Anda ini kerjanya duduk saja.

Anda ini kerjanya duduk saja. Sana keluar ke Malaka atau ke Italia atau ke Argentina sekalian. Ada garis tangan bukan berarti berpangku tangan. Ada jalan itu di depan, coba Anda tapaki. Siapa tahu menuju esok hari. Ah sudahlah. Minggu saya ke unpad Anda ikut sajalah.
Ngecap: How to Pitch Your Product

Ngecap, dengan bunyi e pepet seperti pada kata ‘lemak’, adalah bentuk tidak baku dari kata yang bisa berarti memberi cap (contoh: Pak RT mengecap surat dinas) atau juga bisa berarti merasakan/mengenyam (contoh: Pak RT pernah mengecap pendidikan di Finlandia). Tapi kalau Ngecap disuarakan dengan bunyi e taling seperti pada kata ‘petak’, itu jadi istilah untuk bicara yang lebih menjurus pada membual atau jualan (contoh: Dia jago ngecap). Mungkin asalnya dari ‘memberi kecap’, yang kalau dalam makanan jadi lebih manis. Nah terkait ‘Ngecap’ yang kedua, terutama dalam konteks jualan (marketing dan sales) saya punya 2 tipe yang saya suka pakai. Yang pertama, mungkin istilahnya bisa disebut Jualan Obat. Karena formatnya kurang lebih seperti tukang obat kalau jualan: Paparkan masalah, kasih solusi, tunjukan efek obatnya. Tipe ini simpel banget, dan formatnya bisa dipakai dalam banyak kondisi dan sudut pandang. Contoh yang paling mudah diciriin adalah pemakaian tipe ini pada format iklan 30 detik. Contoh ada tukang ojek tiba2 bilang: “aduh pala Sy sakit.” Lalu ada orang out of nowhere nyaut: “minum Bodrex dong.” Dan tukang ojek kembali menanggapi: “Wah thx sy jadi bisa narik lagi.” Contoh yang serupa untuk iklan Promag atau juga dalam iklan Sensodyne (slide 2). Tipe Jualan Obat ini sebenarnya bisa jadi bentuk simplifikasi dari konsep 3 Babak yang umum ada di cerita-cerita atau film-film yaitu: Setup, Confrotation lalu Resolution. Nah tipe yang kedua yang saya suka, lebih plek-plekan lagi ngambil formatnya dari film, persisnya Film Pixar. Hampir semua film Pixar (dan Disney) mempunyai format seperti yang ada di slide ke-3 gambar yang saya post di atas. Lalu karena sudah dipanggil untuk makan malam, jadi saya tidak lanjutin nulis postingan ini. ✌️ ** Foto diambil di Jakarta Creative Hub bulan lalu, ketika saya membawakan materi “How to Pitch Your Product” yang salah 2 slidenya ada di gambar.
Before I die

Kalau kata Mondo dalam senandung Apatis-nya, “Sudah lahir, sudah terlanjur, mengapa harus menyesal? Hadapi dunia berani. Bukalah dadamu, tantanglah dunia, tanyakan salahmu wibawa.” Foto dari depan Trinity Church Adelaide diambil ca. Maret 2017.
Orate Pro Nobis

Orate Pro Nobis Bukanlah persamaan rumit yang terpahat di batu nisan seperti cerita saya tentang makam Boltzmann beberapa waktu lalu. Pun tidak perlu jauh-jauh ke Central Cemetery Zurich untuk melihatnya, cukup ke Komplek Pemakaman Umum Pandu yang ada di Bandung saja. Kalau kamu masuk Bandung melalui pintu tol pasteur, kamu akan bisa melihat komplek pemakaman ini di sebelah kanan jalan, tepat sebelum menaiki jembatan Pasopati. Tapi ada rahasia di komplek pemakaman ini. Setidaknya rahasia buat saya, yang baru saja terungkap pada penjelajahan saya kemarin. Bahwa di dalam komplek pemakaman umum ini ada area khusus makam kehormatan milik Kerajaan Belanda yang dinamakan Ereveld. Di sana banyak dimakamkan korban-korban perang dunia ke-2, baik warga negara Belanda maupun pribumi yang merupakan bagian dari Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Bahwa di dalam komplek ini ada makam CP Wolff Schoemaker, yang merancang banyak bangunan yang menjadi landmark di Bandung, seperti Sociëteit Concordia yang sekarang dikenal dengan Gedung Merdeka atau Museum Konferensi Asia Afrika di Braga. Beliau yang juga rektor ke-7 Technische Hoogeschool te Bandoeng, juga merancang Gereja Katedral Bandung & Masjid Besar Cipaganti. Bahwa di dalam komplek ini ada makam Keluarga Ursone. Keluarga Itali yang membangun Lembangsche Melkerij, perusahaan susu lembang & peternakan sapi yang menjadi cikal-bakal peternakan sapi holstein yang ada di Bandung saat ini. Keluarga ini juga pernah menghibahkan tanah peternakannya seluas 6 hektar untuk pembangunan Observatorium Bosscha. Inilah keluarga yang di mausoleumnya terdapat pahatan bahasa latin yang ada di awal tulisan ini. Bahasa latin yang artinya “Doakanlah Kami”. Untuk mendoakan, walau tidak mesti tapi menurut saya mungkin akan bisa jadi lebih khusuk kalau kita kenal & tahu siapa yang kita doakan. Mangkanya saya menulis ini, mudah-mudahan bisa lebih mengenal mereka yang membentuk sejarah kita, mengingat mereka & karya-karyanya, lalu mungkin jadi bisa mendoakan mereka dengan lebih khusuk. ** Penjelajahan ini diselenggarakan oleh @ceritabandung.id cek IG-nya untuk tur menarik berikutnya.
Rumus Entropi di Batu Nisan

Ada 2 nama Ludwig yang terpahat di batu nisan di Central Cemetery Vienna yang saya tahu. Satunya adalah musisi, satunya lagi physicist. Meski Beethoven lebih dulu (hampir) 100 tahun dimakamkan di sana, tapi hari ini saya mau merangkum lebih dulu sosok Boltzmann. Agak paradoks persamaan yang menjelaskan kehidupan ditulis di sebuah batu nisan yang melambangkan kematian. Tapi yang lebih paradoks lagi mungkin adalah penghuninya, namanya yang sampai diabadikan dalam sebuah konstanta, meninggal bunuh diri di tengah liburan. Kematian Ludwig Boltzmann di Duino pada 1906 adalah akhir dari sebuah pertempuran panjang melawan ketidakpastian. Di nisan itu, terukir gagasan terbesarnya: 𝑆=𝛋∙log𝑊 Sebuah rumus tentang entropi—ukuran dari kekacauan. Boltzmann adalah orang yang berani berkata bahwa alam semesta ini, pada akhirnya, sedang menuju ke arah berantakan. Mungkin itulah beban yang tak sanggup ia pikul. Saat dunia sains saat itu masih ragu dengan keberadaan atom, Boltzmann sudah melangkah terlalu jauh ke depan. Ia melihat dunia bukan sebagai benda padat yang pasti, melainkan sebagai tarian probabilitas yang liar. Ia menghabiskan sisa hidupnya mencoba meyakinkan rekan-rekannya tentang kebenaran yang ia temukan, hanya untuk merasa gagal dan terisolasi. Ironisnya, hanya beberapa tahun setelah ia tiada, dunia sains akhirnya bertekuk lutut pada teorinya. Atom itu nyata, dan kekacauan adalah hukum alam yang mutlak. Berdiri di depan nisan ini, saya menyadari satu hal. Ludwig yang musisi (Beethoven) menghabiskan hidupnya menciptakan harmoni dari suara-suara yang tak lagi bisa ia dengar. Sementara Ludwig sang fisikawan, menghabiskan hidupnya mencari keteraturan dalam hukum kekacauan, sampai akhirnya ia tak sanggup lagi mendengar suaranya sendiri di tengah hiruk-pikuk dunianya yang “berantakan”. Mungkin, liburan itu memang seharusnya menjadi cara untuk lari dari statistik dan rumus-rumus. Namun bagi Boltzmann, nampaknya tak ada tempat untuk bersembunyi dari hukum termodinamika yang ia tulis sendiri: bahwa di alam semesta ini, segalanya—termasuk ketenangan jiwa—cenderung meluruh menuju titik nol.
Mardijker

‘Mardijker’, kata nenek saya yang sekolah di jaman Belanda, itu adalah istilah untuk menyebut mantan budak. Istilah itu diadopsi secara kurang tepat oleh Belanda dari Portugis yang aslinya berasal dari kata Sansekerta ‘Maharddhika’ yang artinya: kaya, sejahtera dan kuat. Di masa perjuangan Indonesia melawan penjajah kata itu diadopsi jadi ‘Merdeka’ dan dijadikan battle cry yang mungkin lebih dekat maknanya kepada: bebas, berdiri sendiri dan independensi. Orang-orang Moro (selatan Filipina) menggunakan kata ‘Maradeka’ untuk merujuk pada kelompok pejuang kemerdekaan di sana. Dalam bahasa Tagalog, terdapat kata ‘Maharlika’ yang memiliki akar kata Sanskerta yang sama dan memiliki makna: manusia yang bebas. Lalu dalam perenungan 75 tahun kemerdekaan, buat saya mungkin kembali penting menjadikannya sebagai battle cry lagi biar maknanya kembali menjiwa. #Merdeka #HUTRI75 #17Agustus
Kalau usia semesta dimampatkan ke dalam 1 tahun?

Bagaimana kalau usia semesta yang sekarang sudah 13,8 milyar tahun ini dimampatkan ke dalam 1 tahun? Jam 00 tanggal 1 Januari Big Bang terjadi, dan hari ini sekarang adalah detik-detik atau beberapa mili-detik menuju tengah malam pada tanggal 31 Desember. Dalam skala tersebut setiap detiknya mewakili 437,5 tahun, setiap menitnya mewakili 26,25 ribu tahun, dan setiap jamnya mewakili 1,575 juta tahun. Kalau disandarkan pada penelitian yang mengatakan bahwa Nabi Adam hidup sekitar 100 ribu tahun lalu, maka seluruh sejarah umat manusia letaknya dalam skala tersebut hanya sekitar 5 menit yang lalu. Nabi Ibrahim mau menyembelih putranya dan digantikan oleh domba hanya sekitar 9 detik yang lalu. Nabi Isa lahir sekitar 5 detik yang lalu, dan Nabi Muhammad sekitar 3 detik yang lalu. Itulah kira-kira yang lagi dipikirin saat mendengarkan khotbah idul adha kemarin dengan suara soundsystem yang buruk. ** Mungkin menarik kalau dilanjutkan sedikit dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Masih dengan skala yang sama. 1 Januari tahun kedua, sekitar detik ke-5 mestinya Chernobyl sudah aman. 2 Januari, laut tengah menutup, karena daratan Eropa dan Afrika merapat. 3 Januari, cincin saturnus hilang. 5 Januari, satu hari di bumi jadi 25 jam. 16 Januari, gerhana matahari sudah tidak lagi mungkin terjadi. 17 Januari, tingkat CO2 di udara terlalu rendah untuk fotosintesis. 8 Februari, samudera mengering. 1 Maret, tidak ada lagi kehidupan di bumi.
Tentang Cokelat di Hari Cokelat Sedunia

Pada mulanya Bangsa Aztec menyebutnya Xocolātl (dibaca: sho-kwa-til), yang artinya “air pahit”, karena memang dulu mereka hanya mengonsumsinya sebagai minuman. Tapi pahit mungkin bukan istilah yang benar-benar tepat, mungkin hanya karena tidak manis ataupun gurih (asin), jadi disebut pahit. Tapi ya itulah rasanya ya.. Pada waktu itu di Aztec hanya sebagian kecil warga kelas atas yang bisa menikmati minuman itu. Itu mahal untuk dibuat, membutuhkan banyak biji kakao. Bangsa Aztec percaya bahwa minuman itu adalah obat sekaligus penambah energi. Anggota masyarakat kelas bawah hanya bisa merasakan minuman ini pada acara-acara khusus seperti pernikahan. Kemudian pada tahun 1519, penjelah Spanyol Hernán Cortés mampir ke Aztec. Dan sebagai ramah tamah Kaisar Aztec pada waktu itu yang bernama Montezuma menyajikan minuman tersebut. Cortés kemudian membawa minuman itu kembali ke Spanyol bersamanya dan memberinya gula, vanilla, dan kayu manis untuk memberikan rasa tambahan. Minuman ini menjadi sangat populer di Prancis dan Inggris pada 1600-an setelah episode Spanyol-nya. Barulah pada tahun 1800-an orang belajar membuat cokelat yang bisa dikonsumsi dengan cara dimakan seperti yang dikenal sekarang dalam bentuk batangan atau juga lainnya. Mungkin juga karena sangking enaknya, ilmuan menisbatkan kepada Pohon Kakao nama ilmiah Theobroma Cacao. Dalam bahasa latin Theo (Theos) berarti ‘Dewa’, dan Broma berarti ‘Makanan’, secara harfiah diartikan ‘Makanan para Dewa’. Bahkan pernah juga beberapa abad dalam sejarah pre-moderen di Amerika Latin, biji kakao dijadikan mata uang. Hari ini 7 Juli adalah hari cokelat sedunia, yang mulai dirayakan secara global sejak tahun 2009. Beberapa percaya bahwa itu dalam rangka memperingati hari cokelat pertama kali diperkenalkan ke Eropa pada tahun 1550. Walaupun tidak jelas juga kebenarannya, tapi rasanya satu-satunya cara untuk merayakan hari ini dengan benar adalah dengan macam-macam cokelat :) Foto: macam-macam bentuk cokelat yang pernah dicoba.#chocolate #cokelat #cacao #worldchocolateday #haricokelatsedunia