuk. ** Penjelajahan ini diselenggarakan oleh @ceritabandung.id cek IG-nya untuk tur menarik berikutnya.
Rumus Entropi di Batu Nisan

Ada 2 nama Ludwig yang terpahat di batu nisan di Central Cemetery Vienna yang saya tahu. Satunya adalah musisi, satunya lagi physicist. Meski Beethoven lebih dulu (hampir) 100 tahun dimakamkan di sana, tapi hari ini saya mau merangkum lebih dulu sosok Boltzmann. Agak paradoks persamaan yang menjelaskan kehidupan ditulis di sebuah batu nisan yang melambangkan kematian. Tapi yang lebih paradoks lagi mungkin adalah penghuninya, namanya yang sampai diabadikan dalam sebuah konstanta, meninggal bunuh diri di tengah liburan. Kematian Ludwig Boltzmann di Duino pada 1906 adalah akhir dari sebuah pertempuran panjang melawan ketidakpastian. Di nisan itu, terukir gagasan terbesarnya: 𝑆=𝛋∙log𝑊 Sebuah rumus tentang entropi—ukuran dari kekacauan. Boltzmann adalah orang yang berani berkata bahwa alam semesta ini, pada akhirnya, sedang menuju ke arah berantakan. Mungkin itulah beban yang tak sanggup ia pikul. Saat dunia sains saat itu masih ragu dengan keberadaan atom, Boltzmann sudah melangkah terlalu jauh ke depan. Ia melihat dunia bukan sebagai benda padat yang pasti, melainkan sebagai tarian probabilitas yang liar. Ia menghabiskan sisa hidupnya mencoba meyakinkan rekan-rekannya tentang kebenaran yang ia temukan, hanya untuk merasa gagal dan terisolasi. Ironisnya, hanya beberapa tahun setelah ia tiada, dunia sains akhirnya bertekuk lutut pada teorinya. Atom itu nyata, dan kekacauan adalah hukum alam yang mutlak. Berdiri di depan nisan ini, saya menyadari satu hal. Ludwig yang musisi (Beethoven) menghabiskan hidupnya menciptakan harmoni dari suara-suara yang tak lagi bisa ia dengar. Sementara Ludwig sang fisikawan, menghabiskan hidupnya mencari keteraturan dalam hukum kekacauan, sampai akhirnya ia tak sanggup lagi mendengar suaranya sendiri di tengah hiruk-pikuk dunianya yang “berantakan”. Mungkin, liburan itu memang seharusnya menjadi cara untuk lari dari statistik dan rumus-rumus. Namun bagi Boltzmann, nampaknya tak ada tempat untuk bersembunyi dari hukum termodinamika yang ia tulis sendiri: bahwa di alam semesta ini, segalanya—termasuk ketenangan jiwa—cenderung meluruh menuju titik nol.
Karya Peserta Codesign Hari ke-8

Hari ini memasuki hari ke-8 sejak dimulainya Codesign (Pelatihan Coding dan Desain untuk Penyandang Disabilitas) secara daring. Tiap hari selalu menyenangkan melihat semangat belajar dan perkembangan para peserta. Berikut beberapa hasil praktek/karya para peserta diantaranya adalah Yasmin, Safiriani, Rizky, Gessang, Novita, dan Ariek. Hasil praktek dan karya peserta lainnya bisa dilihat di codesign.id/galeri-karya Masih ada 2 hari lagi pelatihan daring, dan masih ada pelatihan lanjutan secara luring. Semoga makin semangat dan perkembangannya semakin baik. @korniawan @belamatahari @octi_13 @kangbilly_b2p @khalilibrohim78 @ghaususilmi @australiaawards @kedubesaustralia @tikomdik_jabar @gerkatin_jabar @bdgdigitalcom @dgtlzcom #CODEsign #Coding #Desain #Disabilitas #AGS #OzAlum
Promo Codesign di Radio

Tadi pagi saya diajak oleh @phiradiodotnet untuk cerita tentang kegiatan pelatihan coding dan desain untuk disabilitas, saya dateng ke situ sama @kangbilly_b2p dari @gerkatin_jabar yang juga banyak cerita tentang kurangnya akses pendidikan dan pembelajaran untuk disabilitas khususnya untuk teman-teman tuli. Semoga makin banyak yang aware yah terkait isu ini. Hatur nuhun buat kang @rofiardhianto yang ada dibalik layar 😊🙏 #CODESign #AGS #OzAlum
Codesign Course: Pelatihan Coding & Design untuk Disabilitas

Kemampuan coding dan desain semakin dibutuhkan di industri digital dan kreatif saat ini. Kemampuan tersebut dapat membuka peluang yang luas untuk bekerja dan juga berwirausaha. Namun disayangkan kesempatan untuk belajar coding dan desain belumlah merata, terutama untuk teman-teman yang menyandang disabilitas. CODEsign adalah program pelatihan coding dan desain grafis yang dirancang khusus untuk teman-teman yang menyandang disabilitas, khususnya tuli. Program ini terdiri dari 40 modul dan materi ajar. 20 modul dasar akan diselenggarakan secara online dengan video ajar, dan 20 modul lanjutan akan diselenggarakan secara offline dan intensif untuk peserta terpilih. Daftarkan dirimu melalui link berikut: codesign.id/daftar Daftar segera, karena kapasitas terbatas! CODEsign didukung oleh BDG Digital dan GERKATIN Jawa Barat beserta Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme yang diadministrasikan oleh Australia Awards di Indonesia. Informasi lebih lanjut: Haikal: 0896-0274-8653 (WhatsApp) Website: codesign.id #OzAlum #AGS #CodingBoothcamp #Coding #Pemrograman #Desain #Design #Disabilitas #Deaf #Tuli #Disabilitas #CODE #CODESign #Indonesia #BahasaIsyarat
Sharing Economy

Kata Bung Karno, ada kalanya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin dan menceritakan seluruh rahasia lalu meneteskan air mata. Kata Mas Bondan, ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah. * Foto diambil pada suatu masa ketika korporasi berpura-pura peduli pada keadilan sosial agar bisa menjual produknya pada manusia yang berpura-pura tidak suka pada kapitalisme, dan sepertinya begitu juga aku menjadi yang satu atau lainnya. #sharingeconomy #bungkarno
Mardijker

‘Mardijker’, kata nenek saya yang sekolah di jaman Belanda, itu adalah istilah untuk menyebut mantan budak. Istilah itu diadopsi secara kurang tepat oleh Belanda dari Portugis yang aslinya berasal dari kata Sansekerta ‘Maharddhika’ yang artinya: kaya, sejahtera dan kuat. Di masa perjuangan Indonesia melawan penjajah kata itu diadopsi jadi ‘Merdeka’ dan dijadikan battle cry yang mungkin lebih dekat maknanya kepada: bebas, berdiri sendiri dan independensi. Orang-orang Moro (selatan Filipina) menggunakan kata ‘Maradeka’ untuk merujuk pada kelompok pejuang kemerdekaan di sana. Dalam bahasa Tagalog, terdapat kata ‘Maharlika’ yang memiliki akar kata Sanskerta yang sama dan memiliki makna: manusia yang bebas. Lalu dalam perenungan 75 tahun kemerdekaan, buat saya mungkin kembali penting menjadikannya sebagai battle cry lagi biar maknanya kembali menjiwa. #Merdeka #HUTRI75 #17Agustus
Kalau usia semesta dimampatkan ke dalam 1 tahun?

Bagaimana kalau usia semesta yang sekarang sudah 13,8 milyar tahun ini dimampatkan ke dalam 1 tahun? Jam 00 tanggal 1 Januari Big Bang terjadi, dan hari ini sekarang adalah detik-detik atau beberapa mili-detik menuju tengah malam pada tanggal 31 Desember. Dalam skala tersebut setiap detiknya mewakili 437,5 tahun, setiap menitnya mewakili 26,25 ribu tahun, dan setiap jamnya mewakili 1,575 juta tahun. Kalau disandarkan pada penelitian yang mengatakan bahwa Nabi Adam hidup sekitar 100 ribu tahun lalu, maka seluruh sejarah umat manusia letaknya dalam skala tersebut hanya sekitar 5 menit yang lalu. Nabi Ibrahim mau menyembelih putranya dan digantikan oleh domba hanya sekitar 9 detik yang lalu. Nabi Isa lahir sekitar 5 detik yang lalu, dan Nabi Muhammad sekitar 3 detik yang lalu. Itulah kira-kira yang lagi dipikirin saat mendengarkan khotbah idul adha kemarin dengan suara soundsystem yang buruk. ** Mungkin menarik kalau dilanjutkan sedikit dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Masih dengan skala yang sama. 1 Januari tahun kedua, sekitar detik ke-5 mestinya Chernobyl sudah aman. 2 Januari, laut tengah menutup, karena daratan Eropa dan Afrika merapat. 3 Januari, cincin saturnus hilang. 5 Januari, satu hari di bumi jadi 25 jam. 16 Januari, gerhana matahari sudah tidak lagi mungkin terjadi. 17 Januari, tingkat CO2 di udara terlalu rendah untuk fotosintesis. 8 Februari, samudera mengering. 1 Maret, tidak ada lagi kehidupan di bumi.
Tentang Cokelat di Hari Cokelat Sedunia

Pada mulanya Bangsa Aztec menyebutnya Xocolātl (dibaca: sho-kwa-til), yang artinya “air pahit”, karena memang dulu mereka hanya mengonsumsinya sebagai minuman. Tapi pahit mungkin bukan istilah yang benar-benar tepat, mungkin hanya karena tidak manis ataupun gurih (asin), jadi disebut pahit. Tapi ya itulah rasanya ya.. Pada waktu itu di Aztec hanya sebagian kecil warga kelas atas yang bisa menikmati minuman itu. Itu mahal untuk dibuat, membutuhkan banyak biji kakao. Bangsa Aztec percaya bahwa minuman itu adalah obat sekaligus penambah energi. Anggota masyarakat kelas bawah hanya bisa merasakan minuman ini pada acara-acara khusus seperti pernikahan. Kemudian pada tahun 1519, penjelah Spanyol Hernán Cortés mampir ke Aztec. Dan sebagai ramah tamah Kaisar Aztec pada waktu itu yang bernama Montezuma menyajikan minuman tersebut. Cortés kemudian membawa minuman itu kembali ke Spanyol bersamanya dan memberinya gula, vanilla, dan kayu manis untuk memberikan rasa tambahan. Minuman ini menjadi sangat populer di Prancis dan Inggris pada 1600-an setelah episode Spanyol-nya. Barulah pada tahun 1800-an orang belajar membuat cokelat yang bisa dikonsumsi dengan cara dimakan seperti yang dikenal sekarang dalam bentuk batangan atau juga lainnya. Mungkin juga karena sangking enaknya, ilmuan menisbatkan kepada Pohon Kakao nama ilmiah Theobroma Cacao. Dalam bahasa latin Theo (Theos) berarti ‘Dewa’, dan Broma berarti ‘Makanan’, secara harfiah diartikan ‘Makanan para Dewa’. Bahkan pernah juga beberapa abad dalam sejarah pre-moderen di Amerika Latin, biji kakao dijadikan mata uang. Hari ini 7 Juli adalah hari cokelat sedunia, yang mulai dirayakan secara global sejak tahun 2009. Beberapa percaya bahwa itu dalam rangka memperingati hari cokelat pertama kali diperkenalkan ke Eropa pada tahun 1550. Walaupun tidak jelas juga kebenarannya, tapi rasanya satu-satunya cara untuk merayakan hari ini dengan benar adalah dengan macam-macam cokelat :) Foto: macam-macam bentuk cokelat yang pernah dicoba.#chocolate #cokelat #cacao #worldchocolateday #haricokelatsedunia