Potret Seoul 7 Hari

Seoul 7 hari. Ternyata isinya bukan cuma tentang gaya atau uang atau heritage atau makanan tapi juga tentang orang. Orang yang mendaki bersama dan kelelahan, orang yang persisten dan berani take a leap of faith, orang yang rindu kampung dan nyari bakso, dan juga orang yang pas ditato tapi engga bisa diem.
Potret NextRise Seoul 2022

It’s a wrap!! 2 hari NextRise, Seoul 2022 yang penuh dengan belajar, berjejaring dan berdiskusi telah usai. Semoga hasil yang dibawa baik. Besok libur dulu kerjanya.
Potret Seoul 2 Hari

Seoul 2 hari ini belum ada rasa, masih sebatas bisnis. Melihat Yoo Jae-suk dan Karl Marx di 2 slide terakhir masih sama nilainya. Belum tahu kalau besok.
Cerita KRL di Training Internal Qiwii

Meskipun jarak rumah saya dengan sekolah menengah atas saya yaitu SMAN 12 Jakarta itu cuma sekitar 5-6 KM, saya dulu lebih sering naik Kereta Rel Listrik (KRL). Naiknya dari Stasiun Pondok Kopi (sekarang stasiun Klender Baru) dan turunnya di Stasiun Klender. Dulu Transjakarta belum sampe Pulogebang, dan kalau naik Metromini bisa makan waktu 45-60 menit, karena macet. Maka KRL-lah yang jadi opsi terbaik. Abodemen 1 bulan cuma 14 ribu rupiah saja, dan waktu tempuh cuma 5-7 menit. KRL dulu branding-nya belum jadi Commuter Line, belum ber-AC, dan pintunya belum otomatis, eh lebih tepatnya otomatis selalu terbuka dan tidak bisa ditutup, entah kenapa itu. Juga frekuensinya belum sesering sekarang, jadi penuh pasti tak terhindarkan. Jadi ya 5-7 menit memang waktu yang singkat tapi rasanya lama sekali kalau sambil bergelantungan dengan satu tangan dan hanya berpijak dengan satu kaki di pinggir pintu kereta yang tengah melaju. Belum lagi kalau sudah masuk daerah Kawasan, banyak ranting-ranting pohon yang menjulur mencoba menjawil-jawil liar kami yang berlantungan. Sakit tersabet tapi tangan harus tetap kuat, kalau tidak ya jatuh. Resiko yang setimpal? Mungkin iya bagi pikiran saya dulu. Tapi ya seperti kata Sheldon Cooper apa artinya life whitout whimsy, setidaknya jadi punya bahan cerita. Itu yang kira-kira saya ceritain di foto pertama, di sela-sela training intern business development department-nya @qiwii.official pekan lalu. Dan foto kedua saat setelah selesai training dan makan-makan.
Catatan dari 2 Lunch Meeting di Berlin

Sialnya 1st world country punya masalah sama dengan 3rd world country. Di Jerman saat ini minyak goreng langka dan BBM mahal. Malah beberapa kenalan saya orang Indonesia dan Turki yang tinggal di Berlin sampai pergi ke negara tetangga kalau mau beli bensin dan daging. Biar dapat yang lebih murah katanya. Lah kok mirip daerah-daerah di Indonesia yang diperbatasan ya. Minyak goreng langka di Jerman karena komitmen pemerintahnya untuk tidak pakai sawit sejak lama, dan memilih menggunakan biji bunga matahari. Sialnya, 2/3 sumbernya berasal dari Ukraina dan Rusia yang sedang konflik ini. BBM mahal juga efek ini katanya. Jadi sebagai orang Jawa yang kalaupun kehujanan dan basah kuyup, masih merasa untung karena lagi ga bawa laptop di tas —alias pandai mengambil hikmah— saya meralat kalimat pertama di atas harusnya jadi “Bangganya 3rd world country punya masalah sama dengan 1st world country” 🙈 🤘 ** Foto ke-1: Lunch meeting dengan mentor saya sejak 10 tahun yang lalu Mr.Uwe Seidel dan @kristie_minnie Foto ke-2: Lunch meeting dengan tim KBRI Berlin dan @kemalghifari
Hyperborean

Ini hari-hari yang biasa dalam perjalanan waktu. Prosesnya rigid. Selalu meninggalkan masa lalu, menjalani masa kini dan menuju ke masa depan. Kita saja yang membuatnya jadi rumit. Seperti yang saya lakukan sekarang, menertawai waktu dengan kembali ke masa lalu melalui sebuah foto. Dulu superman harus terbang melawan rotasi mengelilingi bumi untuk memundurkan waktu beberapa detik demi menyelamatkan lois lane. Tapi superman yang sekarang tidak pernah lagi begitu. Tidak pernah atau malah tidak bisa lagi karena logika pembuat filmnya sudah beda. Logika mana yang benar tidak perlu diperdebatkan, karena yang dibuat toh superman. Dan yang penting saya bukan superman, jadi tidak perlu terbatas dalam logika filmnya. Saya mungkin hyperborean. Malah kita semua mungkin hyperborean, atau akan menjadi paling tidak. Baik yang secara definisi aslinya atau simbolisasi dari nietzche. Tapi sudah malam, mungkin saya bahas lain kali saja kalau ingin lagi. ** Foto kesatu adalah restoran di sudut alun-alun praha, kelak semoga mampir lagi di sana sekedar ngopi dan foto untuk pamer di story. Foto kedua adalah tatakan gelas yang saya beli di sana yang tugasnya selain sesuai dengan namanya juga sebagai pengingat, dan dalam hari-hari yang biasa ini dia sangat berhasil dalam menjalankan tugasnya.
Catatan dari Monitoring ke PNS Sambas

Riuh ramainya dunia startup juga terbawa ke sampai institusi riset dan teknologi, dan membuat researcher juga ingin berbisnis. Tidak salah tentu saja. Di satu sisi malah ini bagus, karena mendorong applied research, mendorong komersialisasi teknologi. Walau mudah-mudahan tidak sampai menganaktirikan basic research. Tapi di sisi lain, hasrat berbisnis ini juga membuat lupa. Lupa yang pertama, lupa kalau komersialisasi teknologi jalannya bukan cuma jadi bisnis yang dijalani sendiri, bukan cuma jadi spin-off atau jadi startup. Ada licensing. Walau ada juga yang ingat, tapi narasinya adalah “mending dijalani sendiri, daripada dibagi-bagi duitnya.” Hei tunggu dulu.. Ini berkait dengan lupa yang kedua, yang lebih sering dilupai lagi. Yaitu berbisnis itu bukan cuma tentang membuat produk atau teknologi yang baik, ada manajemen orang, ada manajemen uang, ada manajemen pemasaran, dll. Lebih baik bijak dalam membandingkan risk dan opportunity cost-nya. Resiko jika berbisnis bagaimana dan juga peluang jika tetap meriset dan melisensi saja bagaimana. Ini utamanya menjadi catatan untuk saya sendiri juga sih. ** Foto sewaktu monitoring ke inkubator bisnis di kampus Politeknik Negeri Sambas beberapa hari lalu.
Kamu Jatuh Cinta yang Mana?
Kata ERK, jatuh cinta biasa saja. Berpegangan tangan tak perlu berpelukan. Kalau rindu menggebu, kita menunggu. Kata JKT48, rapsodi ini bermuara di fajar hati. Ketika kelingking berjanji, jari manis jadi saksi. Bahagia.
Potret Kangen Kesasar di Berlin

Tiba-tiba kangen kesasar di Berlin waktu Oktober 2017 ** Pas ternyata hari ini 3 oktober diperingati sebagai Deutsche Wiedervereinigung atau reunifikasi Jerman. Ketika GDR (Jerman Timur) menjadi bagian dari FRG (Jerman Barat). Berlin memang jadi kota yang paling tepat buat wisata sejarah apalagi yang tertarik dengan sejarah PD 2 dan turunan-turunannya. Dan Oktober juga bulan yang paling tepat buat jalan-jalan ke belahan bumi bagian utara. Inginnya kesasar lagi ke sana.