Panji Prabowo

Catatan dari Gunung Putri

Seperti yang dikisahkan dalam Tremendous Trifles-nya Chesterton, Setan adalah pemandu Gunung Alpine yang paling terkenal. Ia mengajak orang-orang ke puncak Alpine untuk menunjukan semua kerajaan di muka bumi. Mereka yang diajaknya lalu gembira saat berdiri di puncak. Tapi karena pengaruhnya, bukan kegembiraan karena memaknai kebesaran yang mereka peroleh, melainkan kegembiraan dalam menyaksikan betapa kecil segalanya. Bahwa semua orang tampak seperti serangga di bawah kaki mereka. Kalau nanti itu yang didapat, apa pagi ini masih perlu kita ke puncak? Sedang dari lembah, gunung sudah tampak besar, langit sudah tampak tinggi? Ya! Jawabnya, karena bukan kegembiraan itu yang setan tawarkan buat kita. Cukup kegembirariaan dengan foto untuk dibagikan di sosmed. Itu saja sudah kalah.

Bagaimana membuktikan mens rea?

Di seberang Korea National Assembly Building (2023) Korea National Assembly Building yang luluh lantah akibat bom di film Designated Survivor: 60 Days (2019) “Bagaimana membuktikan mens rea?” adalah pertanyaan yang saya tuliskan beberapa waktu yang lalu pada aplikasi Chat Generative Pre-training Transformer (GPT). Memang kalau lagi resah saya sering iseng-iseng bertanya ke ChatGPT. Biasanya bukan jawaban yang benar yang saya cari, melainkan lebih kepada penstrukturan pikiran saja. Buat saya menanyakannya lebih penting daripada mendapatkan jawabannya apalagi kepada chatGPT. “Actus reus non facit reum nisi mens sit rea” adalah frase populer dalam common law yang artinya “tindakan tidak membuat seseorang bersalah kecuali niatnya jahat”. Itu yang membuat saya resah. Bagaimana manusia membuktikan mens rea (niat jahat), sementara malaikat saja hanya diminta mencatat tindakan.

Catatan dari Bukber Startup Bandung

Start-nya mungkin tidak semua sama. Up-nya juga beda-beda, ada yang cepat, banyak yang lambat. Karena banyak jalan yang rusak juga sih di Bandung. Ada yang bilang Peter Pan syndrome. Ingin stay small karena mendapat banyak keuntungan. Tapi tidak menurut saya. Waktunya saja yang relatif. Ia berjalan berbeda-beda buat tiap orang. Dan bukan karena kesamaan baju yang sama-sama putih orang-orang ini berkumpul. Bukan. Tetapi karena sama-sama terbiasa mencari solusi dari suatu masalah. Dan kebetulan Bandung sedang tidak baik-baik saja hari-hari ini. ~sudah coba ditonedown ya daripada saya sebut sedang bermasalah~ Jadi ya semoga komunitas ini bisa saling bantu antar anggotanya dan syukur-syukur bisa bantu kotanya juga. Harapan ini mah ya.

ChatGPT dan NYST Awards Kemenpora

Seminggu terakhir ini ramai orang bermain-main dengan Avatar AI, Dall-E, ChatGPT atau juga Playground OpenAI. Cukup banyak setidaknya berdasarkan yang berseliweran di group whatsapp dan feed instagram saya. Tapi nyatanya memang salah satu yang saya sebut itu mendapatkan 1 juta pengguna semingguan ini. Biasanya teman-teman berkomentar seputar kekaguman atas kecanggihan, potensi pemanfaatan, ketakutan atas disrupsi yang mungkin terjadi atau sekedar ikut seru-seruan saja. Umumnya begitu, termasuk saya. Juga seminggu yang lalu saya diajak untuk berdiskusi dengan teman-teman inovator muda. Tidak banyak, cuma 10 orang yang menjadi finalis National Youth Science & Technology Awards yang dipilih oleh Kemenpora, tapi datanya hampir 400 inovator yang mendaftar. Diskusi kami berkisar tentang siklus inovasi, bagaimana membuat inovasi yang dipakai masyarakat, cara biar berkelanjutan dan berdampak. Karena itu umumnya yang jadi concern, termasuk saya juga. ** Di atas itu hanyalah cerita 2 kejadian yang tidak berhubungan yang saya tuliskan dalam satu caption yang sama dengan pola yang mirip. Bukan maksud untuk membahas 1 juta vs 400 atau banyaknya pengguna vs sedikitnya inovator. Karena khittahnya memang begitu. Walau memang kalau mau dibahas takutnya ujungnya seperti jawaban normatif politisi pada umumnya ‘ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama’. Pun demikian mungkin perlu dibahas cara meningkatkan gairah dan jumlah inovator dan inovasinya, mungkin juga perlu dibahas cara meningkatkan innovation readiness level nya biar ramai dan juga seru, dan mungkin juga paling dasarnya perlu dibahas cara memperbaiki infrastrukturnya. Tapi tidak usah sekarang. Sekarang sudah adzan Isya. Sekarang cukup seperti perlakuan saya terhadap pintu ketika keluar ruang rapat ber-AC, saya tutup saja.

Historical Nostalgia

Dalam film Midnight in Paris karakter Owen Wilson memiliki ketertarikan atau malah kerinduan yang mendalam pada periode 1920an. Kerinduan yang aneh sebenarnya karena dia tidak pernah merasakan hidup pada periode waktu tersebut. Orang-orang di keilmuan psikologi menamai itu sebagai historical nostalgia. Kontras dengan personal nostalgia yang melulu berkaitan dengan kenangan. Contoh sekarang di bulan Desember, dan pada orang-orang dari periode 90an muncul perasaan nostalgia terhadap film Home Alone. Perasaan tersebut muncul karena kenangan mereka di waktu seperti ini pada liburan akhir tahun dulu menontonnya Home Alone. Itu personal nostalgia. Historical nostalgia tidak berkaitan dengan kenangan personal. Mungkin bisa dikatakan akibat dari imajinasi atau fantasi akan pesona dari periode waktu tertentu di masa lalu. Kalau secara psikologis mungkin hal ini ada relasinya dengan perasaan sinis atau ketidakpuasan pada masa kini. Seperti yang disebut salah satu karakter dalam film tersebut juga “Nostalgia is denial of the painful present”. Untungnya karakter Owen Wilson berkesempatan bisa menjelajah waktu kembali ke periode masa yang idam-idamkan. Dan akhirnya —maaf spoiler buat yang belum nonton— sadar kalau ternyata masa itu juga tidak seindah yang ia bayangkan, dan masa kini tidak seburuk yang ia nilai. Tapi walau kita tidak seberuntung Owen Wilson untuk bisa menjelajah waktu ke masa lalu, mudah-mudah kita bisa sebijak dia dalam mengambil hikmahnya.

Musik Klasik?

Musik klasik pada jamannya adalah musik kontemporer. Gimana kalau ninu ninu ninu kedepannya juga.

Mbok yo sing full senyum sayang ben aku semangat berjuang

‘Mbok yo sing full senyum sayang ben aku semangat berjuang’ Baader–Meinhof phenomenon atau biasa orang lebih kenal dengan frequency illusion adalah sebuah fenomena dimana setelah kita terpikir atau engeh akan sesuatu maka tiba-tiba sesuatu itu jadi sering muncul di sekitar kita. Misal tiba-tiba kepikiran mau beli bakso, tiba-tiba muncul aja tuh tukang bakso di sepanjang jalan. Sering kejadian juga pada iklan, atau dalam konteks ini juga pada lagu. Begitu saya tahu ada lagu itu, tiba-tiba lagu itu berkumandang terus di sekitar—walau mungkin karena saya lagi di Jogja juga ya. Frequency illusion itu satu hal. Hal lain juga yang menjadi alasan adalah menarik untuk mengamati bahasa komunikasi kaum marjinal. Walaupun tidak tepat juga ya istilah marjinal karena marjinal itu kesannya kecil secara jumlah dan terpinggirkan, sedangkan ini mungkin sebaliknya. Terlepas dari itu poin saya mengenai bahasa komunikasi adalah mengenai hubungan cinta antar kelas dan perjuangannya yang melulu jadi tema pembahasan. Misal seperti ‘pancene koe pa*u, nuruti ibumu, jarene ra ninja ra oleh dicinta’ atau ‘Koe rasah sok mutusi, aku ra neng endi-endi aku lungo amung golek rejeki’ Tapi pun demikian kalau dipikir-pikir secara tema dua contoh sebelumnya secara beruntun apa bedanya dengan ‘katakan pada mama cinta bukan hanya harta dan tahta’ atau ‘gina works the diner all day working for her man she brings home her pay’. Hanya pada tingkat kelugasannya saja sepertinya. Ah yasudahlah..Wong ko ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke, yo mesti kalah.

Sehabis Konser Dewa19 Legend Never Dies Prambanan

Semoga waktu akan mengilhami, merajut asa, menjalin mimpi, dan endapkan sepi-sepi. Dan seperti Hawa yang tercipta di dunia tak usah kau cari makna hadirnya diriku. Too many memories… Still I’m sure #legendsneverdie