Panji Prabowo

Menelusuri Labirin Kuning: Review Film ‘Backrooms’ (2026)

Saya agak telat sebenarnya mengetahui kehebohan internet saat Kane Parsons, pemuda yang belum genap berusia 20 tahun, merilis seri found footage Backrooms di YouTube 2019 silam. Saya baru mengetahuinya 2-3 tahun lalu saat kehebohan itu telah berubah menjadi mitologi. Dan kini mitologi ini bertransformasi menjadi fenomena sinematik di bawah bendera A24. Lonjakan karier Parsons dari content creator menjadi sutradara film panjang adalah cerita sukses yang luar biasa; dengan budget hanya $10 juta (sangat minim untuk ukuran blockbuster Hollywood), film ini meraup pendapatan luar biasa sebesar $110 juta. Menariknya, Parsons berhasil mengolah lore yang awalnya bersifat crowd-sourced world building (hasil kolektif imajinasi netizen) menjadi sebuah visi tunggal yang tetap menghormati akar digitalnya. Saya baru menontonnya kemarin malam di CGV Kings Bandung, dan hal pertama yang membuat Saya terpaku di kursi bioskop adalah bagaimana Parsons menerjemahkan estetika liminal space ke layar lebar dengan presisi yang menghipnotis. Visualnya dipenuhi koridor kuning tak berujung, kolam air ganjil, dan arsitektur mustahil yang menciptakan sensasi vertigo serta klaustrofobia. Alih-alih mengandalkan CGI berlebihan, penggunaan set praktis dengan lensa fisheye dan sudut pandang lebar membuat ruang transisi ini terasa sangat nyata. Salah satu momen yang paling membekas buat saya adalah adegan pohon Natal; sebuah visual yang seharusnya hangat namun di sini justru memicu kepanikan luar biasa, membuktikan bahwa Parsons sangat mahir memelintir simbol kenyamanan menjadi teror yang ganjil. Kengerian visual tersebut didukung oleh desain suara yang menurut saya sangat jenius sekaligus menyiksa telinga. Sepanjang durasi, kita dihajar oleh dengung lampu fluoresen yang membuat saraf terus menegang. Skor ambiennya yang berdenyut seolah menekan dada penonton tanpa henti. Detail audio yang paling mengejutkan adalah sisipan rekaman suara yang dikirim astronot ke luar angkasa, berisi sapaan dalam berbagai bahasa. Dan mendadak mendengar sapaan dalam Bahasa Indonesia di tengah kesunyian labirin kuning tersebut memberikan efek uncanny yang luar biasa bagi saya sendiri; rasanya seperti menemukan jejak kemanusiaan yang sudah lama membusuk di ruang hampa. Namun, film ini tidak membiarkan dirinya menjadi sekadar parade estetika kosong. Performa Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, pemilik toko furnitur bernama Cap’n Clark’s Ottoman Empire, memberikan landasan emosional yang sangat pahit. Clark digambarkan bukan sebagai pahlawan, melainkan pria yang hancur oleh alkoholisme, kegagalan bisnis, dan kebencian mendalam terhadap istrinya sendiri. Hubungannya dengan sang terapis, Mary (Renate Reinsve), mengubah arah narasi menjadi eksplorasi trauma yang sangat privat. Akting mereka membuat kita menyadari bahwa Backrooms di sini bukan sekadar labirin fisik, melainkan wadah bagi jiwa-jiwa yang terisolasi untuk berhadapan dengan kehancuran mental mereka. Saya melihat Backrooms sebagai metafora cerdas mengenai kondisi pikiran yang retak akibat trauma. Ruangan-ruangan kosong yang miring secara curam mencerminkan kegagalan pikiran manusia dalam melakukan sintesis terhadap rekaman pengalaman masa lalu untuk membentuk pemahaman yang koheren. Koridor kuning ini adalah representasi dari memori yang terdistorsi, di mana setiap perabot yang cacat bentuk adalah hasil konkret dari malfungsi imajinasi produktif manusia. Ini adalah horor psikologis dalam bentuk paling murni; sebuah pengingat bahwa saat kita mencoba mengisi kekosongan jiwa dengan ingatan yang salah, kita justru menciptakan narasi yang menyeramkan bagi diri kita sendiri. Jika dibedah lebih dalam, film ini adalah contoh murni dari simulakra fase keempat milik Jean Baudrillard—sebuah hiperrealitas yang tidak lagi memiliki kaitan dengan realitas asli. Kita bisa melihat ini pada “Monster Kapten Clark”, maskot bajak laut dari toko furniturnya yang bermutasi menjadi entitas pembunuh; sebuah simbol komersial hampa yang kini menjadi penguasa realitas baru. Belum lagi kemunculan kembaran Mary yang membisu di ruang interogasi akhir, sebuah replika yang lahir langsung dari trauma segar. Secara kosmologis, struktur ini menyerupai konsep “Demiurge” dalam tradisi Gnostik—seorang arsitek buta spiritual yang membangun dunia material cacat dari sisa memori kolektif manusia untuk menjebak jiwa-jiwa di dalamnya. Tentu saja, arah plot yang sangat personal ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar garis keras creepypasta. Banyak yang kecewa karena film ini lebih fokus pada breakdown psikologis karakter daripada menyajikan teror monster tradisional atau stakes nyawa yang tinggi. Kritik tajam juga tertuju pada mekanik film yang membolehkan Clark keluar-masuk Backrooms sesuka hati melalui jalan rahasia di bawah tokonya. Bagi saya pribadi, poin ini memang agak merusak esensi horor ruang liminal yang seharusnya menjebak tanpa jalan keluar. Rasa putus asa yang menjadi ciri khas lore aslinya terasa sedikit berkurang karena Clark seolah-olah memiliki “pintu darurat” menuju dunia nyata. Kelemahan paling terasa ada pada babak ketiga yang berfungsi sebagai bagian pengungkapan. Setelah dua babak pertama yang sangat memikat secara atmosferik, bagian akhir film ini justru terasa agak hollow atau tidak tuntas. Ada perasaan tidak puas saat cerita mencoba memberikan konklusi yang terlalu ambigu bagi penonton mainstream. Meskipun konsep dimensi kopian realitas ini sangat menarik untuk didiskusikan, eksekusinya di bagian akhir terasa sedikit janggal dan meninggalkan lubang narasi yang membuat rasa penasaran yang sudah dibangun sejak awal tidak terbayar dengan kepuasan maksimal. Terlepas dari kekurangannya, Backrooms tetaplah sebuah karya yang sangat menyegarkan di tengah gempuran horor jump-scare murahan. Bagi saya, film ini adalah seni atmosferik yang berani, sebuah slow-burn horor yang berhasil menangkap kegelisahan zaman digital melalui lensa trauma manusia yang universal. Kane Parsons telah membuktikan dirinya mampu membawa estetika internet yang abstrak ke dalam bentuk narasi yang memiliki bobot filosofis. Sebagai sebuah debut film panjang, ini adalah pencapaian yang sangat impresif dan ambisius. Untuk pengalaman sinematik yang unik, menghipnotis, dan penuh dengan kengerian eksistensial ini, Saya memberikan skor akhir 7,5/10.

Mengelilingi Ternate dalam Tiga Jam

Beberapa hari yang lalu, takdir pekerjaan membawa saya ke Ternate. Sebuah pulau yang berabad-abad lalu menjadi episentrum perebutan rempah oleh Portugis dan Belanda. Niat awalnya murni profesional: mengisi pelatihan digitalisasi untuk Bank Indonesia Maluku Utara. Namun, begitu pesawat merendah dan mata saya menangkap siluet megah Gunung Gamalama yang dikepung lautan, sebuah pikiran impulsif mendadak muncul: Kayaknya seru kalau keliling pulau ini naik motor. Setelah memeriksa peta, lingkar luar pulau ini ternyata tidak terlalu besar—hanya sekitar 42 hingga 52 Km. Maka di sebuah sore, memanfaatkan waktu luang yang terselip di antara jadwal kerja, tekad saya bulat. Tanpa rencana matang, hanya bermodal Google Maps dan rasa penasaran, saya meminjam motor. Metodenya sederhana: bergerak melawan arah jarum jam (counter-clockwise), dimulai ke arah utara. Inilah 50 kilometer perjalanan impromptu saya selama 3 jam 2 menit, mengitari Pulau Ternate, tempat kaki raksasa Gamalama menjejak. Titik Start: Hotel Gwen (16.09) Hotel tempat saya menginap berada persis di seberang Mall Jatiland, area yang cukup ramai di pusat kota. Dari sini, petualangan dimulai. Titik 1: Benteng Tolukko (16.17) Hanya butuh 8 menit (3 Km) untuk sampai ke sini. Benteng ini dibangun oleh kapten Portugis dan awalnya dinamai Santo Lucas. Berada di atas tebing batu, posisinya sangat strategis untuk mengawasi lautan sekaligus menyimpan cengkeh. Konon, nama “Tolukko” lahir karena lidah masyarakat lokal yang kesulitan melafalkan “Santo Lucas.” Saya menghabiskan 15 menit di sini, menikmati angin laut dari dinding benteng tua yang masih kokoh. Titik 2: Batu Angus (16.43) Berjarak 5 Km dari Tolukko, tempat ini menyajikan visual yang dramatis sekaligus ngeri: hamparan batu vulkanik hitam legam sisa letusan hebat Gunung Gamalama pada tahun 1737 dan 1907. Berada di sini memicu perasaan ganjil. Apalagi beberapa hari sebelum kedatangan saya, Gunung Dukono di Halmahera Utara, yang letaknya berseberangan pulau, baru saja meletus dan memakan korban turis. Alam di sini sangat indah, tapi ia juga tidak pernah lupa mengingatkan kita akan kekuatannya. Di sini saya menghabiskan waktu 20 menit untuk foto-foto dan juga berbincang singkat dengan beberapa turis dari Korea. Titik 3: Laugh Tale (17.05) Hanya 3 menit dari Batu Angus, saya menemukan titik di Google Maps yang bertuliskan “Laugh Tale.” Bagi penggemar One Piece, ini jelas nama pulau terakhir tempat harta karun legendaris berada. Tentu saja, di Ternate tidak ada One Piece (sayangnya). Tapi tempat ini menjadi titik singgah yang manis karena menawarkan pemandangan langsung ke Pulau Hiri di seberang sana. Titik 4: Pantai Jikomalamo (17.35) Bergerak 5,5 Km lagi ke barat, saya tiba di Jikomalamo. Pantai ini adalah salah satu sunset point terbaik dengan latar Pulau Hiri yang eksotis. Saat saya sampai, matahari masih butuh satu jam lagi untuk benar-benar tenggelam, tetapi gradasi warna langit senjanya sudah lebih dari cukup untuk memanjakan mata. Titik 5: Danau Tolire Besar (17.58) Melewati Tolire Kecil yang tampak biasa dari pinggir jalan, saya langsung menuju Tolire Besar. Danau ini dipenuhi mitos. Penjual di sekitar lokasi bercerita tentang buaya putih siluman yang menjaga danau, hingga mitos paling populer: tidak ada satu pun orang yang bisa melempar batu hingga menyentuh permukaan air danau dari atas tebing. Batu itu dipercaya akan “ditelan” kekuatan gaib. Plot twist-nya: dua hari setelah perjalanan ini, saya kembali ke sini bersama dua orang teman. Dan mitos kedua, ternyata murni masalah prespektif, bias visual, dan ekspektasi saja. Kami bisa melihat batu yang dilempar menyentuh permukaan. Tapi detail fisika di baliknya tidak akan saya bocorkan di sini. Kalau nanti kamu ke sana, ajak saya, baru akan saya ceritakan. https://panji.prabowo.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Video-2026-05-16-at-18.01.46.mp4 Titik 6: Makam Sultan Baabullah (18.35) Perjalanan terjauh adalah dari Tolire menuju sisi barat pulau (15 Km). Jalurnya berkelok-kelok sepi ditemani matahari terbenam. Satu-satunya “hambatan” di sini adalah kawanan kambing gembala yang dibiarkan bebas dan hobi menyeberang jalan mendadak. Tujuan saya adalah makam Sultan Baabullah, pahlawan nasional yang berhasil mengusir Portugis pada 1575 dan membawa Ternate ke puncak kejayaan maritimnya. Sayangnya, saya tidak sampai ke titik makam. Selain karena hari sudah maghrib dan saya sungkan dengan warga desa Foramadiahi yang sedang berduyun-duyun ke masjid, tanjakan lereng Gamalama di titik ini terlalu ekstrem untuk motor matic yang saya pinjam ini. Catatan untuk masa depan: ke sini harus siang hari. Titik 7: Pantai Fitu (18.50) Spot terakhir sebelum kembali ke kota. Pantai ini sangat terkenal karena sudut pandangnya menghadap Pulau Maitara dan Tidore—persis seperti lukisan di uang kertas Rp1.000 emisi tahun 2000. Karena saya tiba saat hari sudah gelap, pesonanya agak meredup di mata. Saya hanya mengambil beberapa foto cepat selama 5 menit. Titik Finish: Hotel Gwen (19.11) Setelah berkendara 17 menit dari Pantai Fitu, saya kembali ke titik semula. Tiga jam dua menit untuk mengitari sebuah pulau yang pernah mengubah sejarah dunia karena buah cengkehnya. Sebuah perjalanan dadakan yang menyenangkan. Ternate, kamu seru!

Saparua

Saparua berasal dari kata Sapanorua—dua sampan. Mungkin merujuk pada bentuk pulaunya yang mirip perahu yang tertambat di Maluku. Di sana, ia adalah saksi bisu saat Pattimura merebut Benteng Duurstede pada 1817. Sebuah pusat sejarah rempah yang lokasinya, tentu saja, dekat dengan Ambon. Lucunya, takdir membawa nama yang sama ke Bandung. Saparua di sini bukan benteng kolonial, melainkan sebuah GOR yang khas dengan aroma tanah merah di jogging track-nya, remaja yang bermain basket, dan sekarang juga jadi tempat komunitas sepatu roda meliuk-liuk di tengah lapangan. Lokasinya? Sebuah kebetulan yang manis, ia juga bertetangga dengan Jalan Ambon. Namun, jika Saparua di Timur adalah saksi perjuangan melawan penjajah, Saparua di Bandung adalah rahim bagi perlawanan budaya. Konon di era 90-an, tempat ini menjadi saksi bisu lahirnya energi underground. Di sinilah band seperti Burgerkill hingga Rocket Rockers mengawali karier, mengubah distorsi menjadi sejarah. Tapi kemarin, tanpa maksud mengkhianati sejarah, saya jalan di sini malah mendengarkan Bernadya.

Catatan dari Gunung Putri

Seperti yang dikisahkan dalam Tremendous Trifles-nya Chesterton, Setan adalah pemandu Gunung Alpine yang paling terkenal. Ia mengajak orang-orang ke puncak Alpine untuk menunjukan semua kerajaan di muka bumi. Mereka yang diajaknya lalu gembira saat berdiri di puncak. Tapi karena pengaruhnya, bukan kegembiraan karena memaknai kebesaran yang mereka peroleh, melainkan kegembiraan dalam menyaksikan betapa kecil segalanya. Bahwa semua orang tampak seperti serangga di bawah kaki mereka. Kalau nanti itu yang didapat, apa pagi ini masih perlu kita ke puncak? Sedang dari lembah, gunung sudah tampak besar, langit sudah tampak tinggi? Ya! Jawabnya, karena bukan kegembiraan itu yang setan tawarkan buat kita. Cukup kegembirariaan dengan foto untuk dibagikan di sosmed. Itu saja sudah kalah.

Bagaimana membuktikan mens rea?

Di seberang Korea National Assembly Building (2023) Korea National Assembly Building yang luluh lantah akibat bom di film Designated Survivor: 60 Days (2019) “Bagaimana membuktikan mens rea?” adalah pertanyaan yang saya tuliskan beberapa waktu yang lalu pada aplikasi Chat Generative Pre-training Transformer (GPT). Memang kalau lagi resah saya sering iseng-iseng bertanya ke ChatGPT. Biasanya bukan jawaban yang benar yang saya cari, melainkan lebih kepada penstrukturan pikiran saja. Buat saya menanyakannya lebih penting daripada mendapatkan jawabannya apalagi kepada chatGPT. “Actus reus non facit reum nisi mens sit rea” adalah frase populer dalam common law yang artinya “tindakan tidak membuat seseorang bersalah kecuali niatnya jahat”. Itu yang membuat saya resah. Bagaimana manusia membuktikan mens rea (niat jahat), sementara malaikat saja hanya diminta mencatat tindakan.

Catatan dari Bukber Startup Bandung

Start-nya mungkin tidak semua sama. Up-nya juga beda-beda, ada yang cepat, banyak yang lambat. Karena banyak jalan yang rusak juga sih di Bandung. Ada yang bilang Peter Pan syndrome. Ingin stay small karena mendapat banyak keuntungan. Tapi tidak menurut saya. Waktunya saja yang relatif. Ia berjalan berbeda-beda buat tiap orang. Dan bukan karena kesamaan baju yang sama-sama putih orang-orang ini berkumpul. Bukan. Tetapi karena sama-sama terbiasa mencari solusi dari suatu masalah. Dan kebetulan Bandung sedang tidak baik-baik saja hari-hari ini. ~sudah coba ditonedown ya daripada saya sebut sedang bermasalah~ Jadi ya semoga komunitas ini bisa saling bantu antar anggotanya dan syukur-syukur bisa bantu kotanya juga. Harapan ini mah ya.

ChatGPT dan NYST Awards Kemenpora

Seminggu terakhir ini ramai orang bermain-main dengan Avatar AI, Dall-E, ChatGPT atau juga Playground OpenAI. Cukup banyak setidaknya berdasarkan yang berseliweran di group whatsapp dan feed instagram saya. Tapi nyatanya memang salah satu yang saya sebut itu mendapatkan 1 juta pengguna semingguan ini. Biasanya teman-teman berkomentar seputar kekaguman atas kecanggihan, potensi pemanfaatan, ketakutan atas disrupsi yang mungkin terjadi atau sekedar ikut seru-seruan saja. Umumnya begitu, termasuk saya. Juga seminggu yang lalu saya diajak untuk berdiskusi dengan teman-teman inovator muda. Tidak banyak, cuma 10 orang yang menjadi finalis National Youth Science & Technology Awards yang dipilih oleh Kemenpora, tapi datanya hampir 400 inovator yang mendaftar. Diskusi kami berkisar tentang siklus inovasi, bagaimana membuat inovasi yang dipakai masyarakat, cara biar berkelanjutan dan berdampak. Karena itu umumnya yang jadi concern, termasuk saya juga. ** Di atas itu hanyalah cerita 2 kejadian yang tidak berhubungan yang saya tuliskan dalam satu caption yang sama dengan pola yang mirip. Bukan maksud untuk membahas 1 juta vs 400 atau banyaknya pengguna vs sedikitnya inovator. Karena khittahnya memang begitu. Walau memang kalau mau dibahas takutnya ujungnya seperti jawaban normatif politisi pada umumnya ‘ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama’. Pun demikian mungkin perlu dibahas cara meningkatkan gairah dan jumlah inovator dan inovasinya, mungkin juga perlu dibahas cara meningkatkan innovation readiness level nya biar ramai dan juga seru, dan mungkin juga paling dasarnya perlu dibahas cara memperbaiki infrastrukturnya. Tapi tidak usah sekarang. Sekarang sudah adzan Isya. Sekarang cukup seperti perlakuan saya terhadap pintu ketika keluar ruang rapat ber-AC, saya tutup saja.

Historical Nostalgia

Dalam film Midnight in Paris karakter Owen Wilson memiliki ketertarikan atau malah kerinduan yang mendalam pada periode 1920an. Kerinduan yang aneh sebenarnya karena dia tidak pernah merasakan hidup pada periode waktu tersebut. Orang-orang di keilmuan psikologi menamai itu sebagai historical nostalgia. Kontras dengan personal nostalgia yang melulu berkaitan dengan kenangan. Contoh sekarang di bulan Desember, dan pada orang-orang dari periode 90an muncul perasaan nostalgia terhadap film Home Alone. Perasaan tersebut muncul karena kenangan mereka di waktu seperti ini pada liburan akhir tahun dulu menontonnya Home Alone. Itu personal nostalgia. Historical nostalgia tidak berkaitan dengan kenangan personal. Mungkin bisa dikatakan akibat dari imajinasi atau fantasi akan pesona dari periode waktu tertentu di masa lalu. Kalau secara psikologis mungkin hal ini ada relasinya dengan perasaan sinis atau ketidakpuasan pada masa kini. Seperti yang disebut salah satu karakter dalam film tersebut juga “Nostalgia is denial of the painful present”. Untungnya karakter Owen Wilson berkesempatan bisa menjelajah waktu kembali ke periode masa yang idam-idamkan. Dan akhirnya —maaf spoiler buat yang belum nonton— sadar kalau ternyata masa itu juga tidak seindah yang ia bayangkan, dan masa kini tidak seburuk yang ia nilai. Tapi walau kita tidak seberuntung Owen Wilson untuk bisa menjelajah waktu ke masa lalu, mudah-mudah kita bisa sebijak dia dalam mengambil hikmahnya.