Review ‘The Odyssey’ (2026): Harga Sebuah Kepulangan

Di Amerika, tiket IMAX untuk film ini kabarnya sempat diperjualbelikan reseller hingga ratusan dolar. Sementara saya? Saya bisa duduk manis di IMAX Summarecon Bandung dengan modal Rp40.000 saja, sebuah momen sederhana yang membuat saya bersyukur hidup di Indonesia. Namun, tiga jam kemudian, saya melangkah keluar dari studio dengan perasaan ganjil yang menolak luruh. Ada sensasi asing yang mendadak menyergap saat melihat orang-orang berjalan bubar menuju parkiran. Rasanya seolah-olah saya baru saja ditarik paksa dari sebuah dimensi lain yang belum selesai saya selami. Karena itu sepulang dari sana, sebelum rasa itu menguap ditelan malam, saya langsung menyalakan laptop untuk menulis review ini. Untungnya, perjalanan pulang saya tadi tidak perlu memakan waktu sepuluh tahun seperti Odysseus. ** Christopher Nolan tampaknya memang tidak sedang mendesain sebuah tontonan musim panas yang renyah. Ia sedang mengajak kita tersesat dalam dinginnya pengembaraan Odysseus yang makin lama makin pilu. Pertama melalui gema skor elektro-orkestra yang tidak terdengar seperti musik latar konvensional; ia adalah simfoni yang merambat pelan melalui tulang rusuk, membuat dada terasa sesak. Ditambah lagi dengan sinematografi yang dipenuhi warna-warna pucat sekaligus terbakar, membuat setiap lanskap Mediterania tampak seperti dunia yang perlahan kehilangan kehangatannya. Bahkan saat lampu bioskop sudah menyala terang, retina saya seolah masih membawa sisa warna-warna dingin tersebut. Film ini tidak sekadar ditonton; ia menetap dan menginfeksi kesadaran. Nolan yang Akhirnya Pulang ke Troya Ada kelindan takdir yang puitis di balik layar proyek ini. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Christopher Nolan hampir menyutradarai Troy pada tahun 2004 silam sebelum proyek itu akhirnya jatuh ke tangan Wolfgang Petersen. Dua puluh dua tahun kemudian, Nolan justru “pulang” ke mitologi Yunani yang sama lewat The Odyssey. Sulit rasanya melihat ini sebagai sebuah kebetulan belaka. Film ini terasa seperti percakapan eksistensial yang tertunda selama dua dekade, sebuah jawaban atas pertanyaan yang dulu tidak sempat ia ajukan. Jika Troy (2004) adalah glorifikasi tentang bagaimana seorang manusia mengejar keabadian nama melalui kematian (diwakili oleh ambisi mutlak Akhilles), maka The Odyssey adalah antitesisnya yang sunyi. Yang ingin ditanyakan Nolan justru jauh lebih sunyi: apakah kepulangan masih memiliki makna setelah perang meremukkan kemanusiaan di dalam diri kita? Akhilles menukar usia demi reputasi emas dan kemenangan gemilang. Odysseus (Matt Damon) hanya ingin pulang demi kerutan di wajah istrinya dengan kondisi psikologis yang remuk. Dan Nolan, jelas jauh lebih tertarik membedah jiwa manusia yang kedua. Labirin Temporal dan Ilusi Kedamaian Nolan melakukan apa yang paling ia kuasai: membongkar struktur epik klasik ini menjadi sebuah “puzzle temporal” yang menuntut atensi penuh. Tiga lini waktu -kengerian Perang Troya, masa-masa isolasi yang melumpuhkan di Pulau Kalipso, dan kekacauan domestik di Itaka- bertabrakan tanpa tanda peringatan. Awalnya, saya mengira ini hanyalah gaya pamer Nolan yang memang gemar mempermainkan waktu. Namun lambat laun, saya menyadari bahwa struktur non-linear ini adalah representasi visual dari kondisi psikologis Odysseus sendiri. Ia bukan lagi pahlawan cerdik yang penuh trik dalam mitologi klasik. Di sini, ia adalah veteran perang yang menderita PTSD akut. Pikirannya mengalami malfungsi; ia tidak lagi mampu membedakan dengan koheren antara trauma masa lalu, delusi pulau Kalipso, dan kenyataan pahit di Itaka. Perjalanan pulang bukan lagi persoalan navigasi geografis, melainkan sebuah perjuangan mental untuk mengenali kembali identitas diri yang telah terkikis habis. Simfoni Karakter dalam Dekadensi dan Kehilangan Jennifer Lame sebagai editor di film ini memang dengan sangat impresif berhasil menjahit kekacauan temporal ini menjadi satu kesatuan emosional yang solid, yang didukung penuh oleh departemen aktingnya: Matt Damon: Memberikan penampilan yang sangat rapuh. Saya sempat bercanda sebelum menonton bahwa Damon memang aktor spesialis “pria hilang yang butuh dijemput”—dari Saving Private Ryan, The Martian, hingga tersesat di dimensi lain dalam Interstellar. Namun di film ini, lelucon itu menguap. Rasa lelah yang ia pancarkan begitu organik; setelah melihat apa yang ia lalui, kita benar-benar merasa bahwa pria ini sudah teramat layak untuk pulang. Anne Hathaway & Tom Holland: Hathaway membawakan sosok Penelope yang luar biasa stoic namun menyimpan getar kecemasan yang hebat di balik matanya. Sementara Holland memberikan kontras yang mentah sebagai Telemachus, seorang anak yang tumbuh besar hanya dengan memeluk bayang-bayang kebesaran sang ayah yang tak pernah ia kenal. Samantha Morton (Circe): Morton menghadirkan visual horor paling mengganggu di sepanjang film. Sihirnya didekonstruksi menjadi body horror yang mengerikan—adegan saat tubuh para awak kapal dicetak menjadi babi terasa sangat Goya-esque, sebuah metafora visual yang brilian tentang bagaimana perang merenggut martabat dan kemanusiaan seseorang. Namun, di antara semua adegan megah tersebut, momen yang paling lama tinggal di kepala saya justru sangat sederhana: ketika anjing tua bernama Argos mengenali Odysseus di tengah penyamarannya. Argos adalah satu-satunya makhluk yang mampu melihat sisa-sisa “manusia” di balik lapisan debu, luka, dan trauma yang menutupi Odysseus. Kadang, pengakuan paling jujur memang datang dari tempat yang paling sunyi. Momen ini begitu hangat sekaligus puitis, sampai-sampai sepulang menonton saya langsung bilang ke istri saya untuk mengganti nama kucing kami di rumah menjadi Argos. Nostos, Algos dan Hukum Zeus Secara filosofis, The Odyssey adalah bedah anatomi atas etimologi kata “Nostalgia”—gabungan dari kata Yunani Nostos (kepulangan) dan Algos (rasa sakit). Nolan menunjukkan bahwa kepulangan tidak pernah datang gratis; ia selalu ditagih dengan rasa sakit yang setara. Bahkan Kuda Troya pun didekonstruksi dari simbol kemenangan menjadi sebuah ruang sempit yang mencekam dan klaustrofobik. Kuda kayu itu tidak memiliki roda; ia ditarik paksa dengan kasar, menciptakan ketegangan yang menyesakkan bagi mereka yang bersembunyi di dalamnya. Ini adalah simbol dari pengkhianatan terhadap hukum Zeus -relasi saling memuliakan antara tamu, tuan rumah dan orang asing- sebuah dosa moral yang akhirnya membusuk dari dalam dan ikut “berlayar” pulang bersama Odysseus. Hal ini memuncak pada babak ketiga yang menyajikan payoff luar biasa memuaskan. Kematian para pelamar, terutama Antinous (Robert Pattinson yang sejak awal tampil begitu menyebalkan, angkuh, dan penuh dekadensi), dieksekusi dengan tensi tinggi yang membuat penonton bernapas lega di kursi bioskop. Nolan memberikan kepuasan yang sangat kita butuhkan setelah dibuat geram sepanjang film oleh kelakuan para parasit tersebut. Odysseus berhasil pulang kepelukan istrinya. Epilog: Berlayar Menyongsong Matahari Tenggelam Namun, Nolan tidak membiarkan film ini selesai sebagai sekadar kisah balas dendam biasa. Alih-alih membiarkan Odysseus menetap di atas takhta Itaka yang kini bersimbah darah, film ini ditutup dengan
Reason dan Excuse

Kadang yang membedakan reason dan excuse bukanlah kalimatnya, melainkan keberanian orang yang mengucapkannya. Dua orang bisa mengatakan hal yang sama: “Saya terlambat karena macet.” Yang satu sedang menjelaskan kenyataan. Yang lain sedang berharap kenyataan itu menghapus tanggung jawabnya. Barangkali karena itulah, sejak Aristoteles manusia disebut animal rationale, makhluk yang mampu memberikan alasan. Kemampuan reasoning inilah yang menjadi salah satu fondasi cara kita memahami dunia. Dimana setiap pilihan yang kita ambil selalu berusaha dihubungkan dengan logika. Sementara excuse sering kali berkaitan dengan mekanisme pertahanan (defense mechanism) atau self-serving bias. Mungkin karena ego selalu ingin tetap utuh. Ketika citra diri terasa terancam, excuse sering kali muncul bukan untuk menjelaskan kenyataan, melainkan untuk melindungi diri dari rasa bersalah. Namun tidak semua filsuf melihatnya dengan lunak. Jean-Paul Sartre misalnya, melihat excuse secara lebih keras. Menurutnya manusia hampir selalu bebas memilih, karena itu banyak excuse sebenarnya merupakan bentuk bad faith (mauvaise foi). Mungkin kedewasaan bukanlah ketika kita tak lagi memiliki excuse. Melainkan ketika kita mampu mengatakan, “Inilah yang terjadi,” tanpa merasa perlu bersembunyi di baliknya. Karena alasan terbaik bukanlah yang membuat kita tampak benar, melainkan yang tetap bisa kita ucapkan, bahkan ketika kita bersedia mengakui bahwa kita salah. Karena pada akhirnya, reason mungkin menjelaskan mengapa kita sampai di sini. Tetapi tanggung jawablah yang menentukan ke mana kita akan melangkah setelahnya. ** Perenungan di siang hari di Perpustakaan Nyi Ageng Serang – Jakarta.
Menelusuri Labirin Kuning: Review Film ‘Backrooms’ (2026)

Saya agak telat sebenarnya mengetahui kehebohan internet saat Kane Parsons, pemuda yang belum genap berusia 20 tahun, merilis seri found footage Backrooms di YouTube 2019 silam. Saya baru mengetahuinya 2-3 tahun lalu saat kehebohan itu telah berubah menjadi mitologi. Dan kini mitologi ini bertransformasi menjadi fenomena sinematik di bawah bendera A24. Lonjakan karier Parsons dari content creator menjadi sutradara film panjang adalah cerita sukses yang luar biasa; dengan budget hanya $10 juta (sangat minim untuk ukuran blockbuster Hollywood), film ini meraup pendapatan luar biasa sebesar $110 juta. Menariknya, Parsons berhasil mengolah lore yang awalnya bersifat crowd-sourced world building (hasil kolektif imajinasi netizen) menjadi sebuah visi tunggal yang tetap menghormati akar digitalnya. Saya baru menontonnya kemarin malam di CGV Kings Bandung, dan hal pertama yang membuat Saya terpaku di kursi bioskop adalah bagaimana Parsons menerjemahkan estetika liminal space ke layar lebar dengan presisi yang menghipnotis. Visualnya dipenuhi koridor kuning tak berujung, kolam air ganjil, dan arsitektur mustahil yang menciptakan sensasi vertigo serta klaustrofobia. Alih-alih mengandalkan CGI berlebihan, penggunaan set praktis dengan lensa fisheye dan sudut pandang lebar membuat ruang transisi ini terasa sangat nyata. Salah satu momen yang paling membekas buat saya adalah adegan pohon Natal; sebuah visual yang seharusnya hangat namun di sini justru memicu kepanikan luar biasa, membuktikan bahwa Parsons sangat mahir memelintir simbol kenyamanan menjadi teror yang ganjil. Kengerian visual tersebut didukung oleh desain suara yang menurut saya sangat jenius sekaligus menyiksa telinga. Sepanjang durasi, kita dihajar oleh dengung lampu fluoresen yang membuat saraf terus menegang. Skor ambiennya yang berdenyut seolah menekan dada penonton tanpa henti. Detail audio yang paling mengejutkan adalah sisipan rekaman suara yang dikirim astronot ke luar angkasa, berisi sapaan dalam berbagai bahasa. Dan mendadak mendengar sapaan dalam Bahasa Indonesia di tengah kesunyian labirin kuning tersebut memberikan efek uncanny yang luar biasa bagi saya sendiri; rasanya seperti menemukan jejak kemanusiaan yang sudah lama membusuk di ruang hampa. Namun, film ini tidak membiarkan dirinya menjadi sekadar parade estetika kosong. Performa Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, pemilik toko furnitur bernama Cap’n Clark’s Ottoman Empire, memberikan landasan emosional yang sangat pahit. Clark digambarkan bukan sebagai pahlawan, melainkan pria yang hancur oleh alkoholisme, kegagalan bisnis, dan kebencian mendalam terhadap istrinya sendiri. Hubungannya dengan sang terapis, Mary (Renate Reinsve), mengubah arah narasi menjadi eksplorasi trauma yang sangat privat. Akting mereka membuat kita menyadari bahwa Backrooms di sini bukan sekadar labirin fisik, melainkan wadah bagi jiwa-jiwa yang terisolasi untuk berhadapan dengan kehancuran mental mereka. Saya melihat Backrooms sebagai metafora cerdas mengenai kondisi pikiran yang retak akibat trauma. Ruangan-ruangan kosong yang miring secara curam mencerminkan kegagalan pikiran manusia dalam melakukan sintesis terhadap rekaman pengalaman masa lalu untuk membentuk pemahaman yang koheren. Koridor kuning ini adalah representasi dari memori yang terdistorsi, di mana setiap perabot yang cacat bentuk adalah hasil konkret dari malfungsi imajinasi produktif manusia. Ini adalah horor psikologis dalam bentuk paling murni; sebuah pengingat bahwa saat kita mencoba mengisi kekosongan jiwa dengan ingatan yang salah, kita justru menciptakan narasi yang menyeramkan bagi diri kita sendiri. Jika dibedah lebih dalam, film ini adalah contoh murni dari simulakra fase keempat milik Jean Baudrillard—sebuah hiperrealitas yang tidak lagi memiliki kaitan dengan realitas asli. Kita bisa melihat ini pada “Monster Kapten Clark”, maskot bajak laut dari toko furniturnya yang bermutasi menjadi entitas pembunuh; sebuah simbol komersial hampa yang kini menjadi penguasa realitas baru. Belum lagi kemunculan kembaran Mary yang membisu di ruang interogasi akhir, sebuah replika yang lahir langsung dari trauma segar. Secara kosmologis, struktur ini menyerupai konsep “Demiurge” dalam tradisi Gnostik—seorang arsitek buta spiritual yang membangun dunia material cacat dari sisa memori kolektif manusia untuk menjebak jiwa-jiwa di dalamnya. Tentu saja, arah plot yang sangat personal ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar garis keras creepypasta. Banyak yang kecewa karena film ini lebih fokus pada breakdown psikologis karakter daripada menyajikan teror monster tradisional atau stakes nyawa yang tinggi. Kritik tajam juga tertuju pada mekanik film yang membolehkan Clark keluar-masuk Backrooms sesuka hati melalui jalan rahasia di bawah tokonya. Bagi saya pribadi, poin ini memang agak merusak esensi horor ruang liminal yang seharusnya menjebak tanpa jalan keluar. Rasa putus asa yang menjadi ciri khas lore aslinya terasa sedikit berkurang karena Clark seolah-olah memiliki “pintu darurat” menuju dunia nyata. Kelemahan paling terasa ada pada babak ketiga yang berfungsi sebagai bagian pengungkapan. Setelah dua babak pertama yang sangat memikat secara atmosferik, bagian akhir film ini justru terasa agak hollow atau tidak tuntas. Ada perasaan tidak puas saat cerita mencoba memberikan konklusi yang terlalu ambigu bagi penonton mainstream. Meskipun konsep dimensi kopian realitas ini sangat menarik untuk didiskusikan, eksekusinya di bagian akhir terasa sedikit janggal dan meninggalkan lubang narasi yang membuat rasa penasaran yang sudah dibangun sejak awal tidak terbayar dengan kepuasan maksimal. Terlepas dari kekurangannya, Backrooms tetaplah sebuah karya yang sangat menyegarkan di tengah gempuran horor jump-scare murahan. Bagi saya, film ini adalah seni atmosferik yang berani, sebuah slow-burn horor yang berhasil menangkap kegelisahan zaman digital melalui lensa trauma manusia yang universal. Kane Parsons telah membuktikan dirinya mampu membawa estetika internet yang abstrak ke dalam bentuk narasi yang memiliki bobot filosofis. Sebagai sebuah debut film panjang, ini adalah pencapaian yang sangat impresif dan ambisius. Untuk pengalaman sinematik yang unik, menghipnotis, dan penuh dengan kengerian eksistensial ini, Saya memberikan skor akhir 7,5/10.
Mengelilingi Ternate dalam Tiga Jam

Beberapa hari yang lalu, takdir pekerjaan membawa saya ke Ternate. Sebuah pulau yang berabad-abad lalu menjadi episentrum perebutan rempah oleh Portugis dan Belanda. Niat awalnya murni profesional: mengisi pelatihan digitalisasi untuk Bank Indonesia Maluku Utara. Namun, begitu pesawat merendah dan mata saya menangkap siluet megah Gunung Gamalama yang dikepung lautan, sebuah pikiran impulsif mendadak muncul: Kayaknya seru kalau keliling pulau ini naik motor. Setelah memeriksa peta, lingkar luar pulau ini ternyata tidak terlalu besar—hanya sekitar 42 hingga 52 Km. Maka di sebuah sore, memanfaatkan waktu luang yang terselip di antara jadwal kerja, tekad saya bulat. Tanpa rencana matang, hanya bermodal Google Maps dan rasa penasaran, saya meminjam motor. Metodenya sederhana: bergerak melawan arah jarum jam (counter-clockwise), dimulai ke arah utara. Inilah 50 kilometer perjalanan impromptu saya selama 3 jam 2 menit, mengitari Pulau Ternate, tempat kaki raksasa Gamalama menjejak. Titik Start: Hotel Gwen (16.09) Hotel tempat saya menginap berada persis di seberang Mall Jatiland, area yang cukup ramai di pusat kota. Dari sini, petualangan dimulai. Titik 1: Benteng Tolukko (16.17) Hanya butuh 8 menit (3 Km) untuk sampai ke sini. Benteng ini dibangun oleh kapten Portugis dan awalnya dinamai Santo Lucas. Berada di atas tebing batu, posisinya sangat strategis untuk mengawasi lautan sekaligus menyimpan cengkeh. Konon, nama “Tolukko” lahir karena lidah masyarakat lokal yang kesulitan melafalkan “Santo Lucas.” Saya menghabiskan 15 menit di sini, menikmati angin laut dari dinding benteng tua yang masih kokoh. Titik 2: Batu Angus (16.43) Berjarak 5 Km dari Tolukko, tempat ini menyajikan visual yang dramatis sekaligus ngeri: hamparan batu vulkanik hitam legam sisa letusan hebat Gunung Gamalama pada tahun 1737 dan 1907. Berada di sini memicu perasaan ganjil. Apalagi beberapa hari sebelum kedatangan saya, Gunung Dukono di Halmahera Utara, yang letaknya berseberangan pulau, baru saja meletus dan memakan korban turis. Alam di sini sangat indah, tapi ia juga tidak pernah lupa mengingatkan kita akan kekuatannya. Di sini saya menghabiskan waktu 20 menit untuk foto-foto dan juga berbincang singkat dengan beberapa turis dari Korea. Titik 3: Laugh Tale (17.05) Hanya 3 menit dari Batu Angus, saya menemukan titik di Google Maps yang bertuliskan “Laugh Tale.” Bagi penggemar One Piece, ini jelas nama pulau terakhir tempat harta karun legendaris berada. Tentu saja, di Ternate tidak ada One Piece (sayangnya). Tapi tempat ini menjadi titik singgah yang manis karena menawarkan pemandangan langsung ke Pulau Hiri di seberang sana. Titik 4: Pantai Jikomalamo (17.35) Bergerak 5,5 Km lagi ke barat, saya tiba di Jikomalamo. Pantai ini adalah salah satu sunset point terbaik dengan latar Pulau Hiri yang eksotis. Saat saya sampai, matahari masih butuh satu jam lagi untuk benar-benar tenggelam, tetapi gradasi warna langit senjanya sudah lebih dari cukup untuk memanjakan mata. Titik 5: Danau Tolire Besar (17.58) Melewati Tolire Kecil yang tampak biasa dari pinggir jalan, saya langsung menuju Tolire Besar. Danau ini dipenuhi mitos. Penjual di sekitar lokasi bercerita tentang buaya putih siluman yang menjaga danau, hingga mitos paling populer: tidak ada satu pun orang yang bisa melempar batu hingga menyentuh permukaan air danau dari atas tebing. Batu itu dipercaya akan “ditelan” kekuatan gaib. Plot twist-nya: dua hari setelah perjalanan ini, saya kembali ke sini bersama dua orang teman. Dan mitos kedua, ternyata murni masalah prespektif, bias visual, dan ekspektasi saja. Kami bisa melihat batu yang dilempar menyentuh permukaan. Tapi detail fisika di baliknya tidak akan saya bocorkan di sini. Kalau nanti kamu ke sana, ajak saya, baru akan saya ceritakan. https://panji.prabowo.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Video-2026-05-16-at-18.01.46.mp4 Titik 6: Makam Sultan Baabullah (18.35) Perjalanan terjauh adalah dari Tolire menuju sisi barat pulau (15 Km). Jalurnya berkelok-kelok sepi ditemani matahari terbenam. Satu-satunya “hambatan” di sini adalah kawanan kambing gembala yang dibiarkan bebas dan hobi menyeberang jalan mendadak. Tujuan saya adalah makam Sultan Baabullah, pahlawan nasional yang berhasil mengusir Portugis pada 1575 dan membawa Ternate ke puncak kejayaan maritimnya. Sayangnya, saya tidak sampai ke titik makam. Selain karena hari sudah maghrib dan saya sungkan dengan warga desa Foramadiahi yang sedang berduyun-duyun ke masjid, tanjakan lereng Gamalama di titik ini terlalu ekstrem untuk motor matic yang saya pinjam ini. Catatan untuk masa depan: ke sini harus siang hari. Titik 7: Pantai Fitu (18.50) Spot terakhir sebelum kembali ke kota. Pantai ini sangat terkenal karena sudut pandangnya menghadap Pulau Maitara dan Tidore—persis seperti lukisan di uang kertas Rp1.000 emisi tahun 2000. Karena saya tiba saat hari sudah gelap, pesonanya agak meredup di mata. Saya hanya mengambil beberapa foto cepat selama 5 menit. Titik Finish: Hotel Gwen (19.11) Setelah berkendara 17 menit dari Pantai Fitu, saya kembali ke titik semula. Tiga jam dua menit untuk mengitari sebuah pulau yang pernah mengubah sejarah dunia karena buah cengkehnya. Sebuah perjalanan dadakan yang menyenangkan. Ternate, kamu seru!
Saparua

Saparua berasal dari kata Sapanorua—dua sampan. Mungkin merujuk pada bentuk pulaunya yang mirip perahu yang tertambat di Maluku. Di sana, ia adalah saksi bisu saat Pattimura merebut Benteng Duurstede pada 1817. Sebuah pusat sejarah rempah yang lokasinya, tentu saja, dekat dengan Ambon. Lucunya, takdir membawa nama yang sama ke Bandung. Saparua di sini bukan benteng kolonial, melainkan sebuah GOR yang khas dengan aroma tanah merah di jogging track-nya, remaja yang bermain basket, dan sekarang juga jadi tempat komunitas sepatu roda meliuk-liuk di tengah lapangan. Lokasinya? Sebuah kebetulan yang manis, ia juga bertetangga dengan Jalan Ambon. Namun, jika Saparua di Timur adalah saksi perjuangan melawan penjajah, Saparua di Bandung adalah rahim bagi perlawanan budaya. Konon di era 90-an, tempat ini menjadi saksi bisu lahirnya energi underground. Di sinilah band seperti Burgerkill hingga Rocket Rockers mengawali karier, mengubah distorsi menjadi sejarah. Tapi kemarin, tanpa maksud mengkhianati sejarah, saya jalan di sini malah mendengarkan Bernadya.
Catatan dari Gunung Putri

Seperti yang dikisahkan dalam Tremendous Trifles-nya Chesterton, Setan adalah pemandu Gunung Alpine yang paling terkenal. Ia mengajak orang-orang ke puncak Alpine untuk menunjukan semua kerajaan di muka bumi. Mereka yang diajaknya lalu gembira saat berdiri di puncak. Tapi karena pengaruhnya, bukan kegembiraan karena memaknai kebesaran yang mereka peroleh, melainkan kegembiraan dalam menyaksikan betapa kecil segalanya. Bahwa semua orang tampak seperti serangga di bawah kaki mereka. Kalau nanti itu yang didapat, apa pagi ini masih perlu kita ke puncak? Sedang dari lembah, gunung sudah tampak besar, langit sudah tampak tinggi? Ya! Jawabnya, karena bukan kegembiraan itu yang setan tawarkan buat kita. Cukup kegembirariaan dengan foto untuk dibagikan di sosmed. Itu saja sudah kalah.
Bagaimana membuktikan mens rea?

Di seberang Korea National Assembly Building (2023) Korea National Assembly Building yang luluh lantah akibat bom di film Designated Survivor: 60 Days (2019) “Bagaimana membuktikan mens rea?” adalah pertanyaan yang saya tuliskan beberapa waktu yang lalu pada aplikasi Chat Generative Pre-training Transformer (GPT). Memang kalau lagi resah saya sering iseng-iseng bertanya ke ChatGPT. Biasanya bukan jawaban yang benar yang saya cari, melainkan lebih kepada penstrukturan pikiran saja. Buat saya menanyakannya lebih penting daripada mendapatkan jawabannya apalagi kepada chatGPT. “Actus reus non facit reum nisi mens sit rea” adalah frase populer dalam common law yang artinya “tindakan tidak membuat seseorang bersalah kecuali niatnya jahat”. Itu yang membuat saya resah. Bagaimana manusia membuktikan mens rea (niat jahat), sementara malaikat saja hanya diminta mencatat tindakan.
Jatuh Cinta Seperti di Teori-Teori Relativitas Umum Einstein

Seperti kita yang meminta ruang-waktu untuk melengkung, seperti itu juga ruang-waktu yang melengkung meminta kita untuk bergerak. Begitulah jatuh cinta seperti di teori-teori relativitas umum Einstein.
Catatan dari Bukber Startup Bandung

Start-nya mungkin tidak semua sama. Up-nya juga beda-beda, ada yang cepat, banyak yang lambat. Karena banyak jalan yang rusak juga sih di Bandung. Ada yang bilang Peter Pan syndrome. Ingin stay small karena mendapat banyak keuntungan. Tapi tidak menurut saya. Waktunya saja yang relatif. Ia berjalan berbeda-beda buat tiap orang. Dan bukan karena kesamaan baju yang sama-sama putih orang-orang ini berkumpul. Bukan. Tetapi karena sama-sama terbiasa mencari solusi dari suatu masalah. Dan kebetulan Bandung sedang tidak baik-baik saja hari-hari ini. ~sudah coba ditonedown ya daripada saya sebut sedang bermasalah~ Jadi ya semoga komunitas ini bisa saling bantu antar anggotanya dan syukur-syukur bisa bantu kotanya juga. Harapan ini mah ya.