Panji Prabowo

ChatGPT dan NYST Awards Kemenpora

Seminggu terakhir ini ramai orang bermain-main dengan Avatar AI, Dall-E, ChatGPT atau juga Playground OpenAI. Cukup banyak setidaknya berdasarkan yang berseliweran di group whatsapp dan feed instagram saya. Tapi nyatanya memang salah satu yang saya sebut itu mendapatkan 1 juta pengguna semingguan ini. Biasanya teman-teman berkomentar seputar kekaguman atas kecanggihan, potensi pemanfaatan, ketakutan atas disrupsi yang mungkin terjadi atau sekedar ikut seru-seruan saja. Umumnya begitu, termasuk saya. Juga seminggu yang lalu saya diajak untuk berdiskusi dengan teman-teman inovator muda. Tidak banyak, cuma 10 orang yang menjadi finalis National Youth Science & Technology Awards yang dipilih oleh Kemenpora, tapi datanya hampir 400 inovator yang mendaftar. Diskusi kami berkisar tentang siklus inovasi, bagaimana membuat inovasi yang dipakai masyarakat, cara biar berkelanjutan dan berdampak. Karena itu umumnya yang jadi concern, termasuk saya juga. ** Di atas itu hanyalah cerita 2 kejadian yang tidak berhubungan yang saya tuliskan dalam satu caption yang sama dengan pola yang mirip. Bukan maksud untuk membahas 1 juta vs 400 atau banyaknya pengguna vs sedikitnya inovator. Karena khittahnya memang begitu. Walau memang kalau mau dibahas takutnya ujungnya seperti jawaban normatif politisi pada umumnya ‘ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama’. Pun demikian mungkin perlu dibahas cara meningkatkan gairah dan jumlah inovator dan inovasinya, mungkin juga perlu dibahas cara meningkatkan innovation readiness level nya biar ramai dan juga seru, dan mungkin juga paling dasarnya perlu dibahas cara memperbaiki infrastrukturnya. Tapi tidak usah sekarang. Sekarang sudah adzan Isya. Sekarang cukup seperti perlakuan saya terhadap pintu ketika keluar ruang rapat ber-AC, saya tutup saja.

Historical Nostalgia

Dalam film Midnight in Paris karakter Owen Wilson memiliki ketertarikan atau malah kerinduan yang mendalam pada periode 1920an. Kerinduan yang aneh sebenarnya karena dia tidak pernah merasakan hidup pada periode waktu tersebut. Orang-orang di keilmuan psikologi menamai itu sebagai historical nostalgia. Kontras dengan personal nostalgia yang melulu berkaitan dengan kenangan. Contoh sekarang di bulan Desember, dan pada orang-orang dari periode 90an muncul perasaan nostalgia terhadap film Home Alone. Perasaan tersebut muncul karena kenangan mereka di waktu seperti ini pada liburan akhir tahun dulu menontonnya Home Alone. Itu personal nostalgia. Historical nostalgia tidak berkaitan dengan kenangan personal. Mungkin bisa dikatakan akibat dari imajinasi atau fantasi akan pesona dari periode waktu tertentu di masa lalu. Kalau secara psikologis mungkin hal ini ada relasinya dengan perasaan sinis atau ketidakpuasan pada masa kini. Seperti yang disebut salah satu karakter dalam film tersebut juga “Nostalgia is denial of the painful present”. Untungnya karakter Owen Wilson berkesempatan bisa menjelajah waktu kembali ke periode masa yang idam-idamkan. Dan akhirnya —maaf spoiler buat yang belum nonton— sadar kalau ternyata masa itu juga tidak seindah yang ia bayangkan, dan masa kini tidak seburuk yang ia nilai. Tapi walau kita tidak seberuntung Owen Wilson untuk bisa menjelajah waktu ke masa lalu, mudah-mudah kita bisa sebijak dia dalam mengambil hikmahnya.

Musik Klasik?

Musik klasik pada jamannya adalah musik kontemporer. Gimana kalau ninu ninu ninu kedepannya juga. Throwback 092022: Perjalanan Berlin ke Jakarta

Mbok yo sing full senyum sayang ben aku semangat berjuang

‘Mbok yo sing full senyum sayang ben aku semangat berjuang’ Baader–Meinhof phenomenon atau biasa orang lebih kenal dengan frequency illusion adalah sebuah fenomena dimana setelah kita terpikir atau engeh akan sesuatu maka tiba-tiba sesuatu itu jadi sering muncul di sekitar kita. Misal tiba-tiba kepikiran mau beli bakso, tiba-tiba muncul aja tuh tukang bakso di sepanjang jalan. Sering kejadian juga pada iklan, atau dalam konteks ini juga pada lagu. Begitu saya tahu ada lagu itu, tiba-tiba lagu itu berkumandang terus di sekitar—walau mungkin karena saya lagi di Jogja juga ya. Frequency illusion itu satu hal. Hal lain juga yang menjadi alasan adalah menarik untuk mengamati bahasa komunikasi kaum marjinal. Walaupun tidak tepat juga ya istilah marjinal karena marjinal itu kesannya kecil secara jumlah dan terpinggirkan, sedangkan ini mungkin sebaliknya. Terlepas dari itu poin saya mengenai bahasa komunikasi adalah mengenai hubungan cinta antar kelas dan perjuangannya yang melulu jadi tema pembahasan. Misal seperti ‘pancene koe pa*u, nuruti ibumu, jarene ra ninja ra oleh dicinta’ atau ‘Koe rasah sok mutusi, aku ra neng endi-endi aku lungo amung golek rejeki’ Tapi pun demikian kalau dipikir-pikir secara tema dua contoh sebelumnya secara beruntun apa bedanya dengan ‘katakan pada mama cinta bukan hanya harta dan tahta’ atau ‘gina works the diner all day working for her man she brings home her pay’. Hanya pada tingkat kelugasannya saja sepertinya. Ah yasudahlah..Wong ko ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke, yo mesti kalah.

Sehabis Konser Dewa19 Legend Never Dies Prambanan

Semoga waktu akan mengilhami, merajut asa, menjalin mimpi, dan endapkan sepi-sepi. Dan seperti Hawa yang tercipta di dunia tak usah kau cari makna hadirnya diriku. Too many memories… Still I’m sure #legendsneverdie

Potret Seoul 7 Hari

Seoul 7 hari. Ternyata isinya bukan cuma tentang gaya atau uang atau heritage atau makanan tapi juga tentang orang. Orang yang mendaki bersama dan kelelahan, orang yang persisten dan berani take a leap of faith, orang yang rindu kampung dan nyari bakso, dan juga orang yang pas ditato tapi engga bisa diem.

Potret NextRise Seoul 2022

It’s a wrap!! 2 hari NextRise, Seoul 2022 yang penuh dengan belajar, berjejaring dan berdiskusi telah usai. Semoga hasil yang dibawa baik. Besok libur dulu kerjanya.

Potret Seoul 2 Hari

Seoul 2 hari ini belum ada rasa, masih sebatas bisnis. Melihat Yoo Jae-suk dan Karl Marx di 2 slide terakhir masih sama nilainya. Belum tahu kalau besok.

Cerita KRL di Training Internal Qiwii

Meskipun jarak rumah saya dengan sekolah menengah atas saya yaitu SMAN 12 Jakarta itu cuma sekitar 5-6 KM, saya dulu lebih sering naik Kereta Rel Listrik (KRL). Naiknya dari Stasiun Pondok Kopi (sekarang stasiun Klender Baru) dan turunnya di Stasiun Klender. Dulu Transjakarta belum sampe Pulogebang, dan kalau naik Metromini bisa makan waktu 45-60 menit, karena macet. Maka KRL-lah yang jadi opsi terbaik. Abodemen 1 bulan cuma 14 ribu rupiah saja, dan waktu tempuh cuma 5-7 menit. KRL dulu branding-nya belum jadi Commuter Line, belum ber-AC, dan pintunya belum otomatis, eh lebih tepatnya otomatis selalu terbuka dan tidak bisa ditutup, entah kenapa itu. Juga frekuensinya belum sesering sekarang, jadi penuh pasti tak terhindarkan. Jadi ya 5-7 menit memang waktu yang singkat tapi rasanya lama sekali kalau sambil bergelantungan dengan satu tangan dan hanya berpijak dengan satu kaki di pinggir pintu kereta yang tengah melaju. Belum lagi kalau sudah masuk daerah Kawasan, banyak ranting-ranting pohon yang menjulur mencoba menjawil-jawil liar kami yang berlantungan. Sakit tersabet tapi tangan harus tetap kuat, kalau tidak ya jatuh. Resiko yang setimpal? Mungkin iya bagi pikiran saya dulu. Tapi ya seperti kata Sheldon Cooper apa artinya life whitout whimsy, setidaknya jadi punya bahan cerita. Itu yang kira-kira saya ceritain di foto pertama, di sela-sela training intern business development department-nya @qiwii.official pekan lalu. Dan foto kedua saat setelah selesai training dan makan-makan.